Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Akademisi Nilai Masyarakat Perlu Dibekali Literasi Digital untuk Kenali Penipuan Daring

Indrastuti
24/12/2025 22:17
Akademisi Nilai Masyarakat Perlu Dibekali Literasi Digital untuk Kenali Penipuan Daring
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PERKEMBANGAN teknologi kecerdasan buatan atau AI yang semakin pesat membuat modus penipuan daring yang menyasar masyarakat pun semakin beragam. 

"Kalau dulu penipuan yang dilakukan melalui pesan singkat (SMS) dan telepon, sekarang sudah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, " kata Akademisi dari FISIP Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka), Indriani, dalam kegiatan edukasi pencegahan penipuan online dengan tema “Kenali, Waspadai, dan Hindari Penipuan Online”, di Jakarta, Rabu.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa FISIP Uhamka dan dihadiri masyarakat RT 004 RW 005 Kelurahan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Berdasarkan data Indonesia Anti Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus penipuan tertinggi di dunia dengan kerugian mencapai Rp8,2 triliun selama periode November 2024 - November 2025.
Dalam paparannya, Indriani menekankan bahwa penipuan online kini semakin beragam dan canggih, bahkan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mengelabui korban.

“Banyak masyarakat tertipu karena modus penipuan dibuat sangat meyakinkan, seperti giveaway palsu yang mengatasnamakan figur publik, penipuan paket kiriman, hingga penipuan asmara. Bahkan saat ini sudah banyak yang menggunakan teknologi deepfake,” jelas dia. 

Para peserta diajak mengenali berbagai modus penipuan online, mulai dari penipuan hadiah dan giveaway palsu, penipuan jasa pengiriman paket, penipuan asmara (love scam), hingga penipuan berbasis AI. 
Dia juga menyoroti bahwa perempuan menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban, terutama pada modus penipuan emosional dan relasi personal.

Selain itu, seminar ini mengulas ciri-ciri umum penipuan online, seperti tawaran yang terlalu menggiurkan, tekanan waktu yang mendesak, permintaan data pribadi (KTP, OTP, PIN), permintaan transfer ke rekening pribadi, hingga penggunaan bahasa yang mencurigakan. Ibu-ibu juga dibekali langkah-langkah preventif untuk melindungi diri dan keluarga di ruang digital.

“Hal terpenting adalah tetap waspada, tidak mudah tergiur, dan selalu memverifikasi informasi. Jangan sembarangan mengklik tautan atau membagikan data pribadi,” imbuh dia.

Para peserta juga diminta untuk berani melaporkan akun mencurigakan di platform media sosial. Jika sudah terlanjur menjadi korban, masyarakat diharapkan dapat menghubungi pihak bank untuk pemblokiran rekening, melapor ke IASC OJK, serta melaporkan ke pihak kepolisian melalui patroli siber.

Salah satu panitia kegiatan, Syifa Rahma, berharap melalui edukasi itu masyarakat mampu menjadi agen literasi digital di lingkungan sekitarnya, serta lebih siap menghadapi berbagai ancaman penipuan online yang semakin kompleks di era digital.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik