Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Kemenag Prediksi Awal Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026, Hormati Penetapan Muhammadiyah 18 Februari

Siti Yona Hukmana
11/2/2026 17:37
Kemenag Prediksi Awal Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026, Hormati Penetapan Muhammadiyah 18 Februari
ilustrasi.(MI)

PEMERINTAH, khususnya Kementerian Agama (Kemenag) menghormati penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah oleh Muhammadiyah pada 18 Februari 2026. Secara objektif kemungkinan perbedaan terbuka dan dapat dipahami secara ilmiah maupun fikih.

Namun, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Kemenag Profesor Abu Rochmad mengatakan, berdasarkan data hisab pada Selasa, 17 Februari 2026 ketinggian hilal di seluruh Indonesia di bawah ufuk berkisar antara minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik dan sudut elongasi 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.

"Ya, data-data hasil perhitungan astronomis atau hisab terkait dengan posisi hilal pada awal bulan Ramadan nanti, memang menunjukkan di seluruh Indonesia dari pojok timur sampai pojok barat itu masih di bawah ufuk," kata Profesor Abu eksklusif kepada Metro TV, Rabu (11/2).

Dalam konteks ini, Pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan pendekatan hisab dan rukyat yang terintegrasi, dengan berpedoman pada kriteria MABIMS dengan hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat sebagai kesepakatan regional. Menurut Abu, kriteria tersebut tidak hanya menilai wujud bulan secara astronomis, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan keterlihatan hilal secara empirik.

"Oleh karena itu, apabila mengacu pada kriteria tersebut, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026," ujar Abu.

Namun, pemerintah tetap mengimbau kepada masyarakat untuk menunggu hasil sidang isbat yang akan diputuskan pada Selasa, 17 Februari 2026 nanti. Adapun, penetapan awal Ramadan pada 18 Februari 2026 yang telah diumumkan Muhammadiyah berangkat dari metodologi dan kriteria yang berbeda, khususnya pendekatan kalender global berbasis hisab.

Menurut Abu, perbedaan ini bukanlah hal baru dalam tradisi penanggalan Islam, melainkan konsekuensi logis dari keberagaman cara umat Islam memaknai awal waktu ibadah. Abu menyampaikan itu adalah hak ormas Islam, pemerintah mendukung dan menghormati.

Ia berharap seluruh umat Islam juga bisa menghormati dan tidak mempertentangkan, meski berbeda dalam melaksanakan awal Ramadan. Apalagi, kata Abu, Indonesia sudah ratusan kali melakukan sidang isbat dengan berbagai macam kegiatan rukyatul hilal. Perbedaan penetapan awal Ramadan sudah biasa terjadi.

"Tapi Alhamdulillah selama ini meskipun berbeda kita tetap bersatu, kitq tetap rukun, damai, dan saling hormat-menghormati. Tapi kalau boleh diizinkan menghimbau, saya kira akan jauh lebih baik kalau kita memulai awal Ramadan nanti, kita mengakhiri bulan Ramadan, melaksanakan Idul Fitri itu semuanya kompak, semua umat Islam bareng bersama-sama itu jauh akan lebih baik, karena itu tampak betul siar Islamnya luar biasa terlihat," pungkas Abu. (Yon/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya