Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ZAT besi selama ini sering dianggap hanya penting untuk mencegah anemia. Padahal, nutrisi ini punya peran yang jauh lebih besar, mulai dari menjaga energi, mendukung performa olahraga, hingga membantu perkembangan otak.
Hal ini disampaikan oleh sport nutritionist Emilia Achmadi saat menjelaskan pentingnya zat besi dalam menjaga kebugaran tubuh.
Menurut Emilia, tanda-tanda kekurangan zat besi atau anemia sebenarnya cukup mudah dikenali. Ia menjelaskan bahwa kulit yang tampak pucat, bibir pecah-pecah, kulit kering, atau tubuh yang mudah lelah bisa menjadi indikasi bahwa seseorang mengalami kekurangan zat besi.
Kondisi ini juga sering tidak disadari oleh orang tua pada anak-anak. Anak yang terlihat malas bermain atau sering mengantuk di kelas, misalnya, belum tentu malas atau tidak fokus.
Zat besi adalah komponen penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu bagian dari darah yang berfungsi mengikat oksigen dan menyalurkannya ke seluruh tubuh. Saat seseorang beraktivitas atau berolahraga, kebutuhan oksigen meningkat.
“Kalau zat besi rendah, kemampuan tubuh mengikat oksigen juga menurun. Akibatnya, performa tubuh menurun dan cepat lelah,” ungkap Emilia.
Ia menambahkan, zat besi juga berperan dalam produksi energi bersama vitamin B12. Karena itu, orang yang aktif bergerak atau berolahraga membutuhkan zat besi dalam jumlah lebih tinggi dibanding mereka yang jarang beraktivitas fisik.
Tidak semua zat besi yang dikonsumsi bisa langsung diserap tubuh. Emilia menjelaskan, agar penyerapannya optimal, zat besi sebaiknya dikonsumsi bersama sumber vitamin C. Contohnya, menyantap daging merah atau kuning telur bersama sayuran seperti brokoli, paprika, atau buah jeruk.
Tak hanya untuk energi, zat besi juga berperan besar dalam perkembangan otak. Jika tubuh kekurangan zat besi, proses pembentukan jaringan otak bisa terhambat. Akibatnya, fungsi kognitif dan konsentrasi anak pun ikut terganggu.
“Otak kita berwarna merah karena mengandung myoglobin, dan itu zat besi,” kata Emilia.
Bagi banyak orang, solusi tercepat untuk mengatasi kekurangan zat besi adalah dengan mengonsumsi suplemen. Namun, Emilia mengingatkan bahwa tidak semua zat besi dalam bentuk suplemen dapat diserap dengan baik oleh tubuh.
Ia menegaskan, mengandalkan suplemen tanpa memperhatikan kualitas dan jenisnya sering kali tidak memberikan hasil yang diharapkan.
“Tubuh kita tidak memperlakukan semua zat besi dengan cara yang sama,” ujarnya.
Artinya, meskipun seseorang mengonsumsi suplemen zat besi setiap hari, bukan berarti tubuh otomatis bisa memanfaatkannya secara maksimal. Bila kualitas suplemennya rendah atau tidak sesuai kebutuhan, zat besi tersebut bisa saja tidak terserap dan akhirnya terbuang percuma.
Karena itu, Emilia lebih menganjurkan agar memenuhi kebutuhan zat besi dari makanan sehari-hari. Menurutnya, makanan alami seperti daging merah, kuning telur, atau kerang jauh lebih efektif diserap tubuh.
Selain itu, makanan-makanan tersebut juga mengandung berbagai zat gizi lain yang bekerja bersama-sama, seperti protein, vitamin B12, dan zinc, yang semuanya mendukung pembentukan energi dan kesehatan darah.
Pilihan mengolah pangan dengan cara dikukus membawa dampak signifikan bagi kesehatan tubuh.
Shakira Aminah mengatakan kesehatan dan gizi adalah kunci agar anak dapat berprestasi.
bisnis bukan hanya mencari uang tapi juga sarana membuat masyarakat sehat melalui konsumsi berbahan lokal.
Di tengah maraknya makanan ultra-olahan dengan indeks glikemik tinggi dan karbohidrat tinggi mengancam kesehatan anak, memicu alergi. Mengenalkan anak pada real food meminimalisasi risiko
Merry menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi ibu selama kehamilan dan menyusui untuk menunjang pemenuhan kebutuhan nutrisi anak selama 1.000 hari pertama kehidupan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved