Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS campak tidak hanya mengancam anak-anak, tetapi juga dapat menyerang orang dewasa, terutama mereka yang tidak memiliki riwayat imunisasi yang jelas atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Pengamat kesehatan dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Hermawan Saputra menekankan bahwa risiko campak pada orang dewasa perlu dikaji berdasarkan latar belakang imunisasi dan kondisi kesehatan masing-masing individu.
"Untuk campak pada orang dewasa memang harus dilihat kembali risiko dan juga latar belakangnya. Boleh jadi orang-orang lupa apakah pernah divaksin campak sejak kecil atau bayi, itu bagian dari imunisasi wajib atau lengkap. Tapi kalau orang lupa, di saat dewasa bisa melakukan vaksinasi," kata Hermawan, Sabtu (28/3).
Ia menjelaskan bahwa vaksinasi pada orang dewasa tetap memungkinkan dilakukan, bahkan dengan skema dosis tertentu. Namun demikian, Hermawan mengingatkan bahwa ada kelompok dengan risiko lebih tinggi terhadap infeksi campak, yakni mereka yang memiliki penyakit bawaan atau gangguan sistem imun.
"Pada orang-orang tertentu dengan penyakit bawaan, kelainan hormonal, kemudian dia memiliki imunitas yang berbeda. Ada orang-orang dengan penyakit lupus, HIV, itu pasti risikonya lebih besar," jelasnya.
Selain itu, individu dengan komorbid juga perlu meningkatkan kewaspadaan, karena pada prinsipnya campak dapat menyerang siapa saja.
"Intinya campak bisa mengenai siapapun. Tentu cara terbaiknya adalah vaksinasi," tegasnya.
Lebih lanjut, Hermawan menambahkan, bagi individu yang akan bepergian ke wilayah dengan kasus campak, vaksinasi tambahan sangat dianjurkan.
"Kalau ke daerah yang memang ada campak, bisa dilakukan double vaksinasi. Nah hal-hal ini harus dilakukan sehingga siapapun itu, apakah dokter, non-dokter, anak, remaja, dewasa, semua akan bisa terlindungi, apalagi yang memiliki kelainan bawaan atau komorbid," ujarnya.
Hermawan pun mengingatkan bahwa gejala campak kerap menyerupai infeksi virus lainnya, sehingga masyarakat perlu lebih waspada.
"Karena gejala campak pada prinsipnya juga hampir sama dengan virus-virus lain. Gejala yang menyebabkan demam tinggi juga nanti akan diikuti ruam khasnya," tuturnya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya antisipasi, khususnya di wilayah yang telah teridentifikasi memiliki kasus campak, mengingat sifat penularannya yang sangat cepat.
"Maka itu perlu diantisipasi terutama pada daerah-daerah yang memang sudah teridentifikasi ada kasus campak karena sifat penularannya," pungkasnya. (H-2)
Pemkot Bandung menggencarkan vaksinasi campak balita dengan jadwal mingguan untuk mencegah penyebaran rubela.
Kasus campak di Indonesia capai 10.301. Pakar sebut penurunan vaksinasi pascapandemi jadi penyebab utama meningkatnya kasus.
Kepala Dinkes Depok Devi Maryori menekankan pencegahan campak melalui pemantauan, imunisasi, dan edukasi kesehatan masyarakat.
Vaksin campak berisi virus campak yang sudah dilemahkan sehingga ia tidak memiliki kemampuan untuk menyebabkan infeksi berat pada orang yang diberikan vaksin.
Campak bukan sekadar penyakit ringan dengan ruam merah di kulit. Di balik gejalanya yang tampak sederhana, virus ini dapat menyerang paru-paru hingga otak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved