Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Jejak Stres di Usia 40-an, Bagaimana Kurang Gerak Menghantui Kesehatan Masa Depan

Thalatie K Yani
10/2/2026 13:30
Jejak Stres di Usia 40-an, Bagaimana Kurang Gerak Menghantui Kesehatan Masa Depan
Ilustrasi(freepik)

KURANGNYA aktivitas fisik selama bertahun-tahun ternyata tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga meninggalkan "jejak stres" yang terukur pada tubuh saat seseorang mencapai usia paruh baya. Sebuah penelitian terbaru mendefinisikan ulang gerakan sehari-hari sebagai regulator jangka panjang yang menentukan seberapa besar beban stres yang dibawa tubuh hingga usia 40-an.

Temuan ini berasal dari analisis terhadap partisipan Northern Finland Birth Cohort 1966 yang dipantau sejak masa dewasa awal hingga paruh baya. Tim peneliti yang dipimpin oleh Maija Korpisaari dari University of Oulu, Finlandia, menelusuri bagaimana ketidakaktifan yang berkelanjutan diterjemahkan menjadi tekanan fisiologis yang lebih tinggi pada usia 46 tahun.

Akumulasi Beban Biologis

Dalam dunia medis, penumpukan stres ini dikenal sebagai allostatic load, biaya kumulatif yang harus dibayar tubuh akibat respons stres yang berulang. Ketika hormon stres tetap tinggi, jantung, sistem imun, dan metabolisme terus melakukan penyesuaian yang lama-kelamaan dapat merusak jaringan tubuh.

Peneliti mengukur beban ini menggunakan biomarker dalam darah dan pengukuran fisik, termasuk tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, peradangan, dan kortisol (hormon stres). Hasilnya menunjukkan pola yang jelas: mereka yang jarang bergerak memiliki beban stres yang jauh lebih berat.

Konsistensi Adalah Kunci

Penelitian ini membagi responden ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tingkat aktivitas fisik mereka (minimal 150 menit per minggu sesuai panduan WHO). Hasilnya cukup mengejutkan:

Orang yang tetap tidak aktif sejak dewasa awal memiliki beban stres 18% lebih tinggi di usia paruh baya dibandingkan mereka yang aktif.
Orang yang aktif di usia 31 tahun namun berhenti berolahraga di usia 46 tahun menunjukkan beban stres 10% lebih tinggi.

"Hasil ini menunjukkan pentingnya aktivitas fisik tidak terbatas pada tahapan kehidupan individu, melainkan, olahraga teratur sepanjang masa dewasa dapat melindungi tubuh dari efek berbahaya stres jangka panjang," ungkap Korpisaari.

Harapan bagi Mereka yang Mulai Bergerak

Kabar baiknya, tubuh manusia ternyata memiliki fleksibilitas untuk pulih. Orang dewasa yang meningkatkan aktivitas fisik mereka saat mendekati usia paruh baya terbukti tidak membawa beban stres ekstra tersebut. Artinya, memperbaiki pola hidup di usia dewasa tetap memberikan perlindungan biologis yang signifikan.

Aktivitas fisik secara rutin melatih sistem tubuh untuk pulih lebih cepat dari tekanan harian. Hal ini juga berdampak positif pada kualitas tidur dan keseimbangan hormon, yang secara langsung menurunkan risiko peradangan dan penyakit metabolik.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology ini memberikan pesan sederhana bagi masyarakat: konsistensi jauh lebih penting daripada ambisi olahraga sesaat. Aktivitas rutin seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang yang dilakukan secara konsisten sepanjang masa dewasa adalah investasi terbaik untuk menjaga "mesin" tubuh tetap stabil di masa depan. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya