Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Kasus Campak Meningkat, IDAI Sebut Rendahnya Cakupan Imunisasi Jadi Pemicu KLB

Atalya Puspa    
28/2/2026 11:58
Kasus Campak Meningkat, IDAI Sebut Rendahnya Cakupan Imunisasi Jadi Pemicu KLB
Ilustrasi(Antara)

RENDAHNYA cakupan imunisasi di sejumlah daerah dinilai menjadi pemicu utama meningkatnya kasus campak hingga berujung Kejadian Luar Biasa (KLB). Kondisi ini menunjukkan masih lemahnya kekebalan kelompok di berbagai wilayah.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa campak merupakan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Ia menilai penyakit tersebut seharusnya tidak lagi menimbulkan korban jiwa apabila cakupan vaksinasi tercapai secara optimal.

Ia mencontohkan kasus kematian akibat campak di Kabupaten Sumenep pada 2025 yang merenggut 20 nyawa. Peristiwa itu menjadi bukti bahwa kekebalan komunitas di masyarakat belum terbentuk secara memadai.

“Problem di masalah campak ini sebetulnya adalah di cakupan imunisasi. Jadi penyakit ini termasuk penyakit PD3I, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” ujar Piprim dalam median briefing IDAI, Sabtu (28/2).

Menurut dia, meskipun program imunisasi disediakan secara gratis, berbagai kendala masih menghambat pelaksanaannya di lapangan. Hambatan tersebut antara lain keterbatasan akses layanan kesehatan, gangguan sistem rantai dingin atau cold chain yang menyebabkan vaksin rusak, hingga penolakan masyarakat terhadap vaksin atau vaccine hesitancy akibat beredarnya informasi keliru.

Ia menjelaskan, apabila cakupan imunisasi tidak mencapai ambang batas pembentukan herd immunity atau kekebalan kelompok, potensi kemunculan kasus campak akan meningkat di berbagai wilayah.

“Sehingga ketika cakupan imunisasi tidak cukup untuk herd immunity, untuk kekebalan komunitas, maka mulailah bermunculan campak ini,” katanya.

Piprim mengingatkan bahwa tingkat penularan campak jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19. Karena itu, dibutuhkan cakupan imunisasi yang tinggi agar penyebaran penyakit tersebut dapat dicegah secara efektif.

Penurunan cakupan imunisasi hingga sekitar 60 persen disebut sudah cukup untuk memicu terjadinya KLB di sejumlah daerah. Ia menambahkan, pengiriman tenaga medis tanpa diimbangi ketersediaan vaksin tidak akan efektif menekan kasus campak. Gangguan distribusi maupun kerusakan vaksin dapat berdampak langsung terhadap peningkatan jumlah kasus.

IDAI menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer serta memastikan cakupan imunisasi tetap tinggi guna mencegah munculnya kembali wabah campak di berbagai wilayah.

"Selain imunisasi, perbaikan asupan nutrisi terutama protein hewani serta peningkatan deteksi dini juga menjadi langkah penting dalam menekan risiko komplikasi berat seperti pneumonia pada anak," ucap dia. (Ata/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya