Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
RELASI khusus yang dibangun oleh orang dewasa dengan anak-anak patut diwaspadai sebagai pintu masuk praktik child grooming. Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., memperingatkan bahwa proses ini merupakan strategi pelaku untuk mendapatkan kepercayaan korban sebelum melakukan tindakan kekerasan.
“Child grooming itu proses saat pelaku membangun relasi khusus dengan anak dan kadang dengan keluarga besarnya, untuk mendapatkan kepercayaan dan membentuk relasi kuasa atau otoritas atas anak, dalam persiapan melakukan tindakan kekerasan (abusive),” ujar Gisella, dikutip Jumat (16/1).
Menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, proses grooming biasanya dimulai dengan upaya halus untuk menumbuhkan rasa percaya. Pelaku sering kali memberikan hadiah, menggunakan identitas palsu, hingga memberikan perhatian yang melampaui proporsi wajar.
Setelah kepercayaan terbangun, pelaku akan mulai mengeksploitasi hubungan tersebut dengan mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya, termasuk dari keluarga dan teman dekat.
“Relasi ini dilakukan dengan pola-pola ancaman, memeras materi atau immateril, manipulasi, dan eksploitasi relasi kuasa. Jika relasi ini telah terbentuk maka pelaku bisa melakukan tindakan penganiayaan yang telah direncanakan seperti kekerasan seksual, atau eksploitasi dengan tujuan lainnya,” tutur Gisella.
Meski sulit dikenali, Gisella membedah beberapa ciri khas yang bisa menjadi indikator bagi orangtua:
Gisella menekankan pentingnya peran orangtua dalam menciptakan benteng pertahanan bagi anak. Pola asuh yang konsisten dan kelekatan emosional yang hangat tanpa syarat adalah kunci utama.
Orangtua juga harus mulai mengajarkan konsep relasi yang sehat dan batasan yang aman.
“Contohkan dan ajari anak mengenai relasi yang sehat, yaitu relasi yang tulus menerima apa adanya, timbal-balik, komunikatif dan hangat, mendiskusikan kepada anak perilaku yang manipulative dan membedakan mengenai rahasia baik dan rahasia buruk,” pesannya.
Di era digital, orangtua juga diminta untuk memahami kegiatan daring anak. Edukasi mengenai durasi penggunaan gawai, perlindungan identitas pribadi, hingga pemahaman konten yang pantas harus diberikan secara berkelanjutan.
Gisella menyarankan agar orangtua mendekati anak dengan empati tanpa sikap menghakimi agar anak merasa aman untuk terbuka mengenai pengalaman yang mereka alami. (Ant/Z-1)
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved