Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Buah kecapi (Sandoricum koetjape), atau yang akrab disapa buah sentul di beberapa daerah, merupakan buah tropis dengan karakteristik unik. Daging buahnya yang berwarna putih bersih menyelimuti biji besar, memberikan sensasi rasa asam dan manis yang seimbang. Meski kini keberadaannya mulai langka, manfaat kesehatan yang ditawarkan buah ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
Untuk memahami mengapa buah ini sangat berkhasiat, mari kita lihat profil nutrisinya berdasarkan data kesehatan:
| Komponen Gizi | Jumlah |
|---|---|
| Energi | 88 kkal |
| Serat Pangan | 1,2 - 1,5 g |
| Vitamin C | 14 - 86 mg |
| Kalsium | 4,3 mg |
| Kalium | 328 mg |
| Zat Besi | 0,4 - 1,2 mg |
| Pektin | 14,89 mg |
Salah satu keunggulan utama buah kecapi adalah kandungan serat larut air yang disebut pektin. Pektin bekerja dengan cara mengikat kolesterol di dalam saluran pencernaan dan mencegahnya diserap ke dalam aliran darah. Dengan konsumsi rutin, risiko pembentukan plak pada pembuluh darah (aterosklerosis) dapat diminimalisir.
Bagi penderita diabetes atau mereka yang berisiko, kecapi adalah pilihan buah yang aman. Buah ini memiliki Indeks Glikemik (IG) yang rendah, sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis setelah dikonsumsi. Seratnya juga membantu memperlambat penyerapan glukosa.
Kandungan vitamin C dan antioksidan polifenol dalam kecapi berperan aktif dalam memperkuat sel darah putih. Hal ini membantu tubuh lebih efektif melawan infeksi virus dan bakteri, serta mempercepat proses penyembuhan luka.
Tekstur daging buah kecapi yang berserat berfungsi sebagai pencahar alami. Serat ini menambah massa feses dan melembutkannya, sehingga proses buang air besar menjadi lebih lancar dan mencegah tekanan berlebih pada pembuluh darah di anus yang memicu wasir.
Penelitian modern telah mengidentifikasi senyawa bioaktif dalam kecapi seperti Asam Sentulic dan Asam Koetjapic. Senyawa ini diketahui memiliki sifat sitotoksik terhadap beberapa jenis sel kanker, termasuk sel leukemia dan kanker payudara. Meskipun masih memerlukan penelitian klinis lebih lanjut pada manusia, potensi ini menjadikan kecapi sebagai subjek riset onkologi yang menarik.
Kecapi mengandung zat besi yang cukup untuk mendukung produksi hemoglobin. Kehadiran vitamin C dalam buah yang sama juga membantu tubuh menyerap zat besi tersebut secara lebih optimal, menjadikannya kombinasi alami yang baik untuk mencegah gejala kurang darah atau anemia.
Sangat tidak disarankan untuk menelan biji buah kecapi. Biji kecapi memiliki ukuran yang besar dan licin, sehingga berisiko menyebabkan tersedak atau penyumbatan pada saluran pencernaan (impaksi usus) yang bisa berakibat fatal dan memerlukan tindakan operasi.
Cara paling umum adalah dengan memakan langsung daging buahnya yang menempel pada biji (dengan cara dihisap). Namun, kulit bagian dalam yang berdaging tebal juga bisa dikonsumsi. Masyarakat sering mengolahnya menjadi manisan, rujak, atau bahkan campuran dalam masakan ikan untuk memberikan rasa asam yang segar.
Penyebutan ini merujuk pada nama daerah atau varietas lokal. Di banyak tempat di Indonesia, istilah "Sentul" lebih populer digunakan, sementara nama "Kecapi" seringkali tertukar dengan nama alat musik petik tradisional.
Dengan segala manfaatnya, buah kecapi layak kembali mendapatkan tempat di meja makan kita. Selain mendukung kesehatan jantung dan pencernaan, mengonsumsi buah lokal ini juga membantu melestarikan kekayaan hayati Indonesia yang mulai langka. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved