Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, penderita penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) diketahui memiliki risiko jauh lebih tinggi terkena kanker kolorektal. Namun, mekanisme di balik kaitan tersebut masih menjadi misteri. Baru-baru ini, para peneliti dari Weill Cornell Medicine berhasil mengidentifikasi sebuah rantai reaksi imun yang menjelaskan bagaimana peradangan kronis di usus berubah menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tumor.
Penelitian pr臨床 (preclinical) yang diterbitkan dalam jurnal Immunity ini mengungkap peran protein sinyal bernama TL1A. Protein ini memicu serangkaian proses sistemik yang melibatkan sel imun di usus hingga sumsum tulang, yang akhirnya merusak DNA dan mempercepat pembentukan tumor.
Studi ini berfokus pada kelompok sel imun khusus di usus yang disebut ILC3s. Saat protein TL1A mengaktifkan sel-sel ini, mereka melepaskan zat yang disebut granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF). Sinyal ini kemudian memerintahkan sumsum tulang untuk memproduksi sel darah putih jenis neutrofil secara besar-besaran, sebuah proses yang dikenal sebagai "granulopoiesis darurat."
Neutrofil-neutrofil ini kemudian mengalir masuk ke dalam usus. Alih-alih melawan infeksi, perilaku neutrofil ini telah "diprogram ulang" untuk mendukung pertumbuhan tumor. Mereka melepaskan molekul reaktif yang merusak DNA di lapisan usus dan menciptakan kondisi yang sangat ramah bagi sel kanker.
"Temuan ini penting mengingat tingginya minat komunitas medis untuk memahami peran TL1A dalam IBD dan potensi perannya dalam kanker kolorektal terkait. Di mana sebelumnya kita memiliki sedikit strategi untuk memitigasi risiko kanker tersebut," ujar penulis senior studi, Dr. Randy Longman, Direktur Jill Roberts Center for IBD.
IBD, yang mencakup penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, diderita oleh jutaan orang di seluruh dunia. Ketika kanker berkembang pada penderita IBD, penyakit ini sering muncul di usia lebih muda dengan hasil akhir yang cenderung lebih buruk.
Kabar baiknya, penelitian ini juga menemukan bahwa pola aktivitas gen yang mendorong tumor pada neutrofil tampak berkurang secara signifikan pada pasien yang menerima pengobatan eksperimental pemblokir TL1A. Hal ini membuka peluang bagi pengembangan obat-obatan baru yang tidak hanya mengobati peradangan usus, tetapi juga sekaligus menurunkan risiko kanker kolorektal secara presisi.
"Saya rasa ini akan menjadi hal yang menarik bagi para klinisi di bidang IBD untuk mengetahui bahwa ada proses sistemik yang bekerja di sini, yang melibatkan usus dan sumsum tulang," tambah Dr. Sílvia Pires, anggota Longman Laboratory.
Ke depannya, tim peneliti akan terus menyelidiki apakah paparan dini terhadap sinyal-sinyal ini dapat menjadi cara untuk mendeteksi risiko IBD dan kanker lebih awal, sehingga strategi pencegahan bisa dilakukan sebelum penyakit berkembang lebih jauh. (Science Daily/Z-2)
Studi Harvard mengungkap konsumsi makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko kanker usus pada wanita hingga 45%, terutama usia di bawah 50 tahun.
Dari 2013 hingga 2017, angka kejadian kanker usus meningkat di 27 dari 50 negara yang termasuk dalam analisis untuk orang di bawah usia 50 tahun.
Secara keseluruhan, angka kasus kanker kolorektal telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tren berbeda justru terlihat pada kelompok usia muda.
Meskipun umumnya menyerang orang dewasa berusia lanjut, kanker kolorektal kini semakin sering ditemukan pada usia muda.
Kanker kolorektal atau kanker usus besar selama ini dikenal sebagai penyakit yang menyerang orang berusia lanjut.
MERAYAKAN kehadirannya ke-10 sejak berdiri pada 2015, Widya Esthetic Clinic menghadirkan layanan pengobatan gratis Terapi Imunologi Sel bagi masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved