Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Tambang Emas Skala Kecil Jadi Penyumbang Emisi Merkuri Terbesar di Indonesia

Atalya Puspa    
26/2/2026 11:19
Tambang Emas Skala Kecil Jadi Penyumbang Emisi Merkuri Terbesar di Indonesia
ilustrasi(Antara)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa penambangan emas skala kecil (PESK) dan tradisional menjadi sumber antropogenik terbesar emisi merkuri di Indonesia. Aktivitas ini dinilai berkontribusi signifikan terhadap pencemaran lingkungan dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat di sekitar wilayah tambang.

Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PRTLTB) BRIN, Tia Agustiani, menyampaikan bahwa proses amalgamasi emas pada tambang rakyat menjadi penyumbang utama pelepasan merkuri ke lingkungan.

“Sumber penyumbang emisi merkuri terbesar di Indonesia berasal dari Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) dan tradisional dengan proses amalgamasi emas sebagai sumber antropogenik terbesar,” ujar Tia dalam keterangan resmi, Kamis (26/2). 

Dalam penelitiannya, Tia meneliti kontaminasi merkuri dan penilaian risiko kesehatan manusia di kawasan pertambangan emas skala kecil di Gunung Pongkor, Bogor, dan Waluran, Sukabumi.

“Lokasi penelitian di Gunung Pongkor ada di hulu, tengah, dan hilir sebagai area PESK, dan yang lebih banyak terjadi di area hulu. Sedangkan wilayah studi di Waluran Sukabumi terdiri dari dua area yaitu area PESK, dan area rujukan di Mekarmukti yang tidak memiliki PESK,” jelasnya.

Hasil penelitian menunjukkan aktivitas PESK menjadi sumber utama pencemaran merkuri. Konsentrasi merkuri ditemukan pada tanah, sedimen, ikan, hingga daun singkong yang dikonsumsi masyarakat.

“Di area hulu Gunung Pongkor, sumber paparan merkuri ditemukan pada daun singkong sebanyak 46 diikuti oleh ikan sebesar 29%. Sedangkan di Waluran Sukabumi, di area PESK kontributor utama paparan merkuri berasal dari ikan sebesar 39%, diikuti oleh daun singkong sebesar 35%. Pola ini menunjukkan bahwa rantai makanan merupakan jalur utama paparan merkuri bagi masyarakat setempat,” ungkap Tia.

Temuan tersebut juga menunjukkan kelompok rentan seperti anak-anak menghadapi risiko kesehatan lebih tinggi akibat paparan merkuri melalui rantai makanan di wilayah sekitar tambang.

Peneliti lain dari PRTLTB BRIN, Fuzi Suciati Sastraatmaja, menyoroti keberadaan merkuri dalam air lindi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah domestik. Sampel diambil dari sejumlah TPA, antara lain TPA Cipeucang, TPA Galuga, TPA Bantar Gebang, dan TPA Rawa Kucing, dengan analisis sedimen menggunakan USEPA Method 7473.

“Dari hasil penelitian, merkuri ditemukan di dalam air lindi TPA sampah domestik akan tetapi konsentrasi air tidak melebihi dari baku mutu sedangkan untuk materi adsorben atau green agregat didominasi oleh silikon, aluminium, kalsium dan besi,” jelas Fuzi.

Penelitian tersebut menawarkan pendekatan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan fly ash, bottom ash, dan limbah biomassa sebagai green aggregate untuk mengadsorpsi merkuri dari air lindi.

Sementara itu, peneliti ahli muda PRTLTB BRIN Fitri Yola Amandita memaparkan teknologi pemulihan lahan tercemar merkuri melalui metode fisikokimia hingga pendekatan ramah lingkungan seperti bioremediasi dan fitoremediasi.

“Kami melakukan penelitian bioremediasi merkuri dengan pengambilan sampel tanah di Sukabumi dan berhasil mengisolasi sekitar 27 isolat bakteri yang resisten terhadap merkuri. Dari jumlah tersebut diperoleh lima isolat bakteri yang menunjukkan tingkat resistensi tinggi, bahkan mampu bertahan pada paparan HgCl₂ dengan konsentrasi hingga 100 ppm,” paparnya.

Dalam riset lanjutan, sekam padi yang diinokulasi bakteri resisten merkuri diaplikasikan pada tanaman padi untuk menekan akumulasi merkuri pada bulir.

“Sekam padi dengan tambahan bakteri berhasil mengurangi serapan merkuri ke bulir padi. Merkuri lebih banyak terserap oleh bagian akar, sehingga meskipun merkurinya masih terdeteksi pada bulir padi, namun kadarnya lebih rendah dibandingkan tanaman padi tanpa perlakuan sekam padi dan bakteri,” terang Fitri.

Ia menekankan tantangan terbesar saat ini adalah mendorong implementasi teknologi dari skala laboratorium ke skala lapangan yang lebih aplikatif dan terjangkau.

“Saya berharap ke depan dapat terjalin kolaborasi antara lembaga riset, industri, dan pemerintah. Sehingga, hasil riset diharapkan mampu menghasilkan solusi yang murah, aplikatif, dan mudah diterapkan oleh masyarakat,” pungkasnya. (E-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya