Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
UNIVERSITAS Budi Luhur menggelar aksi solidaritas dan kepedulian lingkungan bertajuk “1.000 Lilin untuk Sumatera” sebagai bentuk empati terhadap korban banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat malam (19/12/2025) di lapangan olahraga Universitas Budi Luhur dan diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan.
Aksi penyalaan 1.000 lilin tersebut menjadi simbol dukungan moral sekaligus pesan bahwa masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak sendiri dalam menghadapi musibah bencana alam.
Deputi Rektor Universitas Budi Luhur, Dr. Ir. Deni Mahdiana, S.Kom., M.M., M.Kom., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya kampus dalam menggerakkan seluruh sivitas akademika untuk menumbuhkan kepedulian dan empati sosial.
“Kami berupaya semaksimal mungkin agar saudara-saudara kita di Sumatera merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Bantuan yang kami berikan melalui penggalangan dana mungkin tidak besar, namun kami berharap dapat meringankan beban dan memberi manfaat bagi mereka yang terdampak bencana,” ujarnya di sela kegiatan.
Dr. Deni menjelaskan, Universitas Budi Luhur tidak hanya merespons bencana secara insidental, tetapi juga menjadikan nilai kebudiluhuran sebagai landasan dalam membantu masyarakat Indonesia yang terdampak bencana alam.
“Sejak tsunami Aceh tahun 2004, Universitas Budi Luhur telah memiliki program Beasiswa Nusantara. Kami menyadari bahwa mahasiswa kami berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk wilayah yang saat ini terdampak bencana. Karena itu, kepedulian ini juga mencakup mahasiswa dan karyawan yang keluarganya terdampak,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Deni mengungkapkan bahwa hingga malam aksi solidaritas berlangsung, Universitas Budi Luhur berhasil menggalang dana sebesar sekitar Rp178 juta. Dana tersebut berasal dari kontribusi mahasiswa, orang tua mahasiswa, dosen, karyawan, serta seluruh sivitas akademika.
Selain itu, melalui koordinasi dengan LLDIKTI Wilayah III, Universitas Budi Luhur turut menyalurkan donasi sebesar Rp60 juta bersama perguruan tinggi di wilayah Jakarta sebagai bentuk kolaborasi penanganan bencana.
“Kami percaya, ketika bergabung dengan komunitas yang lebih besar, dampak yang dihasilkan juga akan lebih luas dan dirasakan oleh lebih banyak masyarakat,” tambahnya.
Tidak hanya memberikan bantuan dana, Universitas Budi Luhur juga mengirimkan tenaga sumber daya manusia (SDM) ke wilayah terdampak bencana. Mahasiswa dari Program Studi Manajemen Bencana turut diterjunkan untuk membantu penanganan di lapangan.
“Kami telah mengirim mahasiswa ke Medan. Ini sekaligus menjadi laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa manajemen bencana karena mereka dibekali keterampilan penanganan bencana dan pendampingan masyarakat terdampak,” ujar Dr. Deni.
Sementara itu, Ketua HIMAHI Universitas Budi Luhur, Lintang, menyampaikan bahwa kegiatan 1.000 Lilin untuk Sumatera merupakan wujud kepedulian Yayasan Budi Luhur Cakti bersama mahasiswa terhadap bencana yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera.
“Sekitar 90 persen pelaksanaan kegiatan ini melibatkan mahasiswa Universitas Budi Luhur dan dihadiri oleh pihak Yayasan Budi Luhur Cakti,” ujarnya.
Lintang menambahkan, jumlah peserta yang hadir mencapai hampir 1.200 mahasiswa. Ia berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian mahasiswa terhadap isu kebencanaan.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya peduli, tetapi juga memahami apa itu bencana dan bagaimana menyikapinya dengan empati dan solidaritas,” pungkasnya.
Melalui aksi 1.000 Lilin untuk Sumatera, Universitas Budi Luhur menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif dalam aksi kemanusiaan dan kepedulian sosial.(H-2)
Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari telah menyebabkan banyaknya bencana longsor, banjir, pohon tumbang.
BENCANA memang sering hadir tanpa memberikan ruang memilih, tetapi cara manusia meresponsnya selalu lahir dari pilihan moral dan politik.
Total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi mencapai 1.198 orang, sementara korban hilang tercatat sebanyak 144 orang.
KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Nasional Letjen TNI Suharyanto menegaskan, pemerintah tidak membeda-bedakan satu daerah dengan daerah yang lain.
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November lalu meninggalkan dampak serius bagi petani, pekebun, dan petambak.
Tidak lagi sekadar respons darurat yang bersifat sementara, zakat diarahkan menjadi pilar sistem perlindungan sosial umat yang bekerja secara lintas fase.
TNI dan Pemprov Riau menyerahkan bantuan berupa perlengkapan sekolah bagi siswa-siswi sekolah dasar di Aceh Utara.
Di tengah proses pemulihan pascabencana, kebutuhan akan bantuan kemanusiaan menjadi semakin mendesak.
PT Pertamina melalui Rumah BUMN Pertamina Banjarmasin menunjukkan peran dalam penanganan bencana.
Selain kebutuhan primer, salah satu yang juga dibutuhkan warga Aceh Tamiang adalah bantuan untuk memperbaiki kendaraan yang rusak akibat banjir.
Anggota Komisi VIII DPR RI Mahdalena meminta pemerintah memastikan penyaluran bantuan korban banjir dan longsor di Sumatera tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.
Mendagri Tito Karnavian mengirim 1.132 praja IPDN untuk mempercepat pemulihan pemerintahan dan layanan publik pascabencana di Aceh Tamiang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved