Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PERHIMPUNAN Osteoporosis Indonesia (PEROSI) terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap osteoporosis yang kerap disebut sebagai penyakit "silent killer", karena berkembang tanpa gejala dan baru terdeteksi saat terjadi patah tulang yang berdampak serius pada kualitas hidup penderitanya.
Anggota PEROSI Bidang 2 Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, dr. Rosy Setiawati menjelaskan bahwa sebagian besar penderita osteoporosis tidak menyadari kondisi yang dialaminya hingga mengalami fraktur.
"Osteoporosis sering disebut silent killer karena pasien biasanya tidak sadar. Baru diketahui ketika sudah terjadi patah tulang, dan saat itu kualitas hidup pasien akan menurun secara signifikan," kata dr. Rosy di Jakarta, Minggu (25/1).
Ia menambahkan, patah tulang akibat osteoporosis bukan sekadar persoalan tulang rapuh, tetapi kerap disertai penyakit penyerta yang membuat penanganannya semakin kompleks.
"Kasus-kasus yang kami temui menunjukkan bahwa pasien dengan patah tulang sering memiliki penyakit pembawa atau komorbid. Inilah yang membuat masalah osteoporosis menjadi sangat kompleks," jelasnya.
Dr. Rosy menegaskan bahwa kompleksitas osteoporosis menuntut penanganan menyeluruh dan tidak dapat dilakukan oleh satu disiplin ilmu saja. PEROSI hadir sebagai wadah kolaborasi lintas bidang kedokteran dalam pencegahan dan penatalaksanaan osteoporosis.
"Melalui PEROSI, kami bersama-sama dari berbagai bidang ilmu yang saling menunjang dan membantu satu sama lain. Tujuannya bukan hanya mengobati, tetapi mencegah terjadinya patah tulang," ujarnya.
Penanganan osteoporosis, lanjutnya, harus dilakukan secara berkesinambungan, mulai dari deteksi dan diagnosis dini, terapi yang tepat, hingga rehabilitasi, agar pasien dapat kembali beraktivitas dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
"Mulai dari diagnosis, terapi obat, keamanan pasien, rehabilitasi, sampai akhirnya pasien diharapkan bisa kembali menjalani kehidupan sesuai harapan. Semua bidang memiliki peran dan tahapan masing-masing," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum PEROSI, dr. Tirza Z. Tamin menegaskan bahwa upaya pencegahan osteoporosis harus dimulai sejak usia dini. Menurutnya, pola hidup anak-anak saat ini berpotensi meningkatkan risiko osteoporosis di masa depan.
"Kita mengingatkan agar anak-anak sejak kecil tidak hanya bermain gawai, mengonsumsi junk food, kurang bergerak, hingga mengalami imobilisasi dan obesitas. Semua itu bisa mempercepat risiko osteoporosis," ujar dr. Tirza.
Ia menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam membentuk kebiasaan aktif pada anak sejak dini untuk memperkuat tulang dan otot.
"Anak-anak harus tetap aktif. Di rumah, ibu-ibu perlu mendorong aktivitas fisik. Di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler jangan hanya menari, tetapi juga olahraga seperti sepak bola atau aktivitas lain yang menguatkan otot dan tulang," ucapnya.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, PEROSI juga mengembangkan berbagai program aktivitas fisik yang mudah diakses masyarakat. Salah satunya adalah senam osteoporosis, yang dirancang khusus untuk menjaga kesehatan tulang.
Program latihan fisik tersebut, lanjutnya, dapat diakses melalui berbagai platform dan dirancang agar bisa dilakukan oleh berbagai kelompok usia, termasuk lansia.
PEROSI menilai edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan dampak osteoporosis. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap risiko osteoporosis sejak dini dan melakukan langkah pencegahan sebelum terjadi patah tulang.
"Setiap modul, setiap disiplin, punya perannya masing-masing. Semua ini kami lakukan untuk membangun kesadaran bahwa osteoporosis bisa dicegah dan ditangani lebih baik jika diketahui lebih awal," pungkasnya. (H-2)
Integrasi PET dan CT menghasilkan citra fusi komprehensif yang secara bersamaan mampu menampilkan fungsi sebagai hasil dari teknologi PET dan struktur sebagai hasil dari teknologi CT.
Kampanye ini bertajuk SWICC Stronger Together Journey dengan tema “Stronger in Awareness, Together in Detection”.
Pentingnya pemeriksaan diagnostik dalam mendukung upaya deteksi dini, khususnya pada penyakit jantung dan pembuluh darah.
Berbeda dengan herediter, kanker familia terjadi bukan karena mutasi gen, melainkan karena anggota keluarga hidup dalam satu ekosistem yang sama.
Pasien sering datang dengan kondisi umum yang sudah menurun sehingga mempersulit proses tindakan dan pemulihan.
Kemajuan teknologi medis saat ini menawarkan tingkat kesembuhan yang tinggi, asalkan masyarakat memiliki keberanian untuk melakukan deteksi dini kanker.
Peneliti HKUMed temukan protein Piezo1 yang bertindak sebagai sensor olahraga pada tulang. Inovasi obat baru untuk cegah osteoporosis tanpa gerak fisik.
Bone Scan terhadap lebih dari 500.000 orang di 16 kota, hasilnya menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bahwa lebih dari 50% di antaranya berisiko mengalami osteoporosis.
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada perempuan disebabkan erat kaitannya dengan hormon estrogen yang membantu metabolisme tulang.
Osteoporosis sering kali disebut sebagai silent disease, karena baru diketahui setelah terjadi patah tulang.
Pencegahan osteoporosis harus dimulai dari penerapan gaya hidup sehat dan aktif sejak usia muda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved