Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Morning Sickness hingga Preeklamsia, Masalah Kehamilan yang Dianggap Genetik

M Iqbal Al Machmudi
09/11/2025 11:26
Morning Sickness hingga Preeklamsia, Masalah Kehamilan yang Dianggap Genetik
Ilustrasi.(freepik)

FAKTOR genetik sangat mempengaruhi masa kehamilan ibu. Ibu hamil bisa jadi tidak merasakan apa-apa, atau mengalami mual yang biasa disebut morning sickness, hingga mengalami preeklamsia.

Berdasarkan laman JAMA Network preeklamsia hipertensi kehamilan dengan komplikasi organ menunjukkan beberapa varian risiko, misalnya variasi pada gen yang mempengaruhi fungsi vaskular dan plasenta. Hasil meta-analisis dan studi kohort melaporkan hubungan antara varian tertentu dan peningkatan risiko penyakit ini, sehingga genetik menjadi faktor penting dalam model prediksi risiko.

Selain itu, dari jurnal Nature berjudul GDF15 linked to maternal risk of nausea and vomiting during pregnancy dijelaskan bahwa hyperemesis gravidarum atau morning sickness berat dikaitkan dengan genomik gen-gen plasenta dan pengatur nafsu makan dengan risiko mual dan muntah parah pada kehamilan. 

Tidak hanya itu, sensitivitas ibu terhadap hormon GDF15 yang diproduksi plasenta/janin ternyata juga mempengaruhi seorang ibu mengalami hyperemesis atau tidak.

Selanjutnya yakni diabetes gestasional (GDM). Data genetik menunjukkan adanya kontribusi varian yang berkaitan dengan metabolisme glukosa, resistensi insulin, dan faktor risiko kardiometabolik. Genetik bukanlah satu-satunya penyebab, tetapi memperbesar kerentanan ketika dipadukan dengan faktor lingkungan. 

Deteksi risiko lebih awal diperlukan untuk bisa mengetahui riwayat keluarga karena itu bisa menjadi petunjuk klinis penting.

Kemudian pemantauan dan pencegahan yang lebih ditargetkan, wanita yang berisiko genetik tinggi bisa mendapat pemantauan lebih ketat seperti tekanan darah, pemeriksaan pertumbuhan janin, skrining gula darah atau intervensi dini seperti  aspirin dosis rendah pada risiko preeklamsia sesuai pedoman klinis. 

Pemahaman mekanisme biologis menemukan gen seperti GDF15 memberi arah baru bagi riset terapi misalnya target molekuler untuk mengurangi mual parah yang sebelumnya hanya fokus pada neurotransmiter. Terobosan ini berpotensi membuka pilihan pengobatan yang lebih efektif di masa depan. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya