Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Cuaca Ekstrem, Pemerintah Perkuat Mitigasi Bencana Susulan di Sumatra

M Ilham Ramadhan Avisena
29/12/2025 14:42
Cuaca Ekstrem, Pemerintah Perkuat Mitigasi Bencana Susulan di Sumatra
Kondisi di Aceh Tamiang usai bencana alam.(Dok. Antara)

PEMERINTAH menyiapkan serangkaian langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak susulan bencana alam di tengah kondisi cuaca ekstrem di Sumatra. Fokus utama diarahkan pada pembersihan aliran sungai, pemetaan wilayah rawan longsor, hingga penguatan sistem peringatan dini berbasis prakiraan cuaca.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah meminta Kementerian Kehutanan mempercepat pembersihan material di sepanjang aliran sungai. Upaya ini dinilai penting untuk mencegah sumbatan kayu dan material lain yang terbawa bencana sebelumnya dan berpotensi memicu banjir susulan.

"Kami telah meminta kepada terutama Kementerian Kehutanan untuk mempercepat proses pembersihan di aliran-aliran sungai supaya nanti tidak akan ada sumbatan dari kayu-kayu yang kemarin hanya terbawa di bencana yang pertama," ujarnya dalam konferensi pers di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/12).

Selain itu, pemerintah juga mempercepat pemetaan wilayah dengan tingkat kelerengan ekstrem dan karakter tanah yang rentan longsor. Pemetaan ini dilakukan berdasarkan kondisi lapangan, termasuk hasil pemantauan udara.

Prasetyo menjelaskan, faktor kemiringan lereng dan jenis tanah sangat menentukan terjadinya longsor ketika curah hujan mencapai tingkat tertentu. "Di situ sudah bisa diperkirakan daerah-daerah mana yang memiliki tingkat kecuraman atau kelerengan yang sangat ekstrim, termasuk jenis tanahnya," kata dia.

Ia menambahkan, longsor umumnya terjadi di wilayah dengan kemiringan tinggi dan tanah berjenis lumpur atau lembek, bukan tanah yang kuat atau kasar. Temuan ini menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun langkah pencegahan yang lebih terarah.

Dalam upaya memperkuat kewaspadaan masyarakat, pemerintah juga menggandeng BMKG dan Komdigi untuk memadukan data prakiraan cuaca dengan sistem penyampaian informasi ke publik.

Edukasi dan pemberitahuan dini akan disampaikan kepada masyarakat di wilayah yang diprediksi mengalami peningkatan curah hujan. "Kami minta untuk itu dilakukan proses edukasi dan pemberitahuan kepada seluruh masyarakat di wilayah yang diprediksi oleh BMKG akan mengalami peningkatan curah hujan,"ujar Prasetyo.

Meski demikian, Prasetyo mengakui masih ada pekerjaan lanjutan yang membutuhkan waktu, termasuk penanganan warga yang tinggal di bantaran sungai. Relokasi dinilai sebagai langkah penting, namun harus dilakukan secara bertahap dan terencana.

"Bagaimana kita bisa memindahkan saudara-saudara kita yang misalnya tinggal di bantaran-bantaran sungai, itu prosesnya masih berikutnya untuk kita bisa tangani dengan sebaik-baiknya," kata dia.

Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong modifikasi cuaca sebagai bagian dari mitigasi bencana. BMKG disebut aktif melakukan operasi modifikasi cuaca, sementara Presiden telah meminta penambahan peralatan untuk memperkuat kemampuan tersebut.

Pengalaman bencana di beberapa provinsi menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk memperbaiki kesiapsiagaan. Prasetyo mencontohkan keterbatasan jumlah Jembatan Bailey dan perangkat operasi cuaca yang dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi bencana berskala luas.

"Perangkat-perangkat untuk operasi cuaca ini juga perlu diperkuat dan dibuat perencanaan sematang mungkin, sedini mungkin," pungkas Prasetyo. (H-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik