Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Selimuti Kawasan Maros saat Pesawat ATR 42-500 Jatuh, Apa Itu Awan Cumulonimbus?

Media Indonesia
20/1/2026 22:00
Selimuti Kawasan Maros saat Pesawat ATR 42-500 Jatuh, Apa Itu Awan Cumulonimbus?
Ilustrasi(Dok freepik )

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerangkan adanya awan Cumulonimbus saat pesawat ATR 42-500 jatuh di Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1) lalu. Hingga kini sudah dua korban jatuhnya pesawat tersebut yang ditemukan meninggal dunia dan berhasil dievakuasi tim SAR Gabungan. Sementara itu, delapan korban lainnya masih dalam pencarian.

Di kalangan meteorolog, awan ini dijuluki sebagai "Raja Awan" karena ukurannya yang masif dan kekuatannya yang mampu mengubah kondisi atmosfer dalam sekejap. Memahami karakteristik awan ini bukan sekadar menambah wawasan sains, tetapi juga krusial bagi keselamatan, terutama dalam dunia penerbangan dan mitigasi bencana alam.

Apa Itu Awan Cumulonimbus?

Secara etimologi, nama Cumulonimbus berasal dari bahasa Latin, yaitu "Cumulus" yang berarti tumpukan dan "Nimbus" yang berarti hujan. Jadi, secara sederhana, Cumulonimbus adalah awan padat yang menjulang tinggi secara vertikal dan mengandung uap air yang sangat besar sehingga berpotensi menghasilkan hujan lebat, petir, hingga badai tornado.

Awan ini unik karena merupakan satu-satunya jenis awan yang dapat membentang dari ketinggian rendah (dekat permukaan bumi) hingga menembus batas troposfer (ketinggian lebih dari 10-15 kilometer). Bentuknya yang lebar di bagian atas menyerupai landasan besi (anvil) adalah ciri khas yang paling mudah dikenali saat awan ini mencapai kematangannya.

Apa Saja Ciri-Ciri Awan Cumulonimbus yang Mudah Dikenali?

Untuk membedakannya dengan awan Cumulus biasa, berikut adalah karakteristik utama Cumulonimbus:

  • Struktur Vertikal yang Masif: Awan ini tumbuh ke atas, bukan melebar ke samping secara horizontal.
  • Warna Gelap di Bagian Dasar: Karena sangat padat, cahaya matahari sulit menembus bagian bawah awan, membuatnya terlihat abu-abu gelap atau hitam dari permukaan bumi.
  • Puncak Berbentuk Landasan (Anvil): Saat mencapai puncak troposfer, awan berhenti tumbuh ke atas dan mulai menyebar secara horizontal karena terhalang lapisan inversi.
  • Disertai Fenomena Listrik: Kehadiran kilat dan guntur adalah indikator utama bahwa sebuah awan adalah Cumulonimbus.
  • Angu Kencang: Di bawah dasar awan, sering terjadi "downburst" atau hembusan angin kencang yang mendingin secara tiba-tiba.

Bagaimana Proses Terbentuknya Awan Cumulonimbus?

Pembentukan awan ini memerlukan tiga komponen utama: kelembapan tinggi, ketidakstabilan atmosfer, dan adanya gaya angkat (lifting force). Prosesnya mengikuti tahapan berikut:

1. Tahap Pertumbuhan (Cumulus Stage)

Udara hangat yang lembap naik ke atas (konveksi). Saat mencapai ketinggian tertentu, uap air mengembun menjadi titik-titik air, membentuk awan Cumulus. Pada tahap ini, hanya ada arus udara naik (updraft).

2. Tahap Kematangan (Mature Stage)

Ini adalah fase paling berbahaya. Kristal es dan tetesan air di dalam awan menjadi terlalu berat untuk ditahan oleh arus updraft, sehingga mereka mulai jatuh sebagai hujan. Gesekan antara partikel air dan es menciptakan muatan listrik statis yang memicu petir. Di sini, terjadi arus naik (updraft) dan arus turun (downdraft) secara bersamaan.

3. Tahap Peluruhan (Dissipating Stage)

Arus downdraft mulai mendominasi dan memutus suplai udara hangat dari bawah. Awan mulai kehilangan energinya, hujan mereda, dan awan perlahan-lahan pecah atau berubah menjadi awan Cirrus di ketinggian.

Mengapa Awan Cumulonimbus Sangat Berbahaya bagi Penerbangan?

Dalam dunia aviasi, awan Cumulonimbus adalah musuh nomor satu. Pilot akan sebisa mungkin menghindari terbang menembus awan ini karena beberapa alasan teknis:

  • Turbulensi Hebat: Arus updraft dan downdraft yang ekstrem di dalam awan dapat membuat pesawat kehilangan ketinggian secara mendadak atau terombang-ambing dengan keras.
  • Icing (Pembekuan): Suhu di bagian atas awan berada jauh di bawah titik beku. Kristal es dapat menempel pada sayap dan mesin pesawat, mengganggu aerodinamika dan fungsi mesin.
  • Microburst: Hembusan angin kencang ke arah bawah secara tiba-tiba yang dapat menghempaskan pesawat, terutama saat fase lepas landas atau mendarat.
  • Gangguan Radar: Kepadatan air yang luar biasa dapat memantulkan sinyal radar secara berlebihan, sehingga mengaburkan navigasi.

Jenis-Jenis Awan Cumulonimbus

Tidak semua Cumulonimbus terlihat sama. Secara ilmiah, ada dua sub-spesies utama:

  1. Cumulonimbus Calvus: Bagian atasnya masih tampak bulat dan tajam seperti bunga kol. Ini menunjukkan awan masih dalam tahap pertumbuhan aktif.
  2. Cumulonimbus Capillatus: Bagian atasnya sudah tampak berserabut atau berbentuk landasan (anvil). Ini adalah tanda awan telah mencapai puncak atmosfer dan sangat tidak stabil.

Checklist Keselamatan Saat Terjadi Awan Cumulonimbus

Jika Anda melihat awan ini mendekat, berikut langkah antisipasi yang perlu dilakukan:

  • Segera cari tempat berlindung di dalam bangunan permanen yang kokoh.
  • Hindari berteduh di bawah pohon tinggi atau tiang listrik karena risiko sambaran petir.
  • Matikan perangkat elektronik jika petir mulai terdengar sangat dekat.
  • Waspadai potensi banjir bandang jika hujan turun dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat.
  • Pantau peringatan dini dari BMKG melalui aplikasi atau media sosial resmi.

Pertanyaan Umum (FAQ) Mengenai Awan Cumulonimbus

1. Apakah semua hujan deras berasal dari awan Cumulonimbus?
Tidak selalu, namun hujan deras yang disertai petir dan angin kencang hampir dipastikan berasal dari Cumulonimbus.

2. Berapa lama umur satu sel awan Cumulonimbus?
Rata-rata satu sel awan bertahan sekitar 30 hingga 60 menit, namun sistem badai besar dapat menghasilkan sel-sel baru secara terus-menerus.

3. Apakah awan ini bisa menyebabkan tornado?
Ya, jenis Cumulonimbus yang disebut "Supercell" adalah penyebab utama terjadinya tornado atau puting beliung.

4. Mengapa awan ini berwarna hitam?
Warna hitam terjadi karena ketebalan awan yang luar biasa sehingga menyerap dan menghalangi sebagian besar cahaya matahari.

5. Di mana awan ini paling sering terbentuk?
Awan ini paling sering ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia karena suhu hangat dan kelembapan tinggi yang mendukung konveksi.

6. Apakah pesawat bisa terbang di atas awan Cumulonimbus?
Pesawat komersial biasanya terbang di ketinggian 35.000 kaki, sementara puncak Cb bisa mencapai 50.000 kaki atau lebih, jadi seringkali pilot harus memutar jauh untuk menghindarinya.

7. Apa perbedaan Cumulus dan Cumulonimbus?
Cumulus adalah awan cuaca cerah yang kecil dan putih, sedangkan Cumulonimbus adalah versi raksasa yang membawa badai.

8. Apakah kilat hanya terjadi di dalam awan ini?
Kilat paling sering terjadi di Cb, namun bisa juga terjadi di awan Nimbostratus dalam kondisi tertentu, meski jarang.

9. Apa itu "Anvil" pada awan Cb?
Anvil adalah puncak awan yang mendatar karena menyentuh lapisan tropopause yang stabil.

10. Bagaimana cara BMKG mendeteksi awan ini?
BMKG menggunakan Radar Cuaca (Doppler) dan satelit Himawari untuk memantau pertumbuhan dan pergerakan awan Cumulonimbus secara real-time.

Awan Cumulonimbus adalah fenomena alam yang luar biasa sekaligus menyimpan potensi bahaya besar. Dengan memahami ciri dan prosesnya, kita dapat lebih waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem di sekitar kita. Selalu percayakan informasi cuaca pada otoritas resmi seperti BMKG untuk langkah mitigasi yang tepat. (E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya