Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Modifikasi Bumbu hingga Tambah Sayur: Cara Sehat Konsumsi Mi Instan 

Basuki Eka Purnama
07/2/2026 20:22
Modifikasi Bumbu hingga Tambah Sayur: Cara Sehat Konsumsi Mi Instan 
Ilustrasi(Freepik)

MI instan sering kali dianggap sebagai makanan yang kurang sehat karena kandungan natrium dan lemaknya yang tinggi. Namun, Anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, mengungkapkan bahwa mi instan tetap bisa dikonsumsi dengan cara yang lebih sehat melalui modifikasi bumbu dan penambahan komponen gizi seimbang.

Menurut Diah, langkah utama untuk menekan risiko kesehatan dari mi instan adalah dengan mengontrol asupan natrium. 

Salah satu caranya adalah dengan mengurangi penggunaan bumbu instan bawaan dan menggantinya dengan bumbu dapur alami.

“Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan,” ujar Diah, dikutip Sabtu (7/2).

Ia mencontohkan, jika memasak untuk porsi keluarga sebanyak lima orang, cukup gunakan tiga bungkus bumbu bubuk saja. Kekurangan rasanya dapat ditutupi dengan menambahkan tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, hingga cabai segar. Langkah ini efektif untuk memangkas asupan garam tanpa menghilangkan cita rasa makanan.

Lengkapi Nutrisi dengan Protein dan Serat

Selain urusan bumbu, mi instan yang didominasi karbohidrat perlu dilengkapi dengan zat gizi lain agar lebih seimbang. Diah menyarankan penambahan lauk hewani seperti telur, ayam suwir, atau ikan sebagai sumber protein.

Tidak kalah penting, sayuran hijau seperti sawi, kangkung, ketimun, atau tomat juga harus disertakan. Kehadiran sayuran bukan hanya sebagai sumber serat, tetapi juga penyedia kalium yang berfungsi menyeimbangkan kadar natrium di dalam tubuh.

Diah juga mengingatkan agar konsumen tidak menambah beban natrium baru melalui pelengkap lainnya.

“Hindari penambahan saos dan kecap berlebihan karena akan menambah kandungan natrium, hindari penambahan pelengkap yang tinggi natrium seperti pilus, atau keripik asin dan tidak menghabiskan kuah mi, sehingga natriumnya dapat dikontrol,” tambahnya.

Waspada Klaim Mi Sehat

Terkait tren mi instan yang mengklaim lebih sehat, seperti label mi panggang atau Non-MSG, Diah meminta masyarakat untuk tetap kritis. Meski secara teknik pengolahan (dipanggang) mampu menurunkan kadar lemak hingga 40 persen dan energi hingga 50%, kandungan natriumnya belum tentu rendah.

“Untuk kandungan natrium pada produk mi diet ada perbedaan namun untuk jenis mi yg dipanggang tidak signifikan berbeda bahkan ada yang lebih tinggi tergantung varian rasanya, bisa di atas 1.500 milligram,” ungkap Diah.

Sebagai penutup, ia menekankan agar mi instan tidak dijadikan menu harian, melainkan sekadar makanan rekreasi. 

Masyarakat disarankan untuk tidak memasukkan mi instan ke dalam daftar belanja bulanan agar frekuensi konsumsinya tetap terjaga dan tidak menjadi kebiasaan sehari-hari. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya