Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Peneliti Usul Serat Jadi Nutrisi Esensial Pertama dalam 50 Tahun

Thalatie K Yani
22/1/2026 12:44
Peneliti Usul Serat Jadi Nutrisi Esensial Pertama dalam 50 Tahun
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, serat makanan sering kali dianggap sebagai komponen pelengkap yang duduk manis di label nutrisi, kalah populer dibandingkan protein atau vitamin. Namun, penelitian terbaru dari University of Otago, Selandia Baru, menunjukkan serat layak mendapatkan peran yang jauh lebih besar dalam sistem kesehatan global.

Para ilmuwan gizi kini berargumen bahwa serat makanan telah memenuhi standar yang sama dengan vitamin dan asam amino untuk diakui secara resmi sebagai nutrisi esensial. Jika usulan ini diadopsi oleh otoritas kesehatan dunia, serat akan menjadi nutrisi baru pertama yang ditambahkan ke kelompok esensial dalam lebih dari 50 tahun terakhir.

Alasan Serat Setara dengan Vitamin

Nutrisi disebut esensial jika ia mendukung fungsi dasar tubuh, tidak dapat diproduksi sendiri oleh manusia, dan asupan yang rendah terbukti memicu penyakit. Berdasarkan tinjauan terhadap riset selama 100 tahun, serat memenuhi semua kriteria tersebut.

“Beban penyakit yang terkait dengan diabetes, penyakit jantung, dan kanker kolorektal diperkirakan akan berkurang secara nyata melalui perubahan pola makan ini,” ujar Andrew Reynolds, Profesor di University of Otago.

Data riset menunjukkan peningkatan asupan serat secara konsisten memperbaiki berat badan, kolesterol, kadar gula darah, dan tekanan darah. Dalam jangka panjang, mereka yang mengonsumsi serat tinggi memiliki risiko kematian dini yang jauh lebih rendah.

Kunci Kesehatan Mikrobioma Usus

Salah satu alasan mengapa serat belum mendapatkan status esensial sebelumnya adalah karena tidak adanya penyakit "defisiensi" yang jelas seperti skurvi (akibat kekurangan vitamin C). Namun, riset mikrobioma modern memberikan jawabannya.

“Mikrobioma usus hidup hampir secara eksklusif dari serat makanan yang kita makan,” jelas Profesor Jim Mann, salah satu penulis studi tersebut. Tanpa serat yang cukup, bakteri baik dalam usus kehilangan fungsinya, menyebabkan ketidakseimbangan sistem kekebalan dan kesehatan secara keseluruhan.

Murah dan Mudah Didapat

Rata-rata orang hanya mengonsumsi sekitar 20 gram serat per hari, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan setidaknya 25 gram. Kabar baiknya, menutup celah 5 gram tersebut sangatlah mudah dan terjangkau.

Beberapa tips sederhana untuk meningkatkan asupan serat meliputi:

  • Beralih ke Biji-bijian Utuh: Memilih gandum utuh atau oat sebagai menu sarapan.
  • Gunakan Legum: Mengganti atau mencampur daging dengan kacang-kacangan seperti buncis, kacang merah, atau lentil dalam masakan.
  • Sayuran dalam Segala Bentuk: Sayuran segar, beku, maupun kalengan tetap menjadi sumber serat yang sangat baik.

Jika status serat berubah menjadi nutrisi esensial, hal ini akan mengubah pedoman diet global, program edukasi sekolah, hingga kebijakan label pada kemasan pangan. Serat tidak lagi menjadi "tambahan opsional", melainkan bagian kunci dari strategi kesehatan jangka panjang manusia. Penelitian ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah Nature Food. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya