Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGEMBALIKAN rutinitas olahraga setelah sebulan penuh berpuasa tidak boleh dilakukan secara terburu-buru. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga lulusan Universitas Indonesia, dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO, memperingatkan adanya risiko kesehatan serius jika seseorang memaksakan diri berolahraga dengan intensitas tinggi secara mendadak.
"Memaksakan diri kembali ke porsi normal atau lebih tinggi secara mendadak meningkatkan risiko mulai dari cedera sampai terkena sindrom overtraining," ujar Andi, dikutip Rabu (1/4).
Menurut Andi, beban latihan yang melebihi kapasitas adaptasi jaringan dapat memicu cedera Muskuloskeletal, seperti:
Selain cedera fisik, individu juga berisiko mengalami Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) atau nyeri otot ekstrem yang dapat mengganggu aktivitas harian.
Dalam kasus yang lebih fatal, olahraga berlebih tanpa hidrasi cukup bisa memicu Rhabdomyolysis.
"Meskipun jarang, ini bisa terjadi pada aktivitas berlebih tanpa hidrasi cukup," jelas dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya tersebut.
Rhabdomyolysis adalah kondisi kerusakan otot ekstrem yang melepaskan mioglobin ke dalam darah sehingga berisiko merusak ginjal.
Efek lain dari memaksakan fisik adalah sindrom overtraining atau kelelahan kronis. Kondisi ini tidak hanya melemahkan fisik, tetapi juga memicu gangguan tidur dan penurunan sistem imunitas tubuh.
Untuk menghindarinya, Andi menyarankan masyarakat untuk menaikkan beban atau durasi latihan secara bertahap (progresif) guna memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi kembali.
Selain pola latihan, pengaturan nutrisi menjadi faktor krusial dalam masa transisi ini. Andi menekankan pentingnya kembali ke pola makan gizi seimbang dengan fokus pada karbohidrat kompleks.
"Fokus pada karbohidrat kompleks sebagai sumber energi utama untuk mengisi kembali simpanan glikogen otot yang digunakan saat latihan," tambahnya.
Terkait asupan protein, merujuk pada pedoman International Society of Sports Nutrition (ISSN), individu yang aktif membutuhkan protein sekitar 1,6 hingga 2,2 gram per kg berat badan setiap harinya. Namun, kuncinya bukan sekadar pada jumlah, melainkan distribusi konsumsinya.
"Apakah harus lebih banyak? Tidak harus lebih banyak dari standar atlet/individu aktif biasanya, namun yang terpenting adalah distribusi protein. Disarankan mengonsumsi 20–40 gram protein berkualitas tinggi setiap 3–4 jam untuk memaksimalkan sintesis protein otot (Muscle Protein Synthesis)," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Suasana lingkungan yang kondusif hanya bisa tercipta jika terdapat hubungan harmonis antar pemeluk agama.
Jika kondisi tidak mereda dan terjadi gejala berat yang ditandai dengan nyeri ulu hati sangat hebat disertai muntah atau sesak napas, maka sebaiknya jangan memaksakan diri berpuasa.
puasa tidak hanya membawa spirit ilahiah, melainkan juga memiliki konstruksi nilai dan orientasi insaniyah.
Rasa lapar saat puasa berkaitan erat dengan komposisi menu sahur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved