Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ZAT besi menjadi salah satu nutrisi penting yang sering diabaikan, padahal perannya sangat besar dalam menjaga kesehatan tubuh dan fungsi otak. Namun, di balik pentingnya zat besi, masih banyak mitos yang beredar di masyarakat.
Support Nutritionist, Emilia Achmadi, menjelaskan sejumlah fakta dan kesalahpahaman umum soal zat besi dalam sebuah sesi edukasi kesehatan.
Menurut Emilia, seseorang dengan asupan zat besi yang kurang memadai bisa di indikasi dari tatapannya yang kosong. Tak hanya itu, mudah lelah, sulit fokus, hingga brain fog juga menjadi ciri orang yang kekurangan zat besi.
“Kalau lagi ngomong sama orang dan pandangannya kosong, bisa jadi kadar zat besinya rendah,” jelasnya kepada awak media di Jakarta, Senin (13-10-2025).
Ia menjelaskan, lebih dari 30 persen perempuan usia produktif di dunia mengalami kekurangan zat besi. Hal itu disebabkan oleh kehilangan darah selama menstruasi dan pola makan yang tidak seimbang.
Emilia juga mengungkapkan sejumlah mitos yang kerap disalahpahami masyarakat tentang zat besi dan makanan sumbernya.
Menurut Emilia, rumor bahwa daging merah berbahaya bagi jantung adalah keliru. Penyebab utama penyakit jantung justru berasal dari konsumsi gula berlebih.
“Nomor satu penyebab penyakit jantung itu bukan daging, tapi gula. Kita menyalahkan daging, padahal minuman dan makanan manislah yang bikin masalah,” ujarnya.
Emilia turut membantah anggapan bahwa kuning telur dapat meningkatkan kolesterol secara signifikan. Ia menekankan, telur justru menjadi sumber zat besi dan protein yang baik, asalkan dikonsumsi dengan wajar.
Emilia juga menanggapi anggapan bahwa kebutuhan zat besi dapat tercukupi hanya dengan mengonsumsi sayuran. Menurutnya, hal itu tidak sepenuhnya benar.
Meskipun banyak bahan pangan nabati seperti kacang merah, lentil, bayam, dan biji labu diketahui memiliki kandungan zat besi yang cukup tinggi, tubuh manusia tidak mampu menyerap seluruh kandungan tersebut secara efektif.
Ia menjelaskan bahwa zat besi dalam tumbuhan disebut non-heme iron, sedangkan zat besi dari sumber hewani seperti daging merah disebut heme iron. Keduanya memiliki struktur kimia yang berbeda.
Non-heme iron dari sayuran, hanya dapat diserap sekitar 2-12 persen oleh tubuh, sementara heme iron dari daging merah dapat diserap hingga 25 persen. Itu sebabnya, orang yang menjalani pola makan vegetarian atau plant-based berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi jika tidak menyeimbangkan asupannya.
Namun, Emilia juga menegaskan bahwa bukan berarti makanan nabati tidak bermanfaat. Ia menyarankan agar makanan sumber zat besi dari tumbuhan dikombinasikan dengan bahan yang mengandung vitamin C tinggi, seperti brokoli, tomat, atau jeruk.
Emilia juga menyoroti kebiasaan umum masyarakat yang kerap mengonsumsi susu atau makanan tinggi kalsium setelah makan daging. Menurutnya, hal tersebut justru dapat menghambat penyerapan zat besi di dalam tubuh. Kalsium dan zat besi, memiliki jalur penyerapan yang sama di sistem pencernaan sehingga saling bersaing untuk diserap.
“Kalau makan steak lalu ditutup dengan es krim atau minum susu, zat besinya tidak akan terserap secara maksimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, kombinasi tersebut membuat tubuh kehilangan potensi penyerapan zat besi dari daging yang sebenarnya tinggi.
Selain susu, dan olahan kalsium lainnya seperti keju atau milkshake, Emilia juga mengingatkan bahwa kafein dan tanin dalam kopi maupun teh dapat menurunkan kemampuan tubuh menyerap zat besi.
Karena itu, ia menyarankan agar tidak langsung minum kopi atau teh setelah makan makanan tinggi zat besi.
Matcha dikenal luas sebagai minuman sehat yang kaya antioksidan, mampu meningkatkan energi, serta membantu fokus.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dinilai masih berisiko tertinggal dari rata-rata dunia dan dapat menjadi ancaman serius di masa depan.
Zat besi merupakan mineral penting untuk membentuk hemoglobin, yang membantu mengikat oksigen untuk disalurkan ke seluruh bagian tubuh.
Selain pucat, kekurangan zat besi juga menyebabkan kulit menjadi sangat kering.
Kondisi ini juga sering tidak disadari oleh orang tua pada anak-anak. Anak yang terlihat malas bermain atau sering mengantuk di kelas, misalnya, belum tentu malas atau tidak fokus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved