Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kematangan Emosional: Fondasi Utama Orangtua Cegah Kekerasan pada Anak

Basuki Eka Purnama
19/12/2025 10:32
Kematangan Emosional: Fondasi Utama Orangtua Cegah Kekerasan pada Anak
Ilustrasi(Freepik)

KESIAPAN menjadi orangtua tidak hanya diukur dari kesiapan finansial atau usia, namun sangat bergantung pada kematangan emosional. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa kematangan emosi adalah kunci utama bagi orangtua untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

Idealnya, kematangan emosional ini sudah terbentuk jauh sebelum seseorang memutuskan untuk menikah dan memiliki anak. Hal ini menjadi krusial karena orang tua adalah model perilaku utama bagi anak, terutama pada masa pertumbuhan awal.

“Seseorang yang siap jadi orangtua itu harus mampu mengelola dan meregulasi emosinya dengan baik. Secara sosial, ia juga mampu berkomunikasi dalam berbagai situasi dan membangun relasi yang sehat,” ujar Novi, dikutip Jumat (19/12)

Tiga Indikator Kesiapan

Menurut Novi, terdapat tiga indikator psikologis yang mencerminkan kesiapan seseorang dalam menjalankan peran sebagai orangtua:

Kematangan Emosional: Kemampuan mengelola respons emosi agar tetap stabil dan terukur, bahkan dalam situasi penuh tekanan.

Kematangan Kognitif: Kemampuan berpikir seimbang antara rasionalitas dan intuisi dalam mengambil keputusan, serta cakap dalam menghadapi persoalan kompleks.

Kematangan Sosial: Kemampuan berkomunikasi yang adaptif sesuai konteks dan kemampuan membangun relasi yang sehat dengan lingkungan sekitar.

Teori Social Learning dan Risiko Kekerasan

Novi memperingatkan bahwa ketidakmampuan orangtua dalam mengelola emosi berdampak langsung pada risiko kekerasan anak, khususnya pada usia 0 hingga 7 tahun. Dalam fase ini, anak belajar melalui proses bawah sadar dari apa yang mereka lihat dan rasakan.

Novi menyebut fenomena ini sebagai teori social learning 

“Anak belajar mengenal emosi dan cara mengelolanya dari orang tuanya. Jika orang tua mampu mengelola emosi dengan baik, anak akan meniru hal yang sama, begitu pula sebaliknya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memetakan tanda-tanda stres berat pada orang tua yang patut diwaspadai karena berpotensi membahayakan anak. Gejala ini bisa muncul dalam bentuk agresivitas pasif, seperti menarik diri dan mendiamkan anak (*silent treatment*), maupun agresivitas aktif yang berupa kekerasan verbal hingga fisik.

Pentingnya Edukasi Pranikah

Sebagai langkah preventif, Novi mendorong penguatan edukasi dan pendampingan parenting sejak dini, termasuk melalui kurikulum pendidikan emosi sosial di sekolah. Selain itu, ia menyarankan agar setiap individu mengenali respons emosional pasangan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

"Pendidikan menjadi orangtua sebelum menikah dengan melakukan cek pada perilaku pasangan atau calon pasangan, terutama ketika menghadapi situasi tidak biasa. Bagaimana reaksinya? Itu sangat penting," pungkas Novi. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya