Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus mengupayakan pemulihan infrastruktur telekomunikasi di tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Menkomdigi Meutya Hafid menyatakan, hingga saat ini progres pemulihan menunjukkan perkembangan signifikan, meski tantangan di sejumlah wilayah masih cukup berat.
“Untuk sumber daya, update terbarunya sudah 99 persen. Jadi kita fokus ke pemulihan jaringan, dan ini bukan kerja Komdigi saja,” ujar Meutya dalam acara Temu Nasional Pegiat Literasi Digital, Rabu (17/12).
Ia menegaskan, pemulihan dilakukan melalui koordinasi intensif dengan seluruh operator seluler, termasuk dukungan layanan satelit seperti Starlink serta infrastruktur pemerintah seperti Satelit Satria.
Menurutnya, dalam situasi bencana, batas antara pemerintah dan swasta menjadi tidak relevan. “Kita sudah tidak lihat lagi mana yang pemerintah, mana yang swasta. Alhamdulillah, semua teman-teman operator berjibaku bersama,” katanya.
Koordinasi data dilakukan secara harian di Komdigi untuk memastikan akurasi kondisi di lapangan. Di Sumatra Utara, pemulihan jaringan telekomunikasi telah mencapai sekitar 97–98 persen. Namun, kondisi berbeda terjadi di Aceh.
“Untuk Aceh, ini memang PR kita. Per hari ini, on air masih di kisaran 50 persen,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara istilah recover dan on air yang kerap menimbulkan kebingungan.
“Kalau disebut recover, artinya towernya sudah berfungsi, itu memang sudah di angka 87 persen. Tapi on air-nya masih sekitar 50 persen,” jelasnya.
Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh belum stabilnya pasokan listrik di sejumlah daerah.
Wilayah seperti Bener Meriah, Aceh Tamiang, dan Aceh Utara disebut masih merasakan dampak paling berat. “Ini amat terasa bagi masyarakat. Di daerah bencana, selain bantuan pokok seperti makanan, yang sangat dibutuhkan adalah informasi,” tegasnya.
Dalam situasi tersebut, peran relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dinilai menjadi sangat strategis.
“Tanpa kondisi krisis pun, relawan TIK sudah sangat penting untuk meningkatkan literasi digital. Apalagi saat krisis, perannya menjadi jauh lebih utama,” katanya.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, operator, dan relawan TIK dapat mempercepat pemulihan akses informasi bagi masyarakat terdampak, sekaligus memastikan layanan komunikasi kembali berfungsi optimal di seluruh wilayah. (Ata)
Published By Denny Parsaulian Sinaga (17/12/2025, 14.51.57)
Menjelang 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan.
Ini merupakan bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswa terdampak sekaligus upaya meringankan beban ekonomi mereka.
Mahasiswa diingatkan agar sebaik mungkin menghindari hal-hal yang merugikan.
Untuk menutupi kebutuhan pupuk tanaman padi, mereka harus beralih ke pupuk nonsubsidi.
Sebanyak 20 sumur bor berteknologi RO dibangun di wilayah terdampak banjir Aceh untuk menyediakan air bersih dan mendukung pemulihan warga.
Dampak dari kondisi cuaca ini, kata dia, juga berpotensi terjadi gelombang tinggi yang berkisar antara 1,5 meter hingga 2,5 meter di perairan wilayah Aceh bagian barat dan selatan.
Berdasarkan hasil kajian tim Kementerian PU bersama Universitas Syiah Kuala (USK) ditemukan adanya pergerakan air bawah tanah yang memicu ketidakstabilan lereng.
HARAPAN baru mulai tumbuh di tengah warga Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
MENTERI Dalam Negeri Tito Karnavian memperingatkan pemda di Sumatra Utara agar tidak menyelewengkan dana penanganan bencana.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
BADAN Rescue Nasional Demokrasi (NasDem) Sumatera Barat menargetkan pembentukan pengurus Badan Rescue NasDem Daerah (BRND) tingkat kota, kabupaten dan kecamatan yang ada di Sumbar.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved