Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orang tanpa sadar menjadikan makanan sebagai pelarian saat menghadapi stres atau tekanan hidup. Fenomena ini dikenal sebagai emotional eating, sebuah perilaku makan yang dipicu oleh kondisi emosional, bukan rasa lapar fisik.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Reisi Nurdiani, SP, MSi, menjelaskan bahwa aktivitas makan memang memiliki keterkaitan erat dengan psikologis seseorang.
"Emotional eating itu salah satu bentuk perilaku makan yang merujuk pada kecenderungan seseorang mengonsumsi makanan karena kendali emosi, bukan karena lapar," ujarnya dalam IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV.
Reisi memaparkan bahwa pemicu emotional eating tidak melulu emosi negatif seperti cemas atau sedih.
Perasaan bahagia pun bisa mendorong seseorang makan secara berlebihan sebagai bentuk perayaan. Masalah serius mulai muncul ketika kebiasaan ini dijadikan mekanisme utama untuk meredakan stres.
Menurut Reisi, ada beberapa tanda peringatan yang perlu diwaspadai:
Dalam dunia nutrisi, dikenal tiga jenis perilaku makan: emotional eating (berbasis emosi), external eating (dipicu tampilan makanan), dan restrained eating (pembatasan makan secara sadar).
Di antara ketiganya, emotional eating paling sering ditemukan pada kelompok remaja hingga dewasa awal.
"Pada masa remaja dan dewasa awal, performa tubuh sedang baik, tetapi tekanan juga tinggi, sehingga peluang terjadinya emotional eating menjadi lebih besar," jelas Reisi.
Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini berdampak buruk bagi kesehatan. Pelaku emotional eating cenderung memilih comfort food yang tinggi gula dan lemak.
Dalam jangka panjang, hal ini berisiko menyebabkan obesitas, penyakit degeneratif, hingga gangguan makan seperti *binge eating*.
Reisi menekankan bahwa kunci utama untuk memutus rantai ini bukanlah diet ketat, melainkan pengelolaan emosi.
"Yang pertama adalah kita harus mampu mengendalikan emosi, karena itu pemicu utamanya," tegasnya.
Beberapa langkah praktis yang disarankan untuk mengendalikan emotional eating meliputi:
Reisi menyarankan bagi mereka yang sudah terjebak dalam siklus ini untuk berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu guna menangani akar emosinya, sebelum mendapatkan pendampingan dari ahli gizi. Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa makanan bukanlah solusi utama untuk mengatasi stres. (Z-1)
Di dalam tubuh manusia, terdapat hormon tertentu yang bertugas mengatur nafsu makan, rasa kenyang, hingga rasa lapar.
Aturan pemberian makan anak atau feeding rules tidak hanya bicara soal apa yang dimakan, tetapi mencakup tiga pilar utama: jadwal, prosedur, dan lingkungan.
Istilah "makan terakhir" biasanya merujuk pada hidangan pamungkas yang diinginkan seseorang sebelum menutup usia.
Minat makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk variasi rasa dan aroma.
Pada fase krusial saat mengonsumsi MPASI, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai spektrum rasa agar mereka lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.
Langkah sederhana seperti melatih rasa syukur dan memaafkan diri sendiri merupakan cara efektif menjaga keseimbangan emosi di tengah tekanan pekerjaan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Puasa dapat meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein yang memiliki peran krusial dalam fungsi kognitif dan kemampuan seseorang dalam meregulasi emosi.
Pengendara wajib memiliki sisi emosional yang terkontrol agar tidak mengambil keputusan ceroboh yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
FILM drama Musuh Dalam Selimut siap hadir di layar Bioskop tanah air mulai 8 Januari 2026. Cinta segitiga yang penuh plot twist dan memancing emosi para penonton.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved