Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA cuaca ekstrem kembali menguji masyarakat Indonesia. Dalam sepekan terakhir, banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatra, mulai dari Aceh, Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar), meninggalkan kerusakan luas dan menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi di akhir tahun. Banjir Sumatra itu disebut terjadi akibat Siklon Tropis Senyar.
Menurut analisis dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, kondisi cuaca yang memicu banjir tersebut bukanlah gejala umum. Ia menyebut peristiwa ini dipengaruhi oleh sistem siklon tropis yang terbentuk sangat dekat dengan garis ekuator, lokasi yang selama ini dianggap aman dari pembentukan siklon.
“Tahun ini agak menarik perhatian para meteorologis karena siklon tropis terjadi di dekat ekuator, bahkan di bawah lintang 5 derajat,” ujarnya.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Siklon Tropis Senyar berasal dari bibit siklon 95B yang kemudian berkembang menjadi siklon tropis dengan kecepatan angin maksimum 43 knot (80 km/jam). Senyar adalah nama yang diberikan oleh India untuk siklon di kawasan North Indian Ocean. Sehingga meski berdampak ke Indonesia, penamaannya mengikuti aturan wilayah tersebut.
"Adapun dilansir dari Strait Times, lintasan Senyar mulai tercatat pada 25 November, mendarat di Indonesia pada 26 November, bergerak menuju Malaysia pada 27 November, dan bertahan hingga 28 November. Sebagai fenomena atmosfer baru yang menyita perhatian, Siklon Senyar juga memantik diskusi lebih luas di kalangan pakar meteorologi tanah air," paparnya.
Pendapat lain datang dari Dosen Meteorologi sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Dr. Deni Septiadi, yang menilai bahwa siklon ini membuka babak baru pemahaman dinamika cuaca di kawasan Samudra dan Benua Maritim Indonesia.
"Para peneliti meteorologi melihat Senyar bukan hanya sebagai badai tropis pertama yang mengalami genesis di lorong sempit Selat Malaka, tetapi sebagai fenomena yang membuka babak baru pemahaman kita tentang cuaca ekstrem di Benua Maritim Indonesia (BMI)," terangnya.
Deni menambahkan, fenomena tersebut bukan sekadar anomali, tetapi bukti konkret bahwa sistem atmosfer di kawasan ekuator semakin dinamis dan tidak lagi bisa diprediksi dengan pola lama. Catatan BMKG dan Citra Satelit, cakupan hujan ekstrem yang luas mencapai 200-400 milimeter per hari. Artinya atmosfer berpotensi menjatuhkan lebih dari 8–10 miliar ton air dalam sehari di wilayah Sumatra, setara dengan jutaan kolam renang olimpiade. Inilah sebabnya banjir dan longsor meluas, bahkan di wilayah yang sebelumnya tidak tercatat sebagai titik rawan.
"Senyar merupakan titik penting dalam sejarah meteorologi nasional. Pembentukan siklon ini melampaui pakem ilmiah yang selama ini diyakini. Senyar adalah satu-satunya siklon tropis yang genesisnya (asal mulanya) terjadi di kanal sempit Selat Malaka, sehingga layak disebut sebagai salah satu badai tropis paling anomali dalam sejarah meteorologi Indonesia,” ungkapnya.
Meski Indonesia bukan termasuk jalur utama siklon tropis seperti wilayah Pasifik barat, dampaknya kini terbukti tetap signifikan. Siklon Senyar mempercepat pembentukan awan hujan dalam skala luas, memperkuat angin muson, dan memicu hujan ekstrem hingga menimbulkan banjir bandang di beberapa titik.
“Dampaknya memang tidak sebesar daerah di luar batas lintang tersebut, tetapi potensi hujan ekstrem dan angin kencang tetap perlu diwaspadai,” lanjunya.
Dalam konteks perubahan iklim yang semakin kompleks, peristiwa Siklon Senyar menjadi alarm keras bagi kesiapsiagaan iklim Indonesia. Pemantauan satelit, peningkatan riset meteorologi serta sistem peringatan dini kini menjadi kebutuhan mendesak. (H-3)
Cuaca ekstrem yang memicu banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dipengaruhi anomali siklon tropis yang terbentuk sangat dekat dengan garis ekuator.
Hasil analisis menunjukkan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sebagian besar wilayah Riau dalam beberapa hari ke depan.
Siklon Tropis Senyar memberikan dampak berupa hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem di wilayah Aceh dan Sumut.
BMKG) melalui akun Instagram, Senin (9/2), mengeluarkan peringatan wilayah Jabodetabek masih akan terus diguyur hujan lebat hingga sangat lebat dalam beberapa hari
BMKG mencatat adanya pengaruh siklon tropis, bibit siklon tropis, serta sirkulasi siklonik yang memengaruhi dinamika atmosfer di kawasan Indonesia dan sekitarnya.
Selain pengaruh siklon tropis, kondisi cuaca ekstrem juga dipicu oleh menguatnya Monsun Asia serta aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin.
BMKG mengungkapkan bahwa kemunculan tiga bibit siklon tropis, masing-masing bernomor 94W, 92S, dan 98P, memicu belokan serta perlambatan angin yang membentuk daerah konvergensi.
Peringatan ini menegaskan pentingnya mitigasi bencana sejak awal, terutama melalui kebijakan tata guna lahan yang berbasis sains dan bukti ilmiah.
Pola hujan pada awal tahun 2026 di Pulau Jawa menunjukkan karakter yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved