Genetik vs Gaya Hidup, Mana yang Lebih Menentukan Panjang Umur?

Thalatie K Yani
01/2/2026 06:00
Genetik vs Gaya Hidup, Mana yang Lebih Menentukan Panjang Umur?
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, masyarakat meyakini kunci panjang umur sepenuhnya berada di tangan pilihan gaya hidup, seperti diet ketat dan olahraga rutin. Namun, studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science mematahkan anggapan tersebut. Penelitian ini mengungkapkan faktor genetik ternyata memegang peran yang jauh lebih besar dalam menentukan berapa lama seseorang akan hidup.

Data terbaru menunjukkan genetika menyumbang lebih dari separuh perbedaan rentang hidup manusia, sekitar 55%. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari perkiraan para ilmuwan sebelumnya.

Mengapa Studi Sebelumnya Berbeda? 

Para peneliti menjelaskan studi terdahulu sering kali meremehkan pengaruh genetik karena menggunakan data dari orang-orang yang lahir sebelum abad ke-19. Pada masa itu, banyak orang meninggal muda akibat penyakit menular atau kecelakaan sebelum adanya vaksin dan sanitasi modern. Faktor lingkungan yang ekstrem tersebut akhirnya menutupi pengaruh genetik yang sebenarnya.

Uri Alon, penulis utama studi dari Weizmann Institute of Science di Israel, menjelaskan dengan "membersihkan" data dari faktor-faktor luar tersebut, efek genetik barulah terlihat jelas.

"Orang-orang sempat berpikir gen mungkin tidak relevan. Namun, kita sebenarnya memiliki rentang hidup genetik yang sudah ditentukan dalam gen kita," ujar Alon.

Batasan Gaya Hidup

Meski genetik mendominasi 55% takdir usia, sisanya tetap dipengaruhi faktor keberuntungan dan pilihan hidup. Namun, Alon memberikan catatan penting: gaya hidup sehat seperti olahraga, pola makan, dan koneksi sosial hanya mampu menggeser usia genetik seseorang sekitar lima tahun.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang secara genetik ditakdirkan hidup hingga usia 80 tahun bisa mencapai usia 85 tahun jika hidup sehat. Sebaliknya, kebiasaan buruk bisa memperpendek usianya menjadi 75 tahun.

"Tetapi kebiasaan sehat tidak akan membawa Anda dari usia 80 ke 100 tahun jika batas genetik Anda adalah 80," tegas Alon.

Kualitas Hidup vs Angka Usia

Temuan ini juga memicu perdebatan mengenai apa yang lebih penting: berapa lama kita hidup, atau seberapa sehat kita selama hidup. Dan Arking dari Johns Hopkins University berpendapat meningkatkan "masa kesehatan" (healthspan) jauh lebih berharga daripada sekadar menambah angka usia.

Hingga saat ini, belum diketahui apakah manusia bisa melampaui batas maksimal usia 122 tahun, rekor tertua yang pernah tercatat. Alon mencatat dalam 150 tahun terakhir, harapan hidup rata-rata memang meningkat dua kali lipat berkat medis, namun usia maksimal manusia hampir tidak bergeser.

Masa Depan Intervensi Medis

Meskipun hasil ini terdengar seperti "takdir" yang kaku, para ilmuwan melihatnya sebagai peluang. Dengan memahami mekanisme genetik yang menentukan penuaan, di masa depan peneliti mungkin bisa mengembangkan obat-obatan yang menargetkan proses penuaan itu sendiri, bukan hanya mengobati penyakit satu per satu.

Walaupun teknologi skrining usia genetik yang akurat masih butuh waktu puluhan tahun lagi, studi ini menjadi motivasi besar bagi penelitian genetik di masa depan. "Ini adalah 50% alam (genetik) dan 50% asuhan (lingkungan). Sekarang kita tahu umur panjang juga mengikuti pola yang sama," tutup Alon. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya