Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Intermittent Fasting vs Defisit Kalori: Mana yang Lebih Cepat Turunkan Berat Badan?

 Gana Buana
25/2/2026 22:30
Intermittent Fasting vs Defisit Kalori: Mana yang Lebih Cepat Turunkan Berat Badan?
Intermittent Fasting vs Defisit Kalori.(Dok. The Korea Times)

METODE intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten telah lama dipuja sebagai solusi praktis untuk menurunkan berat badan tanpa harus menghitung kalori secara ketat.

Namun, sebuah tinjauan internasional besar yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Cochrane Reviews menunjukkan bahwa metode ini mungkin tidak seajaib yang dibayangkan banyak orang.

Studi Global: Tidak Ada Keunggulan Signifikan

Para peneliti dari Rutgers School of Public Health di Amerika Serikat dan University of Düsseldorf Medical School di Jerman menganalisis 22 uji terkontrol acak yang melibatkan 1.995 partisipan.

Penelitian ini membandingkan berbagai pendekatan puasa, termasuk makan terbatas waktu (time-restricted eating), puasa selang-seling (alternate-day fasting), hingga pola 5:2.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka waktu enam hingga 12 bulan, pelaku intermittent fasting rata-rata hanya kehilangan berat badan 0,33% lebih banyak dibandingkan mereka yang menggunakan metode pembatasan kalori konvensional.

Para peneliti menegaskan bahwa selisih tersebut terlalu kecil untuk dianggap bermakna secara klinis.

Statistik Kunci Penelitian Cochrane:

  • Total Partisipan: 1.995 orang.
  • Selisih Penurunan Berat Badan: 0,33% (IF vs Diet Kalori).
  • Penurunan vs Tanpa Diet: 3,42% (Rata-rata).
  • Kadar Kolesterol: Tidak menunjukkan perbedaan substansial antar kelompok.

Mengapa Puasa Intermiten Tetap Populer?

Meskipun efektivitasnya setara dengan diet tradisional, banyak orang tetap memilih intermittent fasting karena kesederhanaannya. Membatasi "kapan" kita makan seringkali lebih mudah dilakukan secara psikologis daripada membatasi "apa" yang kita makan atau menghitung setiap butir nasi yang dikonsumsi.

Namun, studi ini memperingatkan bahwa tanpa adanya keunggulan metabolisme yang nyata, kunci utama penurunan berat badan tetap kembali pada prinsip dasar, yakni defisit kalori. Jika selama jendela makan seseorang tetap mengonsumsi kalori berlebih, maka manfaat puasa tersebut akan hilang.

Pentingnya Keberlanjutan Jangka Panjang

Para peneliti menekankan bahwa individu sebaiknya memilih pola makan yang paling sesuai dengan rutinitas harian mereka. Karena tidak ada perbedaan hasil yang mencolok secara medis, metode diet terbaik adalah metode yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang (sustainable).

Hingga saat ini, data mengenai pengelolaan berat badan jangka panjang (di atas 12 bulan) atau risiko kenaikan berat badan kembali (efek yoyo) setelah melakukan intermittent fasting masih terbatas.

Oleh karena itu, konsistensi dan perubahan gaya hidup menyeluruh tetap menjadi faktor penentu keberhasilan diet yang paling utama.

Kesimpulan

Intermittent fasting bukanlah peluru ajaib untuk obesitas. Metode ini hanyalah salah satu alat dari berbagai pilihan strategi diet yang tersedia. Bagi Anda yang merasa kesulitan dengan pola puasa, beralih ke diet kalori tradisional dengan gizi seimbang tetap memberikan hasil kesehatan yang serupa menurut sains terbaru tahun 2026 ini. (The Korea Times/Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya