Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
Eks Deputi Kelembagaan dan SDM BRR BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) Aceh-Nias, Sudirman Said mengatakan bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dari segi luas wilayah terdampak melebihi bencana tsunami 2004 silam. Hal tersebut disampaikan Sudirman saat Sarasehan Daring Pemulihan Andalas yang bertajuk “Pembelajaran dari Aceh-Nias: Rekoleksi Pengetahuan", Sabtu (6/12).
“Ditinjau dari luas landaannya, maka bencana Sumatera 2025 ini sudah melampaui tsunami 2004. Kalau di-impose, wilayah landaan bencana Sumatera luasannya setara dengan Pulau Jawa-Madura-Bali," kata Sudirman.
Sudirman yang merupakan pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) itu menegaskan, salah satu asas dari PMI adalah kesemestaan atau universalitas. Artinya, bencana, di mana pun, itu adalah bencana seluruh dunia.
“Nyawa manusia atau kemanusian harus diutamakan ketimbang kepentingan politik. Kami ingat betul pesan Kepala Badan Pelaksana BRR, Pak Kuntoro Mangkusubroto, tentang kerja kemanusiaan pascatsunami. Katanya, tidak ada satu pun kekuatan yang mampu membuat kerusakan seperti ini kecuali tangan Tuhan. Hanya dengan tangan Tuhan pula tempat ini akan bisa diperbaiki. Oleh karena itu, jangan pernah kotori tanganmu dengan tindakan yang tidak terpuji di mata Tuhan,” kata Sudirman.
Sudirman berharap semua pihak terus bersuara untuk percepatan penanganan bencana Sumatra. Ia mengatakan setiap ide, masukan, dan pengalaman bencana harus diutarakan agar menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk bergerak.
“Kita harus menyuarakan ini. Jangan sampai too late and too litter. Ide, pengalaman, dan pengetahuan, kita sudah punya. Yang tidak kita punya hanya otoritas. Nah, andai ide dan pengalaman itu bisa diagregasi menjadi satu platform kerja yang bisa didorongkan aplikasinya kepada yang punya otoritas, rasa-rasanya ini akan menjadi sesuatu yang positif,” kata Sudirman.
Eks Direktur Hubungan Luar Negeri & Donor BRR Heru Prasetyo mengungkapkan dalam keadaan bencana saat ini, kepemimpinan sangat dibutuhkan. Mengingat, yang ditangani di depan mata bukan semata soal manajemen bencana alam, tapi juga bencana lingkungan hidup.
Heru mengatakan topan Senyar pada akhir November 2025 memicu hujan ekstrem di Sumatera. Hujan ekstrem yang turun di atas lahan yang sudah rusak menciptakan bencana alam hidrometeorologi dahsyat.
Pada 21 tahun silam, Indonesia pernah dilanda bencana nasional gempa dan tsunami. Aceh-Nias luluh lantak, porak-poranda, dan 130.000-an jiwa hilang. Heru mengatakan Melalui BRR yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 April 2005, Aceh-Nias kembali pulih bahkan bangkit lebih baik dari sebelumnya.
“Pemulihan Aceh pascatsunami 2025 memang pekerjaan besar, tapi bencana Sumatra lebih dalam daripada tsunami, karena merupakan kombinasi dari tsunami Aceh, Covid-19, Lapindo, dan perubahan iklim," katanya.
Sementara itu, Eks Kepala BRR (Badan Rehabilitasi Rekonstruksi) Nias William Sabandar mengatakan dalam kondisi krisis, pemimpin harus turun. Selain itu, crisis mindset dan sikap mental sense of urgency harus bisa ditanamkan.
“Leadership itu bukan perkara satu komando saja, tapi kemampuan untuk mengombinasikan pendekatan jangka pendek (tanggap darurat) dengan pendekatan jangka panjang (rehabilitasi-rekonstruksi).”
Eks Deputi Keuangan BRR Aceh-Nias, Amin Subekti menambahkan satu elemen penting lagi dari leadership pada masa krisis bencana, yakni kecepatan kerja dan keluwesan implementasi.
Ia menjelaskan pemulihan Aceh-Nias membutuhkan dana sekitar USD7 miliar. Sedangkan APBN hanya bisa menopang sepertiganya. Selebihnya, berasal dari donor multilateral, lembaga non-pemerintah. Artinya, kontribusi dana dari non-APBN itu sangat besar dalam proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias.
“Bagaimana hal tersebut bisa dilakukan? Ya karena dua hal tadi, speed dan flexibility,” ungkap Amin. (H-2)
Bencana hidrometeorologi melanda negara bagian Minas Gerais, Brasil. Sedikitnya 32 orang tewas dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat curah hujan ekstrem.
Bencana longsor dan banjir melanda Minas Gerais, Brasil. 30 orang tewas dan 39 lainnya masih hilang di bawah puing-puing bangunan.
Warga menyeberangi Sungai Jabak menggunakan gondola darurat menuju Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Pasca-kejadian, warga terpantau mulai bergotong royong membersihkan sisa-sisa reruntuhan dan memperbaiki atap rumah yang masih bisa diselamatkan secara swadaya.
Mendagri Tito Karnavian memaparkan skema bansos korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, termasuk bantuan Rp8 juta untuk rumah rusak berat serta Dana Tunggu Hunian Rp1,8 juta.
Gunung Semeru di Lumajang-Malang erupsi Selasa malam (17/2), kolom abu mencapai 800 meter. PVMBG ingatkan masyarakat hindari radius bahaya 5-17 km dari kawah.
JICT menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp300 juta untuk membantu penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Aceh serta Sumatra Utara.
HARAPAN petani di Provinsi Aceh untuk meraup untung besar pada musim panen rendengan (panen utama) tahun 2026 harus terkubur dalam.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI mengadakan buka puasa bersama penyintas banjir dan longsor di meunasah darurat, Desa Manyang Cut, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
820.000 ternak kerbau, sapi, kambing dan unggas mati atau hilang terbawa arus banjir. Kemudian 58 rumah potong hewan rusak, 2.300 alat mesin pertanian hilang.
MESKI klaim pemerintah pemulihan pascabanjir Sumatra sudah membaik, sayangnya di lapangan masih seperti pungguk merindukan bulan.
Sucor Asset Management (Sucor AM) menyalurkan 2.000 paket bantuan bagi masyarakat terdampak banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatra.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved