Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Hormon Estrogen Jadi Kunci Mengapa Perempuan Lebih Sering Mengalami Nyeri Usus

Thalatie K Yani
21/1/2026 12:38
Hormon Estrogen Jadi Kunci Mengapa Perempuan Lebih Sering Mengalami Nyeri Usus
Ilustrasi(freepik)

PENYAKIT iritasi usus besar atau Irritable Bowel Syndrome (IBS) selama ini diketahui menyerang perempuan dua kali lebih sering dibandingkan pria. Sebuah studi terbaru pada tikus yang dipublikasikan dalam jurnal Science memberikan titik terang. Perbedaan cara sel usus merespons hormon estrogen kemungkinan besar menjadi penyebab mengapa perempuan mengalami nyeri usus yang lebih sering dan parah.

IBS memengaruhi sekitar 10% hingga 15% orang di seluruh dunia dengan gejala seperti nyeri, sembelit, diare, hingga kembung. Meski stres dan makanan tertentu dikenal sebagai pemicu, alasan di balik ketimpangan gender dalam kasus ini sebelumnya sulit dijelaskan secara medis.

Rantai Reaksi Estrogen di Usus

Para peneliti menemukan estrogen, hormon seks utama perempuan, dapat memicu reaksi berantai di usus yang membuat saraf di area tersebut menjadi lebih sensitif terhadap rasa sakit.

"Kami sudah lama menduga bahwa hormon perempuan berperan dalam nyeri usus, namun mekanisme pastinya belum jelas," ujar David Julius, ahli neurofisiologi dari University of California, San Francisco, kepada Live Science. "Temuan kami menunjukkan jalur yang jelas tentang bagaimana estrogen dapat memperkuat sinyal rasa sakit."

Dalam eksperimen tersebut, tikus betina menunjukkan sensitivitas usus yang lebih tinggi dibandingkan tikus jantan. Namun, ketika produksi estrogen dihentikan, tingkat sensitivitas tersebut menurun hingga setara dengan tikus jantan.

Peran Sel Langka dan Hormon PYY

Penelitian ini mengungkap mekanisme yang mengejutkan. Alih-alih bekerja langsung pada sel penghasil serotonin, estrogen justru memengaruhi sel langka di lapisan usus yang disebut sel-L.

Saat sel-L mendeteksi estrogen, mereka meningkatkan produksi reseptor bernama OLFR78. Reseptor ini bertugas mendeteksi asam lemak rantai pendek hasil pencernaan bakteri usus. Hal ini memicu sel-L melepaskan hormon yang disebut PYY dalam jumlah lebih banyak. Hormon PYY inilah yang kemudian merangsang sel tetangga untuk melepaskan serotonin ekstra, yang akhirnya mengaktifkan saraf pengirim sinyal nyeri ke otak.

"Karena kadar estrogen berfluktuasi sesuai siklus menstruasi, mekanisme ini memberikan wawasan tentang perubahan tingkat keparahan IBS yang terlihat pada perempuan," kata Marissa Scavuzzo, asisten profesor di Case Western Reserve University School of Medicine, yang tidak terlibat dalam studi ini.

Harapan untuk Terapi Masa Depan

Temuan ini tidak hanya memvalidasi pengalaman pasien perempuan yang sering kali keluhannya diabaikan, tetapi juga membuka peluang terapi baru. Peneliti menyarankan PYY dan OLFR78 bisa menjadi target potensial untuk mengobati IBS pada perempuan.

Meski demikian, para ahli menekankan hasil pada tikus ini perlu diuji lebih lanjut melalui studi klinis pada manusia. "Model tikus memberi kita titik awal, tetapi studi klinis sangat penting sebelum kita dapat membuat kesimpulan pasti tentang nyeri usus pada manusia," tutup David Julius. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya