Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

6 Penyebab Aritmia pada Usia Muda yang Perlu Diwaspadai

Despian Nurhidayat
25/3/2026 13:28
6 Penyebab Aritmia pada Usia Muda yang Perlu Diwaspadai
Penyebab Aritmia pada Usia Muda.(Freepik)

DOKTER spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia Mayapada Hospital, Setiawan Widodo, mengatakan bahwa gangguan irama jantung atau aritmia dapat terjadi pada usia muda.

"Aritmia adalah gangguan irama jantung yang membuat detak jantung menjadi terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau tidak berirama," ujarnya, dilansir dari laman Mayapada Hospital Bandung, RABU (25/3).

Setiawan menjelaskan, aritmia terjadi akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang mengatur ritme detak. Dalam kondisi normal, jantung berdetak 60-100 kali per menit saat beristirahat. Namun, pada penderita aritmia, detak jantung bisa lebih cepat, lebih lambat, atau tidak teratur.

Menurutnya, aritmia pada usia muda dapat dipicu oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Konsumsi kafein dan minuman energi berlebihan, termasuk suplemen penurun berat badan yang dapat memicu peningkatan detak jantung.
  2. Zat stimulan terlarang, seperti amfetamin dan kokain, yang dapat meningkatkan risiko aritmia berat.
  3. Ketidakseimbangan elektrolit, terutama kalium, magnesium, dan kalsium, yang dapat terjadi akibat dehidrasi, kurang nutrisi, atau gangguan makan.
  4. Kelainan jantung bawaan, seperti Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) dan Long QT Syndrome, yang dapat menyebabkan detak jantung sangat cepat dan berbahaya.
  5. Gangguan tiroid, seperti hipertiroidisme (detak jantung cepat) dan hipotiroidisme (detak jantung lambat).
  6. Gaya hidup tidak sehat, seperti kurang tidur, merokok, konsumsi alkohol, dan stres kronis.

"Semua faktor ini membuat usia muda tetap berisiko mengalami aritmia," kata Setiawan.

Ia menambahkan, gejala aritmia sering kali tidak disadari karena cenderung ringan, seperti detak jantung tidak teratur, dada berdebar, pusing, dan mudah lelah.

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dapat dilakukan. EKG merupakan metode diagnostik non-invasif yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik jantung.

Setiawan menegaskan, jika mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan EKG dan pemeriksaan lanjutan agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Selain itu, aritmia juga dapat dicegah sejak dini dengan langkah sederhana, seperti membatasi konsumsi kafein dan minuman energi, tidur cukup, mengelola stres, menghindari penggunaan obat stimulan tanpa resep, mengonsumsi makanan bergizi, serta rutin memeriksakan kesehatan jantung, terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya