Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR Epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, mengatakan, setelah pandemi covid-19 terjadi penurunan kekebalan komunal. Hal ini juga menjadi penyebab terjadinya peningkatan kasus campak.
"Lalu bicara tahun ini, tahun lalu, ya kondisinya apalagi di masa pandemi, segera setelah pandemi, itu terjadi penurunan cakupan vaksinasi," ujar Dicky dilansir dari Metrotvnews.com.
Dia menjelaskan, secara saintis, faktor utama peningkatan kasus campak karena penurunan cakupan vaksinasi campak lengkap. Vaksinasi campak dilakukan sebanyak dua dosis dengan target harus di atas 94 persen.
"Nah kalau kedua cakupannya ini di bawah itu, maka potensi terjadi outbreak campak menjadi meningkat risikonya," jelasnya.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan melaporkan temuan penyakit campak di Indonesia telah mencapai 10.301 kasus terkonfirmasi hingga pertengahan Maret 2026. Data tersebut mencakup 13.046 suspek dengan angka kematian sebanyak delapan jiwa. Tercatat adanya 54 Kejadian Luar Biasa (KLB) yang tersebar di 37 kabupaten/kota di 13 provinsi.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni meminta, masyarakat tetap waspada meski tren menunjukkan penurunan sejak akhir Februari.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mempercepat pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) dan Imunisasi Kejar Campak-Rubella (MR) di wilayah terdampak maupun zona berisiko. Program imunisasi ini diberikan secara gratis di 102 kabupaten/kota dengan sasaran utama anak usia 9 - 59 bulan.
Layanan ini disediakan di berbagai titik strategis agar mudah dijangkau, mulai dari Puskesmas, Posyandu, sekolah (TK/PAUD), tempat ibadah, hingga tersedia di pos pelayanan mudik Lebaran.
"Pemerintah terus melakukan respons cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas," ujar Andi. (Z-2)
Kepala Dinkes Depok Devi Maryori menekankan pencegahan campak melalui pemantauan, imunisasi, dan edukasi kesehatan masyarakat.
Vaksin campak berisi virus campak yang sudah dilemahkan sehingga ia tidak memiliki kemampuan untuk menyebabkan infeksi berat pada orang yang diberikan vaksin.
Campak bukan sekadar penyakit ringan dengan ruam merah di kulit. Di balik gejalanya yang tampak sederhana, virus ini dapat menyerang paru-paru hingga otak.
Waspadai bahaya campak yang bisa memicu komplikasi fatal seperti radang otak dan pneumonia. Cek gejala terbaru dan data kasus 2026 di sini.
Penyakit ini disebabkan virus yang menular melalui percikan air liur saat batuk atau bersin, kontak langsung dengan penderita, atau benda yang terkontaminasi virus.
Cakupan imunisasi campak dan rubela (MR) rendahdi 2022, Kemenkes temukan 469 anak bergejala campak dan rubela di Papua Tengah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved