Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menyebut cuaca ekstrem yang memicu banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dipengaruhi anomali siklon tropis yang terbentuk sangat dekat dengan garis ekuator. Fenomena itu, menurutnya, sangat jarang terjadi.
“Tahun ini cukup menarik perhatian meteorolog karena siklon tropis terbentuk di dekat ekuator, bahkan di bawah lintang lima derajat,” ujar Sonni dalam keterangan tertulis.
Dalam kondisi normal, ia menjelaskan, pembentukan siklon tropis mengikuti pergerakan matahari. Itu lazimnya terjadi di utara saat matahari berada di belahan utara, dan di selatan saat matahari berada di selatan. Namun, anomali tahun ini muncul karena siklon terbentuk sangat dekat dengan ekuator.
Dalam kesepatan terpisah, Kepala Pusat Sudi Sawit IPB University, Budi Mulyanto, menilai perkebunan kelapa sawit bukan menjadi penyebab utama banjir Sumatra. Ia menyebut intensitas hujan ekstrem sebagai faktor pemicu terbesar bencana hidrometeorologi tersebut.
Pernyataan itu merujuk pada penjelasan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat bersama Komisi V DPR RI pada Senin (1/12). Menurut BMKG, hujan yang turun pada akhir November mencapai level sangat ekstrem, setara akumulasi satu setengah bulan yang terjadi hanya dalam satu hari. Volume hujan sebesar itu tidak dapat diserap tanah dalam waktu singkat, sehingga memicu aliran permukaan sangat besar, bahkan di kawasan hutan sekalipun.
“Kalau intensitas hujannya sudah sebesar itu, kecepatan infiltrasi tidak mampu menampungnya. aliran pasti besar, bahkan di hutan belantara,” katanya.
BMKG mencatat curah hujan mencapai 411 mm dalam satu hari. Karena itu, Budi meminta agar bencana ini tidak dijadikan alasan menyalahkan penggunaan lahan tertentu.
“Kalau terus dijadikan momentum untuk menyerang karakter land use Indonesia, yang rugi justru kita sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, bencana serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Seluruhnya dipicu tingginya curah hujan akibat badai Siklon Tropis Senyar.
Guru Besar Kebijakan Kehutanan IPB University Sudarsono Soedomo menilai persoalan kehutanan Indonesia jauh lebih kompleks dari sekadar ekspansi sawit. Menurutnya, degradasi hutan sudah berlangsung sebelum sawit menjadi komoditas dominan, dipicu pembalakan liar, lemahnya tata kelola, serta ketiadaan penegakan kewenangan negara.
Ia menyebut banyak kawasan hutan rusak bukan karena berubah menjadi perkebunan, tetapi karena dibiarkan menjadi area “open access” tanpa kepastian hukum, tanpa pengelola, dan tanpa strategi pemulihan.
“Selama bertahun-tahun kelapa sawit dituduh sebagai penyebab utama hilangnya hutan. Narasi ini berulang, padahal faktanya lebih kompleks,” ujar Sudarsono. (Ant/E-3)
Gerakan ini merupakan sinergi lintas sektor yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan penuh dari pemerintah dan sektor swasta.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
LAILATUL BARA'AH atau yang akrab disebut Malam Nisfu Syakban di Provinsi Aceh dirayakan dengan penuh khidmat.
BNPB juga menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau sanak saudara. Bantuan tersebut sebesar Rp600 ribu per bulan.
KONDISI ekonomi korban banjir besar di Aceh benar-benar mengkhawatirkan.
Menurut analisis dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, kondisi cuaca yang memicu banjir tersebut merupakan dampak Siklon Tropis Senyar.
Hasil analisis menunjukkan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sebagian besar wilayah Riau dalam beberapa hari ke depan.
Siklon Tropis Senyar memberikan dampak berupa hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem di wilayah Aceh dan Sumut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved