Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Survei: Orangtua, Terutama Ibu, Khawatir dengan Dampak Media Digital pada Anak

Basuki Eka Purnama
01/12/2025 17:42
Survei: Orangtua, Terutama Ibu, Khawatir dengan Dampak Media Digital pada Anak
Ilustrasi(Freepik)

PERUBAHAN dunia yang serba cepat dan digital kini menjadi salah satu sumber kekhawatiran terbesar orangtua Indonesia. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan Teman Bumil, yang menunjukkan banyak orangtua—terutama ibu—merasa cemas menghadapi pergeseran lingkungan sosial anak, terutama dampak media digital dan paparan informasi yang tidak jelas sumbernya.

Kecemasan ini tidak hanya terkait pola asuh, tetapi juga menyangkut kesehatan, perkembangan mental emosional anak, hingga kemampuan orangtua memilah informasi. 

Di tengah derasnya arus konten digital, kebutuhan akan panduan yang kredibel dan mudah diakses semakin berperan penting.

Temuan survei tersebut menjadi pembuka diskusi dalam acara Media Day yang digelar Teman Bumil, baru-baru ini. Acara tersebut mempertemukan para ahli, lembaga riset, serta brand partner untuk membahas bagaimana orangtua saat ini seharusnya menghadapi tantangan digital dalam pengasuhan.

Psikolog Ayoe Soetomo, M.Psi., menegaskan hadirnya teknologi—termasuk Artificial Intelligence (AI)—telah mengubah cara orangtua mengambil keputusan terkait pengasuhan. 

“Orangtua mulai mengandalkan AI untuk bertanya dan mencari solusi. Ini sah-sah saja, karena dunia sudah berubah, AI sudah dijadikan co-partner dalam pengasuhan,” ujar Ayoe.

“Tetapi harus diingat bahwa kondisi setiap anak sangat spesifik. Masalah emosional atau isu yang sifatnya dalam membutuhkan penanganan tailor made, dan ini harus dikonsultasikan langsung ke ahli,” lanjutnya.

Ayoe juga menyoroti pentingnya critical thinking bagi orangtua agar tidak menelan mentah-mentah informasi dari media sosial dan platform digital lainnya.

Pada kesempatan sama, dokter spesialis anak, dr. Melia Yunita, SpA., menjelaskan kompleksitas tantangan kesehatan anak di Indonesia. Tidak hanya persoalan gizi kronis yang berkaitan dengan stunting, tetapi juga cakupan vaksinasi yang belum merata serta rendahnya kewaspadaan terhadap gejala penyakit menular. 

“Banyaknya informasi yang beredar kadang membuat masalah semakin rumit. Bahkan untuk dosis susu formula saja, ada orangtua yang bertanya ke platform AI dan sering kali jawabannya tidak tepat,” jelas Melia.

“Di sinilah platform seperti Teman Bumil & Parenting dapat menjadi informasi awal yang terpercaya sebelum orang tua berkonsultasi langsung ke dokter,” imbuhnya.

Komitmen Dampingi Orangtua Indonesia

Di momen ulang tahun ke-8, Teman Bumil menegaskan peran pentingnya sebagai pendamping ibu dan ayah di Indonesia sejak fase perencanaan kehamilan, masa kehamilan, menyusui, hingga tumbuh kembang anak sampai usia 12 tahun. 

Bersamaan dengan itu, Teman Bumil mengumumkan perubahan nama resmi menjadi Teman Bumil & Parenting yang akan mulai digunakan pada seluruh media sosial dan situs web mereka pada Januari 2026.

VP PT Global Urban Esensial, Mohamad Salahuddin, menyampaikan bahwa perluasan cakupan ini merupakan bagian dari misi besar Teman Bumil untuk mendampingi keluarga Indonesia di seluruh fase perkembangan anak.

“Kami punya misi membersamai ibu sampai anak masuk usia prasekolah dan sekolah dasar. Setiap tahapan usia memiliki tantangan yang berbeda,” ujar Salahuddin.

“Karena itu kami memperluas segmen agar semakin banyak orang tua yang bisa mendapatkan informasi kredibel dan aman.”

Ia juga menambahkan bahwa survei dan konsistensi kolaborasi bersama dokter, psikolog, serta para ahli menjadi fondasi Teman Bumil dalam menghasilkan konten yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai rangkaian ulang tahun ke-8, Teman Bumil & Parenting menggelar Family’s Days Out pada 29 November 2025 di Enchanting Valley by Taman Safari, Puncak, Bogor. 

Lebih dari 30 keluarga dari komunitas Teman Bumil berkumpul dan mengikuti berbagai aktivitas seru seperti bermain angklung, interaksi dengan hewan, bermain di playground, hingga menonton Lila Show.

Mohamad Salahuddin menjelaskan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi upaya nyata Teman Bumil dalam menyoroti isu fatherless di Indonesia—fenomena ketika sosok ayah kurang hadir dalam pengasuhan anak.

“Kami ingin menekankan pentingnya family wellness. Anak membutuhkan ayah dan ibu sebagai satu tim. Aktivitas luar ruang seperti ini bisa menjadi cara merekatkan hubungan keluarga,” ungkapnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya