Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
METODE intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten telah lama dipuja sebagai solusi praktis untuk menurunkan berat badan tanpa harus menghitung kalori secara ketat.
Namun, sebuah tinjauan internasional besar yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Cochrane Reviews menunjukkan bahwa metode ini mungkin tidak seajaib yang dibayangkan banyak orang.
Para peneliti dari Rutgers School of Public Health di Amerika Serikat dan University of Düsseldorf Medical School di Jerman menganalisis 22 uji terkontrol acak yang melibatkan 1.995 partisipan.
Penelitian ini membandingkan berbagai pendekatan puasa, termasuk makan terbatas waktu (time-restricted eating), puasa selang-seling (alternate-day fasting), hingga pola 5:2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka waktu enam hingga 12 bulan, pelaku intermittent fasting rata-rata hanya kehilangan berat badan 0,33% lebih banyak dibandingkan mereka yang menggunakan metode pembatasan kalori konvensional.
Para peneliti menegaskan bahwa selisih tersebut terlalu kecil untuk dianggap bermakna secara klinis.
Meskipun efektivitasnya setara dengan diet tradisional, banyak orang tetap memilih intermittent fasting karena kesederhanaannya. Membatasi "kapan" kita makan seringkali lebih mudah dilakukan secara psikologis daripada membatasi "apa" yang kita makan atau menghitung setiap butir nasi yang dikonsumsi.
Namun, studi ini memperingatkan bahwa tanpa adanya keunggulan metabolisme yang nyata, kunci utama penurunan berat badan tetap kembali pada prinsip dasar, yakni defisit kalori. Jika selama jendela makan seseorang tetap mengonsumsi kalori berlebih, maka manfaat puasa tersebut akan hilang.
Para peneliti menekankan bahwa individu sebaiknya memilih pola makan yang paling sesuai dengan rutinitas harian mereka. Karena tidak ada perbedaan hasil yang mencolok secara medis, metode diet terbaik adalah metode yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang (sustainable).
Hingga saat ini, data mengenai pengelolaan berat badan jangka panjang (di atas 12 bulan) atau risiko kenaikan berat badan kembali (efek yoyo) setelah melakukan intermittent fasting masih terbatas.
Oleh karena itu, konsistensi dan perubahan gaya hidup menyeluruh tetap menjadi faktor penentu keberhasilan diet yang paling utama.
Intermittent fasting bukanlah peluru ajaib untuk obesitas. Metode ini hanyalah salah satu alat dari berbagai pilihan strategi diet yang tersedia. Bagi Anda yang merasa kesulitan dengan pola puasa, beralih ke diet kalori tradisional dengan gizi seimbang tetap memberikan hasil kesehatan yang serupa menurut sains terbaru tahun 2026 ini. (The Korea Times/Z-10)
Dr. Spencer Nadolsky menekankan diet tanpa makanan terlarang, fokus pada makanan utuh dan defisit kalori untuk hasil penurunan berat badan yang lebih efektif.
Nasi Loca yang hadir dalam layanan pesan antar ini sukses meraih penilaian tinggi karena menampilkan kandungan kalori yang terbilang detail.
Selain susu almond, susu oat juga banyak dipilih oleh orang yang ingin turunkan berat badan. Padahal, menurut ahli gizi susu oat belum tentu bisa bantu turunkan berat badan.
Masyarakat mulai menyadari bahwa mengonsumsi makanan atau minuman tertentu keseringan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, misalnya diabetes dan obesitas.
Jenis diet ini merupakan pengaturan pola makan dengan lebih sedikit mengonsumsi jumlah kalori dibandingkan dengan aktivitas fisik yang memerlukan banyak energi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved