Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Memahami Tren Kenaikan Kanker Kolorektal pada Usia Muda: Panduan Skrining dan Pola Makan

 Gana Buana
17/2/2026 22:33
Memahami Tren Kenaikan Kanker Kolorektal pada Usia Muda: Panduan Skrining dan Pola Makan
Memahami Tren Kenaikan Kanker Kolorektal pada Usia Muda.(Freepik)

MEMASUKI 2026, dunia medis menghadapi tantangan baru yang signifikan, pergeseran demografi penderita kanker usus besar atau kanker kolorektal. Jika dahulu penyakit ini dianggap sebagai "penyakit lansia", kini prevalensinya pada kelompok usia di bawah 50 tahun (milenial dan Gen Z) meningkat secara global hingga 2-3% setiap tahunnya.

Kondisi ini, yang dikenal sebagai Early-Onset Colorectal Cancer (EO-CRC), sering kali lebih agresif secara biologis. Namun, tantangan terbesarnya tetap pada keterlambatan diagnosis.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan pencernaan sejak dini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menekan angka kematian akibat kanker ini.

Mengapa Tren Ini Terjadi pada Usia Muda?

Para peneliti di tahun 2026 semakin yakin bahwa faktor epigenetik dan lingkungan memegang peranan lebih besar daripada sekadar faktor genetik. Beberapa pemicu utama di antaranya:

  • Konsumsi Makanan Ultra-Proses (UPF): Produk pangan industri yang tinggi zat aditif dan pengawet telah terbukti merusak lapisan mukosa usus.
  • Gangguan Mikrobioma Usus: Ketidakseimbangan bakteri baik (disbiosis) akibat diet rendah serat memicu peradangan kronis.
  • Gaya Hidup Sedenter: Durasi duduk yang lama berkaitan erat dengan lambatnya motilitas usus.
  • Paparan Mikroplastik: Studi terbaru menunjukkan akumulasi mikroplastik di saluran pencernaan dapat memicu stres oksidatif pada sel-sel kolorektal.

Kapan Usia Muda Harus Melakukan Skrining?

Banyak yang bertanya, "Apakah saya terlalu muda untuk kolonoskopi?". Jawabannya bergantung pada profil risiko Anda. Berikut adalah panduan skrining terbaru:

  • Risiko Rata-rata: Jika tidak ada gejala dan tidak ada riwayat keluarga, skrining disarankan dimulai pada usia 45 tahun.
  • Risiko Tinggi: Jika ada keluarga inti yang terdiagnosis, skrining dimulai 10 tahun lebih awal dari usia saat mereka terdiagnosis.
  • Gejala Persisten: Jika ada perubahan pola BAB atau darah pada feses selama lebih dari 2 minggu, skrining harus dilakukan segera tanpa memandang usia.

Panduan Pola Makan: Benteng Pertahanan Usus

Pencegahan kanker kolorektal dimulai dari meja makan. Terapkan langkah berikut:

  1. Tingkatkan Serat: Targetkan 30 gram serat per hari dari gandum utuh, kacang-kacangan, dan sayuran hijau.
  2. Pilih Probiotik Alami: Konsumsi tempe, yoghurt, atau kimchi untuk menjaga keragaman bakteri baik.
  3. Batasi Daging Merah: Maksimal 350-500 gram per minggu dan hindari daging olahan (sosis/kornet).
  4. Hidrasi Optimal: Air putih membantu serat bekerja melancarkan pembuangan sisa metabolisme.

Jenis Skrining yang Tersedia

Deteksi dini adalah kunci keberhasilan pengobatan. Beberapa metode yang umum digunakan antara lain:

  • Kolonoskopi: Prosedur standar emas untuk melihat kondisi usus dan mengangkat polip sebelum berubah menjadi kanker.
  • Fecal Immunochemical Test (FIT): Tes berbasis tinja untuk mendeteksi darah samar secara non-invasif.
  • Sigmoidoskopi: Pemeriksaan pada bagian bawah usus besar (kolon sigmoid). (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik