Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Jangan Malu, Pola Buang Angin Ternyata Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Anda

Thalatie K Yani
25/1/2026 11:00
Jangan Malu, Pola Buang Angin Ternyata Bisa Ungkap Kondisi Kesehatan Anda
Ilustrasi(gemini AI)

DALAM interaksi sosial, buang angin atau kentut sering kali dianggap sebagai hal memalukan atau sekadar bahan candaan. Namun, bagi para pakar kesehatan, pola gas yang keluar dari tubuh, mulai dari bau, suara, hingga frekuensinya, adalah indikator penting mengenai apa yang sedang terjadi di dalam sistem pencernaan Anda.

Kabar baiknya, hampir 100% manusia melakukan buang angin. Ini adalah proses biologis yang sepenuhnya normal. Namun, memperhatikan perubahan polanya dapat memberikan wawasan berharga kapan tubuh Anda sedang memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Mengapa Kentut Berbau?

Banyak orang bertanya-tanya mengapa beberapa gas tidak berbau, sementara yang lain sangat tajam. "Sebagian besar gas sebenarnya tidak berbau, dan aroma berasal dari sejumlah kecil senyawa mengandung belerang yang dihasilkan selama pencernaan," jelas Shy Vishnumohan, pakar diet berlisensi.

Saat bakteri usus memfermentasi makanan, mereka melepaskan gas sebagai produk sampingan. Bau ini bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi dan keseimbangan mikrobiota di usus. Meski perubahan bau sesekali adalah hal normal, aroma yang sangat tajam dan menetap, terutama jika dibarengi kembung, sembelit, atau diare, bisa menjadi sinyal malabsorpsi karbohidrat atau pertumbuhan bakteri berlebih di usus kecil (SIBO).

Rahasia di Balik Suara dan Frekuensi

Apakah gas keluar secara perlahan atau dengan suara keras, ternyata tidak ada hubungannya dengan tingkat kesehatan usus Anda. Pakar diet berlisensi Ava Safir menjelaskan suara buang angin bersifat mekanis, bergantung pada volume gas, kecepatan geraknya, serta kekencangan otot sfingter yang dilewatinya.

Mengenai frekuensi, buang angin hingga 20 kali sehari masih dikategorikan normal. Lonjakan frekuensi biasanya dipicu oleh konsumsi karbohidrat yang mudah terfermentasi, seperti kacang-kacangan, pemanis buatan, atau intoleransi terhadap laktosa dan fruktosa. Jika Anda sedang meningkatkan asupan serat, peningkatan gas ini biasanya bersifat sementara dan akan kembali normal dalam dua hingga enam minggu.

Kapan Anda Harus Waspada?

Meski membuang gas adalah tanda pencernaan yang aktif, ada beberapa tanda bahaya yang mengharuskan Anda segera berkonsultasi dengan dokter:

  • Darah pada Tinja: Baik berwarna merah terang maupun gelap, darah bisa menjadi indikasi wasir hingga penyakit serius seperti kanker usus besar.
  • Nyeri Hebat: "Buang angin seharusnya tidak menyebabkan kram secara rutin atau nyeri perut yang tajam," tegas Safir. Nyeri ini bisa menandakan adanya sensitivitas usus yang tinggi atau intoleransi makanan.
  • Gejala yang Memburuk: Kembung atau ketidaknyamanan yang berlangsung selama berminggu-minggu, bukan hitungan hari.
  • Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab: Jika disertai hilangnya nafsu makan, ini bisa berarti penyerapan nutrisi dalam tubuh tidak bekerja optimal.

Mengenali pola buang angin bukan hanya tentang mengatasi rasa malu, tetapi tentang memahami bahasa tubuh Anda. Sebagian besar perubahan harian bersifat tidak berbahaya, namun gejala yang menetap adalah alarm alami tubuh yang layak mendapatkan perhatian medis profesional. (Eating Well/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya