Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA mencatatkan kemajuan dalam penanganan gizi buruk dengan turunnya angka stunting nasional menjadi 19,8% pada 2024, dibandingkan 21,5% pada tahun sebelumnya.
Namun, di tengah tren positif ini, muncul tantangan baru yang mengintai kesehatan anak-anak Indonesia, yakni hidden hunger atau kelaparan terselubung.
Dokter Gizi Klinik dari Primaya Hospital Tangerang, dr. Monique Carolina Widjaja, M. Gizi, Sp.GK, memperingatkan bahwa banyak anak yang secara fisik tampak sehat dan aktif, ternyata mengalami kekurangan zat gizi mikro esensial seperti zat besi, zinc, dan vitamin D. Kondisi ini umumnya dipicu oleh pola makan yang tidak seimbang.
Menurut Monique, kesalahan nutrisi sering kali terjadi karena ketidaktahuan orangtua yang menganggap pola makan anak saat ini sebagai hal yang wajar.
MI/HO--Dokter Gizi Klinik dari Primaya Hospital Tangerang, dr. Monique Carolina Widjaja, M. Gizi, Sp.GK"Banyak orangtua fokus pada rasa kenyang, bukan kandungan gizi. Akibatnya, anak mendapat asupan karbohidrat berlebih, tetapi kekurangan protein hewani dan mikronutrien penting," ujar dr. Monique.
Kondisi ini memperparah fenomena triple burden of malnutrition di Indonesia, yaitu beban ganda berupa stunting, obesitas, dan defisiensi mikronutrien.
Monique menyoroti peningkatan konsumsi makanan ultraproses (ultra-processed food/UPF) seperti nugget, sosis, dan camilan kemasan sebagai salah satu pemicu utama.
"Makanan ini sangat lezat dan praktis, tapi rendah kualitas gizi. Dalam jangka panjang, dapat merusak sinyal kenyang alami, memicu obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak usia muda," tegasnya.
Masalah hidden hunger sering kali tidak terdeteksi karena gejalanya tidak kasat mata. Orangtua diminta waspada jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti mudah lelah, sulit berkonsentrasi, sariawan berulang, hingga rambut kusam dan kuku rapuh.
"Anak bisa terlihat sehat dan aktif, tapi secara biologis tubuhnya kekurangan zat gizi penting. Inilah yang disebut hidden hunger. Gejala-gejala ini sering dianggap sepele atau bagian dari fase tumbuh kembang, padahal bisa menjadi sinyal awal malnutrisi," tambahnya.
Sebagai langkah preventif, Monique menekankan pentingnya skrining gizi rutin yang mencakup pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan), pemeriksaan fisik, hingga evaluasi pola makan.
Jika diperlukan, pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk memastikan status mikronutrien anak.
Ia menutup dengan pesan kuat bahwa intervensi nutrisi tidak boleh ditunda karena dampaknya akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
"Nutrisi anak tidak boleh ditunda atau disepelekan. Apa yang masuk ke piring anak hari ini akan menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing di masa depan. Skrining gizi sebaiknya menjadi bagian dari perawatan kesehatan anak, sama pentingnya dengan imunisasi," pungkas Monique. (Z-1)
Gemas sama anak orang boleh, tapi jangan main cium, pegang, apalagi asal suapin. Kita gak tau kuman apa yang nempel di tangan kita.
Penguatan pelayanan kesehatan primer, terutama Puskesmas dan Posyandu, harus menjadi prioritas dalam strategi nasional penanganan kesehatan mental anak.
Pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dinilai masih berisiko tertinggal dari rata-rata dunia dan dapat menjadi ancaman serius di masa depan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved