Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

IPB: Pemicu Utama Banjir Sumatra adalah Anomali Siklon Tropis Senyar

Andhika Prasetyo
04/12/2025 06:46
IPB: Pemicu Utama Banjir Sumatra adalah Anomali Siklon Tropis Senyar
Ilustrasi(Antara)

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menyebut cuaca ekstrem yang memicu banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dipengaruhi anomali siklon tropis yang terbentuk sangat dekat dengan garis ekuator. Fenomena itu, menurutnya, sangat jarang terjadi.

“Tahun ini cukup menarik perhatian meteorolog karena siklon tropis terbentuk di dekat ekuator, bahkan di bawah lintang lima derajat,” ujar Sonni dalam keterangan tertulis.

Dalam kondisi normal, ia menjelaskan, pembentukan siklon tropis mengikuti pergerakan matahari. Itu lazimnya terjadi di utara saat matahari berada di belahan utara, dan di selatan saat matahari berada di selatan. Namun, anomali tahun ini muncul karena siklon terbentuk sangat dekat dengan ekuator.

Dalam kesepatan terpisah, Kepala Pusat Sudi Sawit IPB University, Budi Mulyanto, menilai perkebunan kelapa sawit bukan menjadi penyebab utama banjir Sumatra. Ia menyebut intensitas hujan ekstrem sebagai faktor pemicu terbesar bencana hidrometeorologi tersebut.

Pernyataan itu merujuk pada penjelasan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat bersama Komisi V DPR RI pada Senin (1/12). Menurut BMKG, hujan yang turun pada akhir November mencapai level sangat ekstrem, setara akumulasi satu setengah bulan yang terjadi hanya dalam satu hari. Volume hujan sebesar itu tidak dapat diserap tanah dalam waktu singkat, sehingga memicu aliran permukaan sangat besar, bahkan di kawasan hutan sekalipun.

“Kalau intensitas hujannya sudah sebesar itu, kecepatan infiltrasi tidak mampu menampungnya. aliran pasti besar, bahkan di hutan belantara,” katanya.

BMKG mencatat curah hujan mencapai 411 mm dalam satu hari. Karena itu, Budi meminta agar bencana ini tidak dijadikan alasan menyalahkan penggunaan lahan tertentu.

“Kalau terus dijadikan momentum untuk menyerang karakter land use Indonesia, yang rugi justru kita sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, bencana serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Seluruhnya dipicu tingginya curah hujan akibat badai Siklon Tropis Senyar.

Guru Besar Kebijakan Kehutanan IPB University Sudarsono Soedomo menilai persoalan kehutanan Indonesia jauh lebih kompleks dari sekadar ekspansi sawit. Menurutnya, degradasi hutan sudah berlangsung sebelum sawit menjadi komoditas dominan, dipicu pembalakan liar, lemahnya tata kelola, serta ketiadaan penegakan kewenangan negara.

Ia menyebut banyak kawasan hutan rusak bukan karena berubah menjadi perkebunan, tetapi karena dibiarkan menjadi area “open access” tanpa kepastian hukum, tanpa pengelola, dan tanpa strategi pemulihan.

“Selama bertahun-tahun kelapa sawit dituduh sebagai penyebab utama hilangnya hutan. Narasi ini berulang, padahal faktanya lebih kompleks,” ujar Sudarsono. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik