Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Amnesty: Kasus Siswa Bunuh Diri di NTT Tamparan Keras bagi Negara

Devi Harahap
04/2/2026 18:51
Amnesty: Kasus Siswa Bunuh Diri di NTT Tamparan Keras bagi Negara
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid.(Dok. Antara)

SEORANG murid Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBS yang bunuh diri karena diduga tak mampu membeli buku tulis dan pena dinilai sebagai bukti nyata kegagalan negara dalam melindungi hak asasi manusia, khususnya hak anak atas pendidikan. 

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai tragedi anak bunuh diri itu bukan sekadar persoalan individual, melainkan produk dari kemiskinan struktural yang dibiarkan terus berlangsung.

“Apa yang terjadi di NTT adalah produk kemiskinan struktural. Ini tragedi kemanusiaan yang menyayat hati dan menjadi tamparan keras bagi negara yang gagal melindungi hak asasi manusia,” ujar Usman Hamid pada Rabu (4/2). 

Usman menilai, kematian YBS menghadirkan ironi besar dalam kebijakan anggaran negara. Di satu sisi, seorang anak kehilangan nyawa karena keluarganya tidak mampu membeli alat tulis dengan harga kurang dari Rp10.000, sementara di sisi lain negara mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk berbagai program.

“Saat seorang anak mengakhiri hidupnya untuk merespons beban kemiskinan keluarganya, negara justru akan menggelontorkan Rp17 triliun untuk biaya keanggotaan Board of Peace, Rp350 triliun untuk Makan Bergizi Gratis, dan Rp400 triliun untuk Koperasi Merah Putih,” kata Usman.

Menurut Usman, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah belum menyentuh akar persoalan kemiskinan yang berdampak langsung pada pemenuhan hak dasar anak, termasuk pendidikan. 

Selain itu, Usman menegaskan bahwa kematian YBS mencerminkan kegagalan negara dalam memastikan akses pendidikan yang utuh bagi anak-anak miskin.

“Hak pendidikan itu bukan hanya soal biaya sekolah, tetapi juga akses terhadap peralatan belajar mengajar. Kegagalan negara memastikan hal ini berdampak serius pada kondisi psikologis anak, terlebih dalam situasi kemiskinan ekstrem,” ujarnya.

Kemiskinan dan Kegagalan Sistem

Usman menjelaskan, kemiskinan tidak hanya membuat seseorang kekurangan secara ekonomi, tetapi juga menimbulkan rasa tersisih, hilangnya martabat, dan ketidakberdayaan, yang pada akhirnya memengaruhi partisipasi warga dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya.

“Kemiskinan membuat orang merasa suaranya tidak didengar. Tragedi ini seharusnya mendorong negara melakukan evaluasi total terhadap program pengentasan kemiskinan dan pendidikan gratis agar kasus seperti YBS tidak terulang,” tegasnya.

Di samping itu, Amnesty mengingatkan bahwa pendidikan layak merupakan hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945 serta Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (ICESCR) yang telah diratifikasi Indonesia.

“Negara wajib memenuhi hak itu, bukan hanya dengan membangun sekolah, tetapi memastikan setiap anak memiliki akses atas sarana pendukung pendidikan tanpa hambatan biaya,” kata Usman.

Lebih jauh, Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya hadir dalam narasi besar anggaran triliunan rupiah, tetapi absen ketika seorang siswa bunuh diri di NTT karena tidak memiliki buku dan pena.

“Keadilan sosial tidak akan pernah tegak selama akses pendidikan masih menjadi barang mewah bagi kaum miskin dan terus disepelekan oleh negara,” ujar Usman.

Sebelumnya, YBS ditemukan meninggal dunia di dekat sebuah pondok tempat ia tinggal bersama neneknya. Berdasarkan hasil pemeriksaan kepolisian, YBS diduga putus asa setelah ibunya tidak mampu memenuhi permintaannya untuk membeli buku tulis dan pena.

Hasil penyelidikan Polres Ngada juga mengungkapkan bahwa YBS diduga sempat menulis surat perpisahan berbahasa Ngada kepada ibunya, MGT, yang berisi permintaan agar sang ibu merelakan kepergiannya serta tidak menangis, mencari, atau merindukannya. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi dan masih mendalami kasus tersebut.

Kepala Desa Naruwolo, seperti dikutip dari media, menyebutkan bahwa pada malam sebelum kejadian, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli alat tulis. Namun permintaan itu tak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

YBS berasal dari keluarga miskin. Ibunya merupakan seorang janda dengan lima anak yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Demi meringankan beban keluarga, YBS tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana. (H-3)

 

Peringatan: Tulisan ini bukan dimaksudkan menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasa depresi, berpikir untuk bunuh diri, segera konsultasikan segala masalah Anda ke tenaga profesional seperti psikolog, klinik kesehatan mental, psikiater, dan pihak lain yang bisa membantu.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya