Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Pengelolaan DAS Jadi Kunci Penting Capai Target FOLU Net Sink 2030

Despian Nurhidayat
30/12/2025 18:14
Pengelolaan DAS Jadi Kunci Penting Capai Target FOLU Net Sink 2030
Ilustrasi(Kemenhut)

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung capaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. DAS tidak hanya dipahami sebagai alur sungai semata, tetapi mencakup satu kesatuan bentang alam tempat manusia, hutan, lahan, dan berbagai ekosistem saling berinteraksi. Isu strategis tersebut mengemuka dalam diskusi Enviro Talk bertema DAS Tak Kenal Maka Tak Sayang.

Pemerhati lingkungan Eka Sugiri menjelaskan bahwa DAS merupakan wilayah bentang alam yang dibatasi punggung gunung dan perbukitan, menjadi tempat air hujan jatuh, mengalir, meresap, hingga akhirnya bermuara ke laut. Namun menurutnya, DAS tidak sekadar sistem hidrologi, melainkan ruang hidup besar yang menaungi aktivitas kehutanan, pertanian, perkebunan, permukiman, hingga pembangunan infrastruktur. 

“DAS itu bukan sekadar bentang alam, tetapi rumah besar bagi kita semua. Di dalamnya ada kehutanan, pertanian, perkebunan, permukiman, hingga infrastruktur. Semua aktivitas itu berlangsung dalam satu sistem yang saling berinteraksi,” ujar Eka. 

Ia menegaskan, karena DAS sering melintasi batas administratif, maka pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan harus memiliki visi bersama. Dalam kaitannya dengan target FOLU Net Sink 2030, Eka menekankan bahwa seluruh program, termasuk rehabilitasi lahan dan pengendalian bencana, harus ditempatkan dalam kerangka pengelolaan DAS yang terpadu. Pendekatan ini memastikan upaya penyerapan karbon, pengendalian banjir, dan pencegahan longsor berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Kalau kita tinggal di satu DAS, mimpi kita harus sama. Kalau mimpi berbeda-beda dalam satu rumah yang sama, hasilnya tidak akan baik,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Muhammad Zainal Arifin, menegaskan bahwa pengelolaan DAS harus dilihat sebagai pengelolaan sistem besar yang mencakup subsistem ekologis sekaligus sosial. Karena itu, pengelolaan DAS sangat erat kaitannya dengan perencanaan ruang wilayah. 

“Selama ini masih ada anggapan bahwa DAS itu hanya kiri dan kanan sungai. Padahal seluruh bentang alam di dalamnya adalah bagian dari DAS. Ini adalah satu ekosistem besar,” kata Zainal. 

Ia menjelaskan, pemerintah menempatkan konservasi dan rehabilitasi hutan serta lahan sebagai pintu masuk utama menuju FOLU Net Sink 2030, agar keanekaragaman hayati terjaga dan risiko bencana hidrometeorologi dapat ditekan.

Menurut Zainal, pengelolaan DAS dilakukan secara kolaboratif melalui Forum DAS sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012. Forum ini melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat dalam penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu (RP-DAS). Tantangan terbesar, katanya, bukan hanya teknis, tetapi juga sosial, karena menyangkut berbagai kepentingan di dalam satu bentang alam. “Pengelolaan DAS tidak bisa hanya mengelola lahannya, tetapi juga mengelola masyarakat yang berada di dalamnya. Koordinasi dan kolaborasi menjadi kunci,” tegasnya.

Dalam diskusi tersebut, peran generasi muda dan edukasi sejak dini juga ditekankan sebagai upaya membangun kesadaran publik tentang dampak aktivitas manusia terhadap kondisi DAS. Pemerintah mendorong peningkatan literasi DAS melalui pendidikan formal serta partisipasi masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan lahan. Pada akhirnya, kedua narasumber sepakat bahwa keberlanjutan DAS akan menentukan kualitas kehidupan masyarakat di masa depan sekaligus menjadi faktor penting keberhasilan agenda iklim nasional dan target FOLU Net Sink 2030. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya