Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
KESIAPAN menjadi orangtua tidak hanya diukur dari kesiapan finansial atau usia, namun sangat bergantung pada kematangan emosional. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa kematangan emosi adalah kunci utama bagi orangtua untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.
Idealnya, kematangan emosional ini sudah terbentuk jauh sebelum seseorang memutuskan untuk menikah dan memiliki anak. Hal ini menjadi krusial karena orang tua adalah model perilaku utama bagi anak, terutama pada masa pertumbuhan awal.
“Seseorang yang siap jadi orangtua itu harus mampu mengelola dan meregulasi emosinya dengan baik. Secara sosial, ia juga mampu berkomunikasi dalam berbagai situasi dan membangun relasi yang sehat,” ujar Novi, dikutip Jumat (19/12)
Menurut Novi, terdapat tiga indikator psikologis yang mencerminkan kesiapan seseorang dalam menjalankan peran sebagai orangtua:
Kematangan Emosional: Kemampuan mengelola respons emosi agar tetap stabil dan terukur, bahkan dalam situasi penuh tekanan.
Kematangan Kognitif: Kemampuan berpikir seimbang antara rasionalitas dan intuisi dalam mengambil keputusan, serta cakap dalam menghadapi persoalan kompleks.
Kematangan Sosial: Kemampuan berkomunikasi yang adaptif sesuai konteks dan kemampuan membangun relasi yang sehat dengan lingkungan sekitar.
Novi memperingatkan bahwa ketidakmampuan orangtua dalam mengelola emosi berdampak langsung pada risiko kekerasan anak, khususnya pada usia 0 hingga 7 tahun. Dalam fase ini, anak belajar melalui proses bawah sadar dari apa yang mereka lihat dan rasakan.
Novi menyebut fenomena ini sebagai teori social learning
“Anak belajar mengenal emosi dan cara mengelolanya dari orang tuanya. Jika orang tua mampu mengelola emosi dengan baik, anak akan meniru hal yang sama, begitu pula sebaliknya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memetakan tanda-tanda stres berat pada orang tua yang patut diwaspadai karena berpotensi membahayakan anak. Gejala ini bisa muncul dalam bentuk agresivitas pasif, seperti menarik diri dan mendiamkan anak (*silent treatment*), maupun agresivitas aktif yang berupa kekerasan verbal hingga fisik.
Sebagai langkah preventif, Novi mendorong penguatan edukasi dan pendampingan parenting sejak dini, termasuk melalui kurikulum pendidikan emosi sosial di sekolah. Selain itu, ia menyarankan agar setiap individu mengenali respons emosional pasangan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
"Pendidikan menjadi orangtua sebelum menikah dengan melakukan cek pada perilaku pasangan atau calon pasangan, terutama ketika menghadapi situasi tidak biasa. Bagaimana reaksinya? Itu sangat penting," pungkas Novi. (Ant/Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved