Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MI instan sering kali dianggap sebagai makanan yang kurang sehat karena kandungan natrium dan lemaknya yang tinggi. Namun, Anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, mengungkapkan bahwa mi instan tetap bisa dikonsumsi dengan cara yang lebih sehat melalui modifikasi bumbu dan penambahan komponen gizi seimbang.
Menurut Diah, langkah utama untuk menekan risiko kesehatan dari mi instan adalah dengan mengontrol asupan natrium.
Salah satu caranya adalah dengan mengurangi penggunaan bumbu instan bawaan dan menggantinya dengan bumbu dapur alami.
“Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan,” ujar Diah, dikutip Sabtu (7/2).
Ia mencontohkan, jika memasak untuk porsi keluarga sebanyak lima orang, cukup gunakan tiga bungkus bumbu bubuk saja. Kekurangan rasanya dapat ditutupi dengan menambahkan tumisan bawang merah, bawang putih, kemiri, hingga cabai segar. Langkah ini efektif untuk memangkas asupan garam tanpa menghilangkan cita rasa makanan.
Selain urusan bumbu, mi instan yang didominasi karbohidrat perlu dilengkapi dengan zat gizi lain agar lebih seimbang. Diah menyarankan penambahan lauk hewani seperti telur, ayam suwir, atau ikan sebagai sumber protein.
Tidak kalah penting, sayuran hijau seperti sawi, kangkung, ketimun, atau tomat juga harus disertakan. Kehadiran sayuran bukan hanya sebagai sumber serat, tetapi juga penyedia kalium yang berfungsi menyeimbangkan kadar natrium di dalam tubuh.
Diah juga mengingatkan agar konsumen tidak menambah beban natrium baru melalui pelengkap lainnya.
“Hindari penambahan saos dan kecap berlebihan karena akan menambah kandungan natrium, hindari penambahan pelengkap yang tinggi natrium seperti pilus, atau keripik asin dan tidak menghabiskan kuah mi, sehingga natriumnya dapat dikontrol,” tambahnya.
Terkait tren mi instan yang mengklaim lebih sehat, seperti label mi panggang atau Non-MSG, Diah meminta masyarakat untuk tetap kritis. Meski secara teknik pengolahan (dipanggang) mampu menurunkan kadar lemak hingga 40 persen dan energi hingga 50%, kandungan natriumnya belum tentu rendah.
“Untuk kandungan natrium pada produk mi diet ada perbedaan namun untuk jenis mi yg dipanggang tidak signifikan berbeda bahkan ada yang lebih tinggi tergantung varian rasanya, bisa di atas 1.500 milligram,” ungkap Diah.
Sebagai penutup, ia menekankan agar mi instan tidak dijadikan menu harian, melainkan sekadar makanan rekreasi.
Masyarakat disarankan untuk tidak memasukkan mi instan ke dalam daftar belanja bulanan agar frekuensi konsumsinya tetap terjaga dan tidak menjadi kebiasaan sehari-hari. (Ant/Z-1)
Meski termasuk bumbu tradisional, terasi justru semakin relevan di era modern. Mulai dari sambal terasi, nasi goreng, tumis kangkung, sampai pelengkap hidangan kekinian.
BPKH melakukan terobosan mencakup peningkatan pasokan bumbu untuk catering, akomodasi hotel di Mekah dan Madinah, serta penyediaan makanan siap saji.
DALAM upaya memperkenalkan keragaman serta fungsi rempah-rempah nusantara khususnya kepada generasi muda, YNR menggelar pameran bertajuk Rempah dan Kita.
Chef Arnold Poernomo menyampaikan, sebagai chef profesional, dia tergerak untuk memberi solusi dengan membuat bumbu masak praktis yang sudah dikurasi dan dari pilihan bahan rempah terbaik.
Kecap berwarna hitam dan rasanya manis atau asin. Bahan dasar pembuatannya umumnya adalah kedelai atau kedelai hitam.
KETUA Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardy, menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam pola makan sehat.
Sayur biasanya dikonsumsi dalam keadaan segar, dimasak, direbus, dikukus, ditumis, atau dijadikan lalapan, dan berperan penting dalam pola makan sehat.
Kacang merah mengandung serat pangan tingkat tinggi, pati resisten dan protein, tetapi kadar lipid dan gula yang rendah.
Menurunkan berat badan bisa dilakukan dengan mengurangi asupan karbohidrat dan lemak dan meningkatkan jumlah sayur dan buah.
Kurang makan sayur bisa berdampak pada pencernaan, imunitas, kulit, hingga fungsi organ vital. Disarankan untuk mengonsumsi minimal 3 sampai 5 porsi sayur setiap hari agar
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved