Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
Kasus campak kembali meningkat di berbagai negara. World Health Organization dan Centers for Disease Control and Prevention sama-sama menyoroti kondisi ini sebagai sinyal bahaya. Penyebabnya bukan virus baru, melainkan turunnya cakupan vaksinasi dalam beberapa tahun terakhir.
Campak adalah penyakit yang sangat menular. Virusnya menyebar lewat udara saat penderita batuk atau bersin. Dalam kondisi tertentu, virus bisa bertahan di udara hingga dua jam. Artinya, seseorang tetap bisa tertular meski tidak kontak langsung dengan penderita. Data CDC menunjukkan, sembilan dari sepuluh orang yang belum divaksin berisiko tertular jika terpapar.
WHO mencatat masih ada puluhan ribu kematian akibat campak setiap tahun secara global. Banyak kasus terjadi di negara dengan tingkat imunisasi yang menurun. Ketika vaksinasi tidak merata, virus punya ruang untuk menyebar lebih cepat.
Situasi ini membuat sejumlah negara kembali menetapkan status waspada. Lonjakan kasus biasanya muncul di wilayah dengan kelompok masyarakat yang belum atau tidak lengkap menerima vaksin. Dalam kondisi seperti ini, satu kasus bisa berkembang menjadi wabah dalam waktu singkat.
Campak sering dianggap penyakit ringan karena ditandai dengan ruam. Padahal, dampaknya bisa jauh lebih serius. Gejala awal biasanya berupa demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Setelah itu muncul ruam yang menyebar ke seluruh tubuh.
Komplikasi bisa terjadi, terutama pada anak-anak. Infeksi ini dapat berkembang menjadi pneumonia, radang otak, hingga kematian. Karena itu, tenaga medis menegaskan campak tidak boleh diremehkan.
Pencegahan paling efektif adalah vaksinasi. WHO dan CDC menyebut dua dosis vaksin campak mampu memberikan perlindungan hingga sekitar 97%. Tanpa vaksin, risiko tertular meningkat drastis.
Masyarakat diminta memastikan status imunisasi, terutama pada anak-anak. Remaja dan orang dewasa yang belum yakin dengan riwayat vaksinasi juga disarankan untuk melakukan pengecekan. Dalam banyak kasus, vaksin ulang dianggap lebih aman daripada tidak terlindungi sama sekali.
Selain vaksin, ada langkah pencegahan lain yang bisa dilakukan. Hindari kontak dengan penderita, terutama di ruang tertutup. Jika ada kasus di sekitar, batasi interaksi dan gunakan perlindungan seperti masker.
Penderita juga perlu menjalani isolasi setidaknya beberapa hari setelah ruam muncul. Langkah ini penting untuk memutus rantai penularan. Jika seseorang terpapar dan belum divaksin, tenaga medis dapat memberikan penanganan awal untuk menurunkan risiko infeksi.
Kenaikan kasus campak menunjukkan perlindungan masyarakat sedang melemah. Penyakit ini sebenarnya bisa dicegah sepenuhnya jika cakupan vaksin tinggi dan merata.
Status waspada bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai pengingat. Campak bisa menyebar cepat, tetapi juga bisa dihentikan dengan langkah yang tepat. Kuncinya sederhana: vaksinasi lengkap dan respons cepat saat ada kasus. (WHO/CDC/E-3)
asus campak kembali menjadi perhatian setelah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan bahwa bayi berusia di bawah 9 bulan sangat berisiko terinfeksi.
WAKIL Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan vaksinasi campak dewasa seperti untuk tenaga kesehatan (nakes) butuh studi efikasi dari Badan POM.
Dokter muda dilaporkan meninggal dunia di Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada 26 Maret 2026 akibat penyakit campak yang disertai komplikasi pneumonia.
INFORMASI keliru mengenai keamanan vaksin campak beredar di media sosial. salah satu unggahan di Facebook yang dikutip dari AFP Fact Check pada Kamis (26/3), menyebut vaksin campak tak aman
Mengapa banyak orang tua menolak vaksin campak pada anak anak? Simak analisis mendalam mengenai misinformasi, faktor agama, hingga psikologi di balik keraguan vaksin.
JUMLAH kasus campak yang sedang berlangsung di Texas Barat bertambah satu kasus dalam laporan terbaru dari Departemen Kesehatan Negara Bagian Texas, total 718 kasus dicatat
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved