Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
BERBEDA dengan hewan, tanaman tidak bisa berjalan menjauh dari masalah. Begitu benih berkecambah, tanaman akan tetap berakar di tempat yang sama seumur hidupnya, menghadapi panas, dingin, hingga kekeringan yang datang tanpa peringatan.
Sebuah studi terbaru dari University of Pennsylvania mengungkap rahasia luar biasa di tingkat seluler tentang bagaimana tanaman menjaga keseimbangan antara tumbuh dan bereproduksi. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini menjelaskan fleksibilitas tanaman yang berpotensi membantu menciptakan tanaman pangan yang lebih kuat di tengah perubahan iklim.
Setiap tanaman menghadapi pilihan sulit dalam satu musim tanam, berbunga cepat lalu mati, atau berbunga secara bertahap sambil terus tumbuh. Tanaman pangan seperti padi biasanya berbunga cepat dan berhenti tumbuh setelah biji dihasilkan. Strategi ini efektif jika musim dapat diprediksi.
Namun, tanaman seperti Arabidopsis memilih jalan yang lebih aman namun lambat. Mereka terus tumbuh ke atas sambil memproduksi bunga di sisi-sisi batangnya, sebuah gaya pertumbuhan yang disebut indeterminate.
"Jika jendela kondisi optimal bergeser selama musim tersebut, pembungaan yang berkelanjutan akan meningkatkan peluang setidaknya beberapa benih tetap diproduksi," ujar Doris Wagner, ahli biologi tanaman sekaligus penulis pendamping studi tersebut.
Selama ini, ilmuwan bertanya-tanya bagaimana tanaman bisa berbunga di satu bagian namun menghambat pembungaan di bagian lainnya, padahal seluruh bagian tanaman menerima sinyal lingkungan yang sama.
Jawabannya ada pada struktur kecil di ujung tanaman yang disebut shoot apical meristem. Di sinilah sel punca bekerja untuk menjaga pertumbuhan. Saat suhu naik dan siang hari memanjang, tanaman memproduksi protein kecil bernama florigen (FT) yang memerintahkan sel untuk mulai berbunga.
Pada tanaman yang terus tumbuh, ujung pucuk bereaksi secara berbeda terhadap protein FT. Tim peneliti menemukan bahwa protein lain bernama TFL1 menjadi aktif di bagian pucuk untuk memblokir perintah berbunga dan melindungi sel punca.
Studi ini juga menyoroti peran protein ketiga bernama LEAFY (LFY). Di sebagian besar bagian tanaman, LFY merespons sinyal FT dengan menyalakan gen berbunga. Namun di ujung pucuk, LFY justru berperilaku mengejutkan dengan mengaktifkan TFL1 untuk mencegah pembungaan.
"Agak berlawanan dengan intuisi, kami menyadari bahwa LFY di pucuk pucuk mengaktifkan TFL1, dan keduanya membentuk loop umpan balik negatif," kata Wagner.
Sistem ini bekerja seperti termostat. Sinyal pembungaan yang kuat akan meningkatkan kadar LFY, yang kemudian memicu lonjakan TFL1. TFL1 kemudian menekan kembali kadar LFY agar ujung pucuk tidak berubah menjadi bunga secara tidak sengaja akibat perubahan cuaca yang singkat.
Memahami interaksi protein ini memberikan harapan baru bagi dunia pertanian. Tanaman pangan yang hanya berbunga sekali akan kesulitan menghadapi gelombang panas atau curah hujan yang tidak menentu akibat perubahan iklim.
"Respons terhadap perubahan iklim seharusnya bukan dengan mengubah lebih banyak lahan alami menjadi lahan pertanian," tegas Wagner. "Seharusnya dengan menggunakan lahan yang sudah kita tanami secara lebih efisien."
Dengan mempelajari tanaman yang sudah tahu cara menyeimbangkan pertumbuhan dan reproduksi, sektor pertanian diharapkan menjadi lebih tangguh tanpa harus memperluas jejak lingkungannya. (Earth/Z-2)
Studi terbaru mengungkap sisi emosional hilangnya gletser dunia. Dari tujuan wisata "kesempatan terakhir" hingga ritual pemakaman es, bagaimana manusia merespons kepunahan gletser?
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved