Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
MENYAMBUT bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat Indonesia kembali menunggu kepastian tanggal 1 Ramadan. Tahun ini, seperti sebelumnya, potensi perbedaan awal Ramadan tetap ada karena perbedaan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal) yang digunakan.
Sidang isbat resmi akan digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menjelang akhir bulan Syakban untuk menetapkan awal puasa secara nasional. Forum ini menjadi acuan resmi bagi umat Islam di seluruh Indonesia.
Mengapa Perbedaan Bisa Terjadi?
Perbedaan awal Ramadan biasanya muncul karena pendekatan metode yang berbeda antara pemerintah dan beberapa organisasi Islam. Kemenag menggunakan kombinasi hisab dan rukyat, sedangkan beberapa organisasi, seperti Muhammadiyah, menerapkan hisab hakiki wujudul hilal secara mandiri.
Secara astronomis, awal Ramadan ditentukan dari posisi hilal setelah ijtimak (konjungsi bulan dan matahari). Standar Kemenag mengacu pada MABIMS, dengan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Sidang Isbat: Mekanisme dan Proses
Sidang isbat melibatkan beberapa pihak, antara lain:
Sidang ini berlangsung dalam tiga tahap: pemaparan data hisab, verifikasi laporan rukyat, dan musyawarah untuk penetapan resmi oleh Menteri Agama. Hasil sidang diumumkan ke publik sebagai dasar pelaksanaan ibadah puasa secara nasional.
Dampak Perbedaan Tanggal
Jika terjadi perbedaan, sebagian wilayah atau kelompok masyarakat bisa memulai puasa satu hari lebih awal atau lebih lambat. Meski demikian, perbedaan ini bukanlah hal baru dan biasanya dapat diterima sebagai bagian dari fleksibilitas metode ilmiah dan praktik keagamaan.
Sidang isbat tetap menjadi mekanisme resmi negara untuk menjaga keseragaman ibadah sekaligus legitimasi administrasi, termasuk penetapan kalender libur nasional. (Cah/P-3)
Observatorium Bosscha ITB laporkan hilal 1447 H belum terlihat pada 17 Februari 2026. Pengamatan hilal dilanjutkan 18 Februari sebagai rujukan awal Ramadan.
BMKG laporkan hilal 1447 H masih minus di Lombok. Pemantauan rukyatul hilal dijadwalkan 18 Februari 2026, menunggu keputusan resmi awal Ramadan.
MUI menilai perbedaan awal Ramadan 1447 H wajar secara teologis. Negara berwenang menetapkan melalui Sidang Isbat agar umat Islam seragam.
Ijtimak awal Ramadan 1447 H terjadi 17 Februari 2026. Hilal belum terlihat di seluruh Indonesia, sehingga 1 Ramadan diprediksi jatuh pada 19 Februari.
Simak negara-negara yang menggunakan sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, Arab Saudi, dan Mesir.
Pelajari sejarah Sidang Isbat di Indonesia, forum resmi penetapan awal Ramadan, integrasi hisab-rukyat, dan peran Kemenag dalam kalender nasional.
Observatorium Bosscha ITB laporkan hilal 1447 H belum terlihat pada 17 Februari 2026. Pengamatan hilal dilanjutkan 18 Februari sebagai rujukan awal Ramadan.
BMKG laporkan hilal 1447 H masih minus di Lombok. Pemantauan rukyatul hilal dijadwalkan 18 Februari 2026, menunggu keputusan resmi awal Ramadan.
MUI menilai perbedaan awal Ramadan 1447 H wajar secara teologis. Negara berwenang menetapkan melalui Sidang Isbat agar umat Islam seragam.
Ijtimak awal Ramadan 1447 H terjadi 17 Februari 2026. Hilal belum terlihat di seluruh Indonesia, sehingga 1 Ramadan diprediksi jatuh pada 19 Februari.
Simak negara-negara yang menggunakan sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, Arab Saudi, dan Mesir.
Pelajari sejarah Sidang Isbat di Indonesia, forum resmi penetapan awal Ramadan, integrasi hisab-rukyat, dan peran Kemenag dalam kalender nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved