Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Waspada Child Grooming: Kenali Modus dan Tanda Bahaya pada Anak

Basuki Eka Purnama
16/1/2026 07:08
Waspada Child Grooming: Kenali Modus dan Tanda Bahaya pada Anak
Ilustrasi(Freepik)

RELASI khusus yang dibangun oleh orang dewasa dengan anak-anak patut diwaspadai sebagai pintu masuk praktik child grooming. Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., memperingatkan bahwa proses ini merupakan strategi pelaku untuk mendapatkan kepercayaan korban sebelum melakukan tindakan kekerasan.

“Child grooming itu proses saat pelaku membangun relasi khusus dengan anak dan kadang dengan keluarga besarnya, untuk mendapatkan kepercayaan dan membentuk relasi kuasa atau otoritas atas anak, dalam persiapan melakukan tindakan kekerasan (abusive),” ujar Gisella, dikutip Jumat (16/1).

Mengenali Tahapan Grooming

Menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, proses grooming biasanya dimulai dengan upaya halus untuk menumbuhkan rasa percaya. Pelaku sering kali memberikan hadiah, menggunakan identitas palsu, hingga memberikan perhatian yang melampaui proporsi wajar.

Setelah kepercayaan terbangun, pelaku akan mulai mengeksploitasi hubungan tersebut dengan mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya, termasuk dari keluarga dan teman dekat.

“Relasi ini dilakukan dengan pola-pola ancaman, memeras materi atau immateril, manipulasi, dan eksploitasi relasi kuasa. Jika relasi ini telah terbentuk maka pelaku bisa melakukan tindakan penganiayaan yang telah direncanakan seperti kekerasan seksual, atau eksploitasi dengan tujuan lainnya,” tutur Gisella.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Meski sulit dikenali, Gisella membedah beberapa ciri khas yang bisa menjadi indikator bagi orangtua:

  1. Pemberian tidak Wajar: Anak menerima hadiah atau uang dari sumber yang dirahasiakan atau tidak jelas, terutama dari pihak yang lebih tua atau memiliki status sosial tertentu.
  2. Perubahan Perilaku: Munculnya suasana hati yang tidak stabil, mudah marah, penurunan prestasi akademik, hingga penarikan diri dari lingkup sosial.
  3. Sikap Tertutup: Memiliki rahasia yang dijaga ketat, baik mengenai aktivitas fisik maupun kegiatan daring (online).
  4. Kecenderungan Seksual: “Menunjukkan perilaku atau menggunakan kalimat yang bernuansa seksual di luar kebiasaan atau pengetahuan umum yang orangtua ketahui,” jelasnya.

Langkah Pencegahan dan Komunikasi

Gisella menekankan pentingnya peran orangtua dalam menciptakan benteng pertahanan bagi anak. Pola asuh yang konsisten dan kelekatan emosional yang hangat tanpa syarat adalah kunci utama. 

Orangtua juga harus mulai mengajarkan konsep relasi yang sehat dan batasan yang aman.

“Contohkan dan ajari anak mengenai relasi yang sehat, yaitu relasi yang tulus menerima apa adanya, timbal-balik, komunikatif dan hangat, mendiskusikan kepada anak perilaku yang manipulative dan membedakan mengenai rahasia baik dan rahasia buruk,” pesannya.

Di era digital, orangtua juga diminta untuk memahami kegiatan daring anak. Edukasi mengenai durasi penggunaan gawai, perlindungan identitas pribadi, hingga pemahaman konten yang pantas harus diberikan secara berkelanjutan. 

Gisella menyarankan agar orangtua mendekati anak dengan empati tanpa sikap menghakimi agar anak merasa aman untuk terbuka mengenai pengalaman yang mereka alami. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya