Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Dokter Obesitas Rekomendasikan Cara Diet Tanpa Larangan Makanan

Bimo Aria Seno
16/11/2025 10:21
Dokter Obesitas Rekomendasikan Cara Diet Tanpa Larangan Makanan
Ilustrasi(freepik)

SEORANG dokter obesitas terkemuka di Amerika Serikat (AS), Dr. Spencer Nadolsky, mengungkapkan pendekatan diet tanpa larangan makanan bagi pasiennya. Ia menilai fokus pada makanan utuh dan defisit kalori lebih efektif untuk menurunkan berat badan.

Menurut pendiri klinik kesehatan virtual Vineyard itu, kunci diet sukses bukanlah menghindari makanan tertentu. Melainkan membangun pola makan yang didominasi makanan utuh dan bernutrisi tinggi. Ia menyebutkan protein rendah lemak, sayuran, serta buah-buahan dapat membantu seseorang merasa kenyang lebih lama dengan kalori yang lebih rendah. Sebuah langkah awal yang menurutnya efektif untuk mencapai defisit kalori.

Nadolsky menjelaskan defisit kalori terjadi ketika tubuh membakar lebih banyak energi daripada yang masuk melalui makanan. Di AS, panduan kesehatan menetapkan kebutuhan kalori harian untuk perempuan berkisar antara 1.600 hingga 2.400 kalori, sementara pria membutuhkan 2.200 hingga 3.000 kalori, tergantung tingkat aktivitas. Untuk menurunkan berat badan, para ahli umumnya menyarankan pengurangan sekitar 500 kalori per hari.

Selain itu, konsumsi makanan tinggi protein dan serat dinilai dapat membantu mempertahankan defisit kalori, karena kedua nutrisi tersebut meningkatkan rasa kenyang. Penelitian juga menunjukkan melarang makanan tertentu justru dapat memicu keinginan lebih besar serta pola makan yang kurang sehat.

Nadolsky mengaku sengaja tidak mengategorikan makanan tertentu sebagai “terlarang”. Menurutnya, pelarangan makanan sering kali membuat pasien justru menginginkannya lebih kuat. Ia memilih memberi ruang bagi pasien untuk mengonsumsi apa pun, selama mereka tetap memprioritaskan makanan utuh dan bernutrisi. 

Berdasarkan temuan ilmiah, lanjutnya, tidak ada satu pun makanan yang dapat menggagalkan upaya penurunan berat badan selama asupan kalori tetap lebih rendah dari yang dibakar tubuh. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kasus kelebihan berat badan di AS, di mana tiga dari empat orang dewasa tercatat memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25.

Diet Mediterania

Dalam beberapa tahun terakhir, diet mediterania muncul sebagai salah satu pilihan diet paling direkomendasikan. Dalam peringkat “Best Diets Overall” 2025 versi US News dan World Report, pola makan ini menempati posisi teratas dengan skor 4,8 dari 5. 

Diet mediterania mengadopsi pola makan tradisional masyarakat di wilayah Yunani, Italia, Spanyol, dan Turki, yang mengutamakan sayuran berdaun hijau, buah-buahan, biji-bijian utuh, serta lemak sehat seperti minyak zaitun. Sumber protein yang dianjurkan pun lebih banyak berasal dari unggas dan ikan, bukan daging merah.

Berbagai kajian menunjukkan diet ini dapat membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki kondisi terkait obesitas. Salah satunya adalah penelitian dari Universitas Harvard yang melibatkan hampir 5.000 partisipan dengan kelebihan berat badan atau obesitas. 

Hasilnya, kelompok yang mengikuti diet mediterania disertai olahraga dan pembatasan kalori tercatat 31% lebih kecil kemungkinannya mengalami diabetes dibandingkan kelompok kontrol. Mereka juga rata-rata kehilangan sekitar 7 pon dan mengurangi lingkar pinggang 1,4 inci, lima kali lebih besar daripada peserta yang tidak menerapkan diet tersebut.

Pola Makan Seimbang

Rekomendasi ini menekankan keberhasilan menurunkan berat badan tidak hanya berpegang pada pelarangan makanan, tapi pada pola makan seimbang dan kebiasaan hidup yang konsisten. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, para pakar berharap masyarakat dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan dan mencapai hasil yang lebih positif. (dailymail/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik