Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Mitos Atau Fakta, Mencukur Botak Bayi Buat Rambut Tumbuh Lebih Lebat

Basuki Eka Purnama
17/12/2025 05:23
Mitos Atau Fakta, Mencukur Botak Bayi Buat Rambut Tumbuh Lebih Lebat
Ilustrasi(Freepik)

HINGGA kini, masih banyak orangtua yang memercayai bahwa mencukur rambut bayi hingga botak merupakan kunci agar rambut si kecil tumbuh lebih lebat dan panjang di kemudian hari. Namun, secara medis, anggapan tersebut dipastikan hanyalah mitos belaka.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Jakarta, dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.D.V.E., FINSDV, FAADV, menegaskan bahwa aktivitas mencukur tidak memberikan pengaruh langsung pada kepadatan folikel rambut.

"Mencukur rambut bayi supaya panjang itu mitos ya, enggak, itu mitos," ujar Dhana, dikutip Rabu (17/12).

Faktor Genetik dan Gaya Hidup

Menurut Dhana, karakteristik rambut seseorang, baik pada bayi maupun orang dewasa, ditentukan oleh faktor internal dan eksternal yang jauh lebih kompleks daripada sekadar dicukur. Faktor utama yang paling menentukan tebal dan panjangnya rambut adalah faktor genetik yang diturunkan dari orangtua.

Selain faktor keturunan, pertumbuhan rambut yang optimal juga dipengaruhi oleh gaya hidup sehat dan kualitas perawatan yang diberikan. Hal ini mencakup penggunaan alat cukur yang bersih dan higienis saat proses pemotongan rambut untuk menghindari risiko infeksi pada kulit kepala.

Terkait perubahan tekstur yang sering dirasakan orangtua setelah mencukur, Dhana menjelaskan bahwa itu hanyalah fenomena sementara. Proses pencukuran hanya akan membuat rambut yang tumbuh di permukaan atas kepala tampak sedikit berjarang dan terasa lebih kasar untuk waktu singkat.

"Jadi kalau dibotakin itu boleh ya, tidak ada pengaruh ke rambutnya jadi lebih sehat, atau lebat ya," tambahnya.

Waspadai Sensitivitas Kulit Bayi

Selain meluruskan mitos soal rambut, Dhana juga mengingatkan para orang tua untuk lebih berhati-hati terhadap kesehatan kulit kepala dan tubuh bayi secara umum. 

Kulit bayi memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa karena cenderung lebih tipis dan belum memiliki sistem pertahanan yang kuat, sehingga jauh lebih rentan terhadap iritasi.

Bagi bayi yang memiliki kulit sensitif, Dhana sangat menganjurkan penggunaan produk perawatan yang mampu mengunci kelembapan kulit agar tidak mudah kering.

"Gunakan sabun yang lembut ya, yang pH-nya seimbang, yang banyak pelembabnya ya, yang untuk kulit sensitif atau untuk kulit bayi gitu, lalu habis itu dipakaikan lotion atau pelembab gitu, untuk memperbaiki sistem pertahanan kulit atau barier dari anak-anak itu sendiri begitu," jelasnya.

Pemilihan kandungan dalam produk perawatan juga menjadi poin krusial. Para ahli menyarankan agar orang tua menghindari produk yang mengandung deterjen keras seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan Sodium Laureth Sulfate (SLES). 

Sebaliknya, pilihlah bahan-bahan yang bersifat lembut dan melembapkan agar skin barrier bayi tetap terjaga dengan baik. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik