Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DEBAT panjang mengenai mana yang lebih baik antara diet rendah karbohidrat dan diet rendah lemak akhirnya menemukan titik terang. Sebuah studi besar selama tiga dekade terhadap hampir 200.000 orang dewasa menunjukkan kualitas makanan jauh lebih menentukan kesehatan jantung dibandingkan sekadar menghitung kuantitas lemak atau karbohidrat.
Penelitian yang diterbitkan dalam JACC, jurnal utama American College of Cardiology, mengungkapkan bahwa kedua pola makan tersebut efektif menurunkan risiko penyakit jantung koroner (CHD) hanya jika menekankan pada konsumsi biji-bijian utuh, makanan berbasis tanaman, dan lemak sehat. Sebaliknya, diet yang didominasi karbohidrat olahan dan lemak hewani justru meningkatkan risiko penyakit.
Selama ini, masyarakat cenderung hanya berfokus pada pengurangan asupan tertentu tanpa memedulikan sumbernya. Namun, Zhiyuan Wu, peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health sekaligus penulis utama studi ini, menegaskan pentingnya pemilihan sumber nutrisi.
"Temuan kami menekankan ini bukan sekadar soal memotong karbohidrat atau lemak, melainkan tentang kualitas makanan yang dipilih orang untuk menyusun diet tersebut," ujar Wu. Ia menambahkan fokus hanya pada komposisi nutrisi tanpa memerhatikan kualitas makanan mungkin tidak akan memberikan manfaat kesehatan.
Untuk mendapatkan hasil yang akurat, tim peneliti menganalisis data dari 198.473 partisipan yang diikuti selama lebih dari 30 tahun. Selama periode tersebut, tercatat sebanyak 20.033 kasus penyakit jantung koroner.
Peneliti menggunakan sistem penilaian untuk memisahkan versi "sehat" dan "tidak sehat" dari kedua pola diet tersebut. Hasilnya sangat konsisten:
Data metabolomik mendukung temuan ini dengan menunjukkan pola biomarker yang lebih baik pada mereka yang menjalani diet berkualitas. "Hasil ini menunjukkan diet rendah karbohidrat dan rendah lemak yang sehat mungkin berbagi jalur biologis umum yang meningkatkan kesehatan kardiovaskular," jelas Wu.
Harlan M. Krumholz, MD, Pemimpin Redaksi JACC, menyatakan studi ini mengakhiri perdebatan lama mengenai mana yang lebih unggul. "Temuan ini menunjukkan yang paling penting bagi kesehatan jantung adalah kualitas makanan yang dimakan. Menekankan pada makanan nabati, biji-bijian utuh, dan lemak sehat dikaitkan dengan hasil kardiovaskular yang lebih baik," pungkasnya.
Meskipun memberikan panduan yang kuat, peneliti mengingatkan bahwa temuan ini mungkin tidak berlaku bagi pendekatan ekstrem seperti diet keto. Selain itu, karena partisipan adalah tenaga profesional kesehatan, hasil ini memberikan gambaran biologis yang solid meskipun mungkin terdapat perbedaan kesadaran kesehatan dibanding populasi umum. (Science Daily/Z-2)
Ari Fahrial Syam ungkap kunci sembuh GERD: perubahan gaya hidup, stop rokok, hingga pengobatan tuntas dengan obat golongan P-CAB terbaru. Cek di sini!
Studi terbaru ungkap rahasia jantung sehat bukan pada diet ketat, tapi pada perubahan kecil harian. Simak tips sederhana untuk pangkas risiko jantung hingga 57%.
Studi terbaru ungkap tambahan 11 menit tidur, aktivitas fisik, dan konsumsi sayur bisa menurunkan risiko penyakit jantung hingga 10%.
Penyakit jantung tak hanya dipengaruhi genetik. Ahli Mayo Clinic menyebut gaya hidup punya peran lebih besar.
Tomat kaya likopen dan vitamin C yang bantu jaga kulit, kesehatan jantung, hingga menurunkan risiko penyakit kronis. Ini manfaat lengkapnya.
Kuning telur ternyata kaya nutrisi dan tak selalu memicu kolesterol tinggi. Studi terbaru menyarankan konsumsi telur utuh secara seimbang.
Kolesterol tinggi bisa terjadi meski sudah diet, terutama usia di atas 40 tahun. Kenali penyebabnya dan langkah efektif menjaga kesehatan jantung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved