Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Menjaga Esensi Ramadan: Mengatasi Jebakan Perilaku Konsumtif dan Lapar Mata

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 20:43
Menjaga Esensi Ramadan: Mengatasi Jebakan Perilaku Konsumtif dan Lapar Mata
Ilustrasi(Freepik)

BULAN Ramadan sejatinya menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri dan pengendalian hawa nafsu. Namun, dalam praktiknya, esensi kesederhanaan tersebut kerap tergerus oleh perilaku konsumtif yang tidak disadari, salah satunya adalah overbuying atau pembelian berlebihan.

Pakar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Dr. Megawati Simanjuntak, menyoroti bahwa Ramadan justru menjadi periode yang rawan akan gaya hidup berlebih. Padahal, perilaku ini bertolak belakang dengan nilai-nilai puasa yang menekankan pengendalian diri.

"Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadan dan lebih banyak membawa dampak negatif," jelas Megawati.

Fenomena ini paling tampak saat waktu berbuka puasa tiba. Banyak orang menyiapkan hidangan secara berlebihan, mulai dari makanan berat hingga aneka takjil seperti gorengan, kolak, dan kurma. 

MI/HO--Pakar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Dr. Megawati Simanjuntak

Megawati mengingatkan bahwa kondisi lapar setelah seharian berpuasa sering memicu lapar mata, ketika keinginan membeli makanan didorong oleh emosi sesaat, bukan karena kebutuhan tubuh.

"Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan tubuh. Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran," tambahnya.

Tidak hanya saat berbuka, kecenderungan konsumtif biasanya melonjak menjelang Idulfitri. Masyarakat sering merasa terdorong untuk membeli kebutuhan tambahan seperti pakaian baru, aneka kue kering, hingga sajian khas lebaran dalam jumlah besar.

Untuk menghindari jebakan tersebut, Megawati membagikan sejumlah langkah preventif. Ia menekankan pentingnya manajemen perencanaan keuangan dengan menyusun daftar kebutuhan secara matang sebelum berbelanja. 

Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah tergoda dengan strategi pemasaran di media sosial maupun e-commerce.

Menurutnya, aktivitas belanja melalui live streaming kerap memicu rasa fear of missing out (FOMO). Ia pun mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh label limited edition atau diskon besar yang sering kali hanya menjadi taktik pemasaran.

Lebih jauh, Megawati berpesan agar masyarakat menahan diri dari konsumsi berlebihan karena hal tersebut dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Ramadan seharusnya menjadi momen untuk memperbanyak kebaikan dan kedekatan dengan Sang Pencipta, bukan sekadar memuaskan keinginan duniawi sesaat.

"Belanja secukupnya sesuai kebutuhan adalah pilihan yang lebih bijak," tegasnya.

Dengan perencanaan yang matang dan pengendalian emosi saat berbelanja, masyarakat diharapkan dapat menjalani bulan suci dengan lebih bermakna, sehat, dan tetap menjaga kestabilan finansial hingga hari kemenangan tiba. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya