Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Pakar IPB Ungkap Potensi Mutasi Tanaman Hias untuk Industri Kesehatan dan Kosmetik

Nadhira Izzati A
12/2/2026 23:06
Pakar IPB Ungkap Potensi Mutasi Tanaman Hias untuk Industri Kesehatan dan Kosmetik
Berbagai hasil mutasi induksi untuk meningkatkan keragaman tanaman hias.(Dok. IPB)

AKTIVITAS manusia modern yang sangat kompetitif kian memicu kondisi stres dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini melahirkan kebutuhan akan keseimbangan hidup (working life balance) dan gaya hidup sehat. Tanaman hias pun hadir sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan batiniah melalui performa visualnya yang indah.

Namun, kini tanaman hias tidak lagi sekadar menjadi pajangan ornamental. Tanaman ini telah berkembang menjadi komoditas biofarmaka (tanaman obat) yang kaya manfaat bagi kesehatan dan industri kosmetik. Hal ini disampaikan oleh Prof. Syarifah Lis Aisyah, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) saat konferensi pers pra orasi ilmiah pada Kamis (12/2/2026).

Potensi Tanaman Hias bagi Ekonomi dan Industri

Menurut data Volza, Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara pengekspor tanaman hias dunia pada tahun 2024. Prof. Lis menekankan bahwa peluang pasar global masih sangat terbuka lebar. 

“Ternyata di dunia, buyer-nya itu ada 2.342 perusahaan, tapi supplier-nya baru 900. Jadi ini sangat potensial sekali untuk bisnis,” ungkapnya.

Prof. Lis menjelaskan bahwa banyak tanaman hias menyimpan kandungan metabolit yang bermanfaat. Sebagai contoh, Krokot telah digunakan sebagai bahan dasar bedak kosmetik karena kandungan antioksidan dan mineralnya yang tinggi. Selain itu, bunga Marigold atau Gemitir yang digunakan di Bali untuk keperluan religius, mengandung lutein yang bermanfaat bagi kesehatan mata dan kulit.

Potensi pasar bunga Marigold sendiri sangat fantastis. Kebutuhan di Bali mencapai 8 ton per hari dengan nilai ekonomi sekitar Rp200 miliar per tahun. Ironisnya, sebagian kebutuhan benih masih bergantung pada impor. “Kebutuhan mereka sebanyak 100 kilo (benih) per bulan, itu dipondong dari Thailand. Jadi tim kami berusaha untuk membuat benih sendiri,” tambah Prof. Lis.

Berangkat dari situ, mereka berusaha untuk membuat benih bunga Marigold sendiri dengan karakteristik yang lebih beragam, seperti bentuk yang lebih besar, ukuran, hingga warna.

Inovasi Melalui Mutasi Induksi

Menurut Prof. Lis, metode mutasi induksi ini lebih efisien dan ekonomis dibandingkan pendekatan bioteknologi lainnya. Selain itu, pemuliaan mutasi tidak tergantung pada ketersediaan pasangan tanaman induk (jantan dan betina) seperti metode hibridisasi.

“Jika tidak ada jantan dan betina, maka alternatif lain adalah dengan mutasi induksi untuk meningkatkan variasi genetik tanaman dengan menggunakan mutan,” jelas Prof. Lis. 

Keberhasilan Metode Mutasi Induksi

Keberhasilan metode ini telah dibuktikan melalui berbagai riset pada beragam jenis tanaman. Pada tanaman jeruk Kinnow yang mampu menghasilkan buah tanpa biji. Sementara pada tanaman herbal seperti jahe, dapat meningkatkan kandungan minyak atsirinya secara signifikan. 

Selain itu Tanaman Torbangun yang dikenal baik untuk meningkatkan kualitas ASI namun memiliki rasa getir yang kuat juga mengalami perubaha. "Dengan mutasi menggunakan EMS, bisa berhasil mengurangi rasa getirnya, sehingga rasa getirnya melemah, sehingga para responden yang kami gunakan itu sudah mulai menyukainya,"

Potensi pengembangan tanaman biofarmaka hasil mutasi ini di masa depan dinilai sangat tinggi, terutama untuk menyuplai industri kesehatan dan kosmetik.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya