Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA bertahun-tahun, diet jus diklaim meyegarkan sistem tubuh dan bahkan dapat "mendetoksifikasi" tubuh. Beberapa orang mengatakan diet ini dapat meningkatkan penurunan berat badan. Namun, penelitian menemukan diet jus sebenarnya dapat membahayakan mikrobioma usus.
Studi yang diterbitkan pada Januari di jurnal Nutrients menunjukkan melakukan diet jus selama tiga hari saja dapat memengaruhi kesehatan usus Anda. Hal ini berpotensi berdampak besar pada kesehatan pencernaan dan kognitif Anda, kata para peneliti.
Studi kecil ini melibatkan 14 orang yang mengikuti salah satu dari tiga diet selama tiga hari, diet jus murni, diet jus dan makanan, atau diet berbasis tumbuhan. Peserta memberikan sampel tinja, air liur, dan bagian dalam pipi sebelum dan sesudah menjalani diet, serta 14 hari setelah mereka menyelesaikan rencana makan tersebut.
Para peneliti menemukan orang-orang yang menjalani diet jus memiliki "kelimpahan" bakteri inflamasi. Hal itu mereka kaitkan dengan kandungan gula tinggi dan serat rendah dalam diet jus tersebut.
Bakteri yang terkait dengan permeabilitas usus (kemampuan lapisan usus untuk mengontrol apa yang masuk ke aliran darah), peradangan, dan penurunan kognitif juga meningkat pada kelompok yang menjalani diet jus.
“Temuan ini menunjukkan konsumsi jus jangka pendek dapat berdampak negatif pada mikrobiota,” tulis para peneliti dalam kesimpulannya.
Para ahli nutrisi yang kami ajak bicara mengatakan mereka tidak terkejut dengan temuan penelitian tersebut. “Temuan ini menambah bukti yang semakin banyak bahwa intervensi diet jangka pendek dapat secara signifikan memengaruhi mikrobioma,” kata Scott Keatley, RD, salah satu pemilik Keatley Medical Nutrition Therapy .
Marie Borum, MD, MPH ., direktur divisi gastroenterologi di George Washington University Medical Faculty Associates, mengatakan sulit menarik kesimpulan besar dari studi kecil ini. “Meskipun demikian, studi ini menunjukkan pentingnya memahami kandungan nutrisi jus dan memprioritaskan asupan serat dalam diet,” katanya.
Ada beberapa alasan potensial untuk hal ini. “Ketika Anda makan buah dan sayuran, Anda mendapatkan serat yang sangat bagus,” kata Jessica Cording, RD ., penulis buku The Little Book of Game-Changers . “Tetapi ketika Anda membuat jus dari makanan tersebut, Anda kehilangan sebagian besar seratnya. Yang tersisa sebagian besar adalah gula.”
Menurut Cording, pola makan tinggi gula dan rendah serat "bukanlah hal yang bermanfaat bagi kesehatan, termasuk kesehatan usus."
Keatley menjelaskan proses pembuatan jus juga menghilangkan serat tidak larut, yang menambah volume feses dan membantu menjaga pencernaan tetap teratur. "Serat tidak larut sangat penting untuk memberi makan bakteri baik di usus dan menjaga integritas usus," jelasnya.
“Kurangnya serat dapat menyebabkan peningkatan jumlah bakteri yang berkembang biak dengan mengonsumsi gula sederhana, seperti Proteobacteria , yang dikaitkan dengan peradangan,” lanjut Keatley.
Mengonsumsi jus tidak dianggap sehat. “Saya sudah memohon kepada orang-orang untuk tidak melakukan diet jus selama 12 tahun,” kata Cording.
Dia menyebut janji penurunan berat badan yang cepat dan membantu tubuh melakukan detoksifikasi sebagai hal yang “menarik”. Namun Cording mengatakan hasil dari diet jus tidak seperti yang terlihat.
“Orang-orang menurunkan berat badan saat melakukan diet jus karena mereka makan lebih sedikit dan sering buang air kecil, dan mereka bahkan mungkin lebih sering buang air besar,” katanya. “Tetapi berat badan yang mereka turunkan sebagian besar adalah berat air.”
Tidak hanya dapat mengganggu mikrobioma usus Anda , yang membantu pencernaan dan berkontribusi pada sistem kekebalan tubuh, Cording mengatakan bahwa diet jus juga "sangat buruk untuk gula darah Anda," karena dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan gula darah.
"Jika Anda secara teratur mengalami lonjakan dan penurunan gula darah, Anda berisiko mengembangkan kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin , yang merupakan pendahulu dari perkembangan diabetes tipe 2," kata Cording.
Namun, peradangan tubuh juga menjadi perhatian besar. “Hal ini telah dikaitkan dengan kondisi kronis seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, dan gangguan neurodegeneratif,” kata Keatley.
“Meskipun diet jus selama tiga hari mungkin tidak menyebabkan kerusakan jangka panjang pada individu yang sehat, puasa jus yang berulang atau berkepanjangan dapat memiliki efek negatif kumulatif.”
Keatley memperingatkan agar tidak menjadikan jus sebagai strategi diet utama tetapi minum jus tetap boleh, hanya saja bukan sebagai satu-satunya sumber nutrisi. “Bagi mereka yang menikmati jus segar, memadukannya dengan makanan kaya serat seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau gandum utuh dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa dan mendukung kesehatan usus,” katanya.
Jika Anda ingin minum jus, Dr. Borum menyarankan untuk memadukannya dengan makanan utuh. "Hal ini dapat menyeimbangkan mikrobioma usus," katanya.
Cording menekankan buah dan sayuran asli tetap lebih baik untuk Anda. “Alih-alih diet jus, pertimbangkan bagaimana Anda dapat memasukkan lebih banyak produk kaya nutrisi ke dalam menu harian Anda dan memadukannya dengan sumber protein berkualitas baik dan lemak sehat. Minum banyak air juga,” katanya. “Hal-hal ini dapat meningkatkan sistem detoksifikasi alami tubuh, yaitu ginjal dan hati Anda.” (Prevention/Z-2)
Peneliti menemukan 168 bahan kimia yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri usus sehat dan memicu resistansi antibiotik.
GURU besar IPB University, Profesor Safika mengatakan kunci keberhasilan konservasi orang utan Sumatra adalah Mikrobioma. Mikrobioma adalah merupakan sekumpulan mikroorganisme di usus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved