Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJALANKAN pola makan sehat di wilayah pedesaan sering kali dianggap sebagai tantangan akses semata. Namun, penelitian terbaru menunjukkan faktor psikososial, seperti motivasi, kepercayaan diri, dan dukungan lingkungan sekitar, memegang peran yang jauh lebih krusial dibandingkan sekadar jarak rumah ke toko grosir terdekat.
Berdasarkan survei terhadap 2.420 orang dewasa di wilayah pedesaan New York dan Texas, para peneliti menemukan pola yang konsisten. Mereka yang merasa didukung oleh keluarga dan percaya diri dalam merencanakan menu makanan cenderung mengonsumsi lebih banyak buah, sayuran, dan serat. Sebaliknya, mereka yang memiliki dukungan sosial rendah lebih bergantung pada makanan ultra-proses (ultra-processed foods).
Rebecca Seguin-Fowler dari Texas A&M University mendokumentasikan motivasi dan kepercayaan diri berkorelasi langsung dengan kualitas gizi. Dalam studi ini, kenaikan satu poin pada skala motivasi atau kepercayaan diri setara dengan tambahan setengah cangkir asupan produk segar setiap hari.
Dukungan dari orang terdekat juga menjadi pembeda yang signifikan. Makan bersama keluarga dan adanya "dorongan halus" dari teman dapat membuat pilihan makanan sehat terasa lebih normal dan mudah dijalani. Menariknya, dukungan keluarga lebih berperan dalam mengurangi konsumsi makanan kemasan, sementara dukungan teman lebih kuat hubungannya dengan peningkatan asupan buah dan sayur.
“Orang dewasa di pedesaan menghadapi risiko tinggi terhadap kondisi kesehatan terkait diet, namun perilaku nutrisi di komunitas ini dibentuk oleh lebih dari sekadar akses terhadap makanan,” ujar Seguin-Fowler.
Meskipun faktor mental berperan besar, realitas ekonomi tetap tidak bisa diabaikan. Sekitar 40% responden melaporkan kerawanan pangan, di mana akses terhadap makanan bergizi tidak selalu terjamin setiap minggu. Hal ini sering kali memaksa keluarga memilih makanan ultra-proses yang lebih murah dan praktis untuk menyiasati anggaran yang ketat.
Data menunjukkan rata-rata asupan serat responden hanya 15 gram per hari, masih jauh dari target panduan diet nasional. Selain itu, kualitas diet secara keseluruhan hanya mencapai skor 1,5 dari 5 poin. Temuan ini menegaskan edukasi keterampilan memasak dan peningkatan kepercayaan diri harus berjalan beriringan dengan penyediaan stok pangan sehat yang terjangkau di toko-toko lokal.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition Education and Behavior ini menyarankan agar program nutrisi di masa depan tidak hanya fokus pada perbaikan stok di rak toko. Program tersebut harus mulai menyentuh sisi pembangunan karakter, seperti melatih keterampilan perencanaan makan dan membangun jaringan pendukung di tingkat komunitas.
Kombinasi antara ketersediaan pangan yang baik dan kesiapan mental masyarakat diharapkan dapat membawa perubahan jangka panjang bagi kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan.(Earth/Z-2)
Kekurangan asupan nutrisi bukan sekadar masalah fisik atau tubuh yang terlihat kurus. Lebih jauh, ketidakseimbangan gizi dapat mengganggu struktur fundamental otak.
Riset terbaru University of Bristol mengungkap makanan tanpa proses (unprocessed) membantu tubuh mengatur porsi makan secara alami dan mencegah obesitas.
Kesalahan nutrisi sering kali terjadi karena ketidaktahuan orangtua yang menganggap pola makan anak saat ini sebagai hal yang wajar.
Kesehatan otak seharusnya dirawat sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.
Asupan energi yang seimbang di pagi hari berperan dalam mendukung proses berpikir, daya ingat, serta kesiapan fokus anak saat belajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved