Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Pakar UGM: Edukasi Gizi di Program MBG Kunci Cegah Lonjakan Obesitas

 Gana Buana
05/1/2026 20:08
Pakar UGM: Edukasi Gizi di Program MBG Kunci Cegah Lonjakan Obesitas
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) krusial untuk menekan angka obesitas anak yang terus meningkat.(Antara)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah dinilai memiliki peran ganda yang strategis. Selain memenuhi asupan nutrisi, program ini menjadi sarana edukasi efektif untuk menekan prevalensi obesitas anak yang trennya terus meningkat di Indonesia.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Digna Niken Purwaningrum, menyoroti urgensi pemahaman gizi seimbang di tengah masyarakat. Menurutnya, persoalan gizi saat ini bukan hanya soal kekurangan makanan, tetapi juga kualitas asupan yang memicu kegemukan.

"Angka obesitas di tingkat nasional naik dari tahun ke tahun, bukan hanya pada anak, melainkan orang dewasa juga. Oleh karena itu, edukasi melalui MBG itu sangat penting," ujar Digna dalam siaran Badan Gizi Nasional (BGN) dilansir dari Antara, Senin (5/1).

Kenyang belum Tentu Sehat

Digna meluruskan persepsi umum yang menyamakan rasa kenyang dengan kecukupan gizi. Ia memperingatkan bahwa dominasi karbohidrat seringkali menjadi penyebab utama rasa kenyang semu, yang justru minim zat pembangun tubuh.

"Kalau kenyang biasanya yang masuk kebanyakan karbohidrat, sedangkan untuk membangun sel-sel tubuh kita, termasuk kecerdasan, banyak potensi yang kita manfaatkan dari protein. Belum itu vitamin dan mineral, itu tidak bisa dipenuhi dengan asal kenyang saja," tegasnya.

Ia menekankan bahwa makanan bergizi harus bervariasi dan memiliki takaran yang pas untuk mendukung aktivitas harian, bukan sekadar mengisi perut.

Melawan Miskonsepsi "Gemuk itu Sehat"

Lebih lanjut, akademisi UGM tersebut menyoroti tantangan budaya berupa pandangan keliru para orang tua. Masih banyak anggapan bahwa anak yang gemuk adalah simbol kesehatan dan kebahagiaan. Padahal, obesitas anak yang tidak terkontrol menyimpan risiko kesehatan jangka panjang hingga dewasa.

"Memang ada semacam miskonsepsi di masyarakat kita kalau anak yang gemuk itu sehat dan membahagiakan. Hanya kita sekarang perlu waspada, obesitas pada anak kalau tidak dikendalikan itu akan cenderung bertahan sampai dewasa, dan kalau sudah dewasa lebih sulit lagi untuk mengelolanya," papar Digna.

Terkait penanganan, Digna menyarankan pendekatan modifikasi gaya hidup alih-alih pengurangan porsi makan secara drastis, mengingat anak-anak masih dalam masa pertumbuhan.

"Tidak mengurangi makanan, tetapi mengembalikan pola aktivitasnya, tentu juga didukung agar dia memiliki pola hidup yang baik," pungkasnya. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya