Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA mencatatkan kemajuan dalam penanganan gizi buruk dengan turunnya angka stunting nasional menjadi 19,8% pada 2024, dibandingkan 21,5% pada tahun sebelumnya.
Namun, di tengah tren positif ini, muncul tantangan baru yang mengintai kesehatan anak-anak Indonesia, yakni hidden hunger atau kelaparan terselubung.
Dokter Gizi Klinik dari Primaya Hospital Tangerang, dr. Monique Carolina Widjaja, M. Gizi, Sp.GK, memperingatkan bahwa banyak anak yang secara fisik tampak sehat dan aktif, ternyata mengalami kekurangan zat gizi mikro esensial seperti zat besi, zinc, dan vitamin D. Kondisi ini umumnya dipicu oleh pola makan yang tidak seimbang.
Menurut Monique, kesalahan nutrisi sering kali terjadi karena ketidaktahuan orangtua yang menganggap pola makan anak saat ini sebagai hal yang wajar.
MI/HO--Dokter Gizi Klinik dari Primaya Hospital Tangerang, dr. Monique Carolina Widjaja, M. Gizi, Sp.GK"Banyak orangtua fokus pada rasa kenyang, bukan kandungan gizi. Akibatnya, anak mendapat asupan karbohidrat berlebih, tetapi kekurangan protein hewani dan mikronutrien penting," ujar dr. Monique.
Kondisi ini memperparah fenomena triple burden of malnutrition di Indonesia, yaitu beban ganda berupa stunting, obesitas, dan defisiensi mikronutrien.
Monique menyoroti peningkatan konsumsi makanan ultraproses (ultra-processed food/UPF) seperti nugget, sosis, dan camilan kemasan sebagai salah satu pemicu utama.
"Makanan ini sangat lezat dan praktis, tapi rendah kualitas gizi. Dalam jangka panjang, dapat merusak sinyal kenyang alami, memicu obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak usia muda," tegasnya.
Masalah hidden hunger sering kali tidak terdeteksi karena gejalanya tidak kasat mata. Orangtua diminta waspada jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti mudah lelah, sulit berkonsentrasi, sariawan berulang, hingga rambut kusam dan kuku rapuh.
"Anak bisa terlihat sehat dan aktif, tapi secara biologis tubuhnya kekurangan zat gizi penting. Inilah yang disebut hidden hunger. Gejala-gejala ini sering dianggap sepele atau bagian dari fase tumbuh kembang, padahal bisa menjadi sinyal awal malnutrisi," tambahnya.
Sebagai langkah preventif, Monique menekankan pentingnya skrining gizi rutin yang mencakup pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan), pemeriksaan fisik, hingga evaluasi pola makan.
Jika diperlukan, pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk memastikan status mikronutrien anak.
Ia menutup dengan pesan kuat bahwa intervensi nutrisi tidak boleh ditunda karena dampaknya akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
"Nutrisi anak tidak boleh ditunda atau disepelekan. Apa yang masuk ke piring anak hari ini akan menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing di masa depan. Skrining gizi sebaiknya menjadi bagian dari perawatan kesehatan anak, sama pentingnya dengan imunisasi," pungkas Monique. (Z-1)
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dinilai masih berisiko tertinggal dari rata-rata dunia dan dapat menjadi ancaman serius di masa depan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved