Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Kekurangan Zat Besi di Rambut Bisa Jadi Tanda Awal Parkinson

Abi Rama
25/2/2026 12:35
Kekurangan Zat Besi di Rambut Bisa Jadi Tanda Awal Parkinson
Ilustrasi(freepik)

SINYAL awal penyakit Parkinson kemungkinan bisa terdeteksi dari rambut. Penelitian terbaru menyebutkan adanya perbedaan kadar logam tertentu pada rambut pasien Parkinson dibandingkan seseorang yang sehat..

Dalam studi tersebut, tim peneliti dari Tiongkok menganalisis sampel rambut dari 60% Parkinson dan membandingkannya dengan kelompok kontrol seusia. Hasilnya menunjukkan kadar zat besi dan tembaga pada rambut pasien lebih rendah, sementara kadar mangan dan arsenik justru lebih tinggi.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal iScience itu dipimpin peneliti dari Hebei University di Tiongkok. Para ilmuwan menilai temuan ini memiliki potensi besar sebagai biomarker baru untuk membantu diagnosis Parkinson secara non-invasif.

Rambut dapat Merekam Riwayat Paparan

Selama ini, dokter masih kesulitan untuk mendiagnosis Parkinson sejak dini. Penyakit ini biasanya baru diketahui setelah gejalanya terlihat jelas. Memang sudah ada penelitian yang mencoba mencari tanda-tanda Parkinson lewat tes darah, tapi hasilnya belum benar-benar pasti. Oleh karena itu, penelitian ini menjelaskan bahwa rambut dinilai bisa jadi cara baru untuk melihat tanda-tanda tersebut.

Rambut bukan sekadar pelengkap penampilan. Bagian tubuh ini bisa menyimpan jejak paparan zat dari makanan maupun lingkungan dalam waktu lama. Berbeda dengan darah atau urine yang hanya menggambarkan kondisi sesaat, rambut bisa memberikan gambaran yang lebih panjang tentang perubahan di dalam tubuh.

Peneliti menemukan bahwa kadar zat besi pada rambut pasien Parkinson cenderung lebih rendah. Temuan ini konsisten, termasuk pada percobaan menggunakan tikus. Ketika ditelusuri lebih jauh, gangguan tersebut bahkan juga berkaitan dengan masalah pada fungsi usus.

Kaitan Usus dan Otak

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan perubahan mikrobiota usus bisa muncul bertahun-tahun sebelum gejala Parkinson terdiagnosis. Penyakit ini memang diyakini berkaitan erat dengan komunikasi antara usus dan otak.

Pada model tikus, lapisan pelindung usus terlihat terganggu. Aktivitas gen yang berperan dalam penyerapan zat besi menurun, sementara gen yang membantu mikroba memperoleh zat besi justru meningkat. Kondisi ini diduga menyebabkan defisiensi zat besi secara sistemik.

Tim peneliti menyebut hubungan antara mikrobioma usus dan gen metabolisme zat besi. Hubungan itu sebagai bukti awal bahwa kedua sistem tersebut saling terkait dalam konteks patologi mirip Parkinson.

Temuan ini juga mendukung kajian literatur pada 2025 yang melaporkan adanya gangguan regulasi zat besi di otak, darah, dan usus pasien Parkinson.

Faktor Lingkungan Ikut Berperan

Selain zat besi, kadar arsenik yang lebih tinggi pada rambut pasien juga menjadi perhatian. Arsenik dapat berasal dari paparan lingkungan maupun pola makan tertentu.

Dalam studi ini, pasien Parkinson dilaporkan lebih sering mengonsumsi jeroan dan makanan laut bercangkang, yang diketahui berpotensi mengandung arsenik lebih tinggi. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini masih berskala kecil. Penelitian lanjutan dengan jumlah partisipan lebih besar diperlukan untuk memastikan temuan tersebut serta memahami mekanisme pasti yang menghubungkan defisiensi zat besi dengan Parkinson. (Science Alert/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya