Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Anak Pekerja Migran Butuh Edukasi Kesehatan Remaja

Indrastuti
20/1/2026 21:03
Anak Pekerja Migran Butuh Edukasi Kesehatan Remaja
Ilustrasi(Dok Istimewa)

ANEMIA adalah masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak-anak dan remaja. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi anemia pada anak usia 5–14 tahun sebesar 26,8% dan pada usia 15–24 tahun sebesar 32%, artinya sekitar 3 dari 10 anak Indonesia mengalami anemia. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan remaja.

Di sisi lain, remaja usia 10–15 tahun mulai memasuki masa pubertas. Perubahan fisik itu memerlukan pengetahuan tentang perawatan diri, seperti kebersihan kulit dan organ reproduksi, agar tetap sehat selama masa pubertas.

"Skrining anemia dan edukasi kesehatan remaja diperlukan untuk mendeteksi masalah kesehatan lebih awal dan meningkatkan kesadaran mereka," ungkap Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Hans Utama saat kegiatan penyuluhan, skrining anemia dan konseling kesehatan remaja di KJRI Penang, Malaysia, Senin (19/1/2026).

Sebanyak 40 anak-anak berusia 10–15 tahun mengikuti kegiatan tersebut. Acara diawali dengan pemberian tes pengetahuan awal (pre-test) untuk mengukur pemahaman peserta tentang anemia, kesehatan kulit dan organ genitalia. Selanjutnya, tim pelaksana melakukan skrining anemia dengan mengukur kadar hemoglobin menggunakan alat pemeriksa Hb.

"Kegiatan sebagai bagian program pengabdian masyarakat internasional Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ini turut bekerja sama dengan Konsulat Jenderal RI (KJRI) Penang."

"Program ini untuk meningkatkan kesehatan anak-anak Indonesia di luar negeri, khususnya anak pekerja migran Indonesia (PMI) yang belajar di Sekolah KJRI Penang. Terlebih, KJRI Penang rutin memberikan dukungan kepada sanggar bimbingan, yaitu sekolah informal bagi anak-anak PMI yang tidak terjangkau pendidikan formal," ujar dia.

Tim PKM ini terdiri dari dosen lainnya yaitu Noviani Praseyyaningsih, Anggraeni Adiwardhani, Yuliana, Agustino, Almira Saskia, dan Putri Rynada.

Ia melanjutkan setelah pemeriksaan, kegiatan dilanjutkan sesi edukasi dan konseling interaktif mengenai perawatan kulit dan organ genitalia bagi remaja. Konseling dilakukan secara interaktif dan praktis agar anak-anak lebih memahami pentingnya menjaga kebersihan diri di masa remaja. Kegiatan ditutup dengan tes pengetahuan kedua (post-test) kepada peserta untuk melihat perubahan pemahaman setelah penyuluhan.

"Dari 40 peserta yang diperiksa, ditemukan satu anak laki-laki dengan kadar hemoglobin rendah 8 mg/dL, menunjukkan anemia berat. Anak itu diberikan edukasi untuk menambah makanan yang dapat meningkatkan Hb serta memeriksakan lebih lanjut di fasilitas kesehatan," papar Hans.

Ia berharap kegiatan skrining anemia dan konseling kesehatan remaja di Sekolah KJRI Penang itu bermanfaat bagi siswa dan sekolah. "Program ini diharapkan bisa berkelanjutan guna meningkatkan kesehatan dan pengetahuan anak-anak Indonesia di Malaysia, khususnya mereka yang anak pekerja migran. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan rutin sebagai bagian dari upaya bersama menjaga kesehatan generasi muda PMI," pungkasnya. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya