Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Studi Temukan Vaksin Cacar Ular Turunkan Risiko Demensia hingga 20 Persen

Thalatie K Yani
04/12/2025 06:53
Studi Temukan Vaksin Cacar Ular Turunkan Risiko Demensia hingga 20 Persen
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH aturan vaksinasi yang tidak biasa di Wales membuka peluang bagi para peneliti untuk melakukan “eksperimen alami” yang menghasilkan temuan signifikan. Vaksin cacar ular (shingles) terbukti terkait dengan penurunan risiko demensia pada lansia. Studi yang dipimpin Stanford Medicine itu menganalisis data kesehatan warga lanjut usia dan menyimpulkan penerima vaksin memiliki kemungkinan 20% lebih kecil didiagnosis demensia dalam tujuh tahun setelah vaksinasi.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada 2 April di jurnal Nature, memperkuat dugaan infeksi virus tertentu yang memengaruhi sistem saraf dapat meningkatkan risiko demensia. Analisis kedua yang dirilis pada 2 Desember di jurnal Cell menunjukkan potensi manfaat bagi penderita demensia yang sudah ada, dengan indikasi perlambatan perkembangan penyakit.

Hubungan Antara Virus Shingles dan Demensia

Shingles disebabkan virus varicella-zoster, penyebab cacar air pada masa kanak-kanak. Setelah infeksi awal, virus menetap secara laten di sel saraf dan dapat aktif kembali pada usia lanjut. 

Sementara itu, demensia mempengaruhi lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia, dan penelitian sebelumnya banyak berfokus pada penumpukan protein abnormal di otak. Minimnya keberhasilan dalam menemukan terapi efektif membuat sejumlah ilmuwan mulai meneliti kemungkinan keterlibatan infeksi virus.

Namun, studi observasional sebelumnya memiliki kelemahan karena faktor perilaku kesehatan sulit diukur. “Semua studi asosiasi ini menghadapi masalah mendasar bahwa orang yang memilih vaksin biasanya memiliki perilaku kesehatan berbeda dibanding yang tidak,” kata Pascal Geldsetzer, asisten profesor kedokteran sekaligus penulis utama studi ini.

Eksperimen Alami dari Kebijakan Vaksinasi Wales

Kesempatan penelitian muncul dari kebijakan vaksinasi shingles yang diberlakukan Wales sejak 1 September 2013. Lansia yang berusia 79 tahun pada tanggal tersebut berhak menerima vaksin dalam setahun, sementara mereka yang telah berusia 80 tahun tidak lagi memenuhi syarat sepanjang hidup mereka. Perbedaan batas usia ini menciptakan dua kelompok dengan karakteristik yang hampir identik, sehingga memungkinkan perbandingan yang adil.

Tim meneliti catatan kesehatan lebih dari 280.000 orang berusia 71-88 tahun yang sebelumnya tidak memiliki demensia. Fokus analisis menyempit pada mereka yang berulang tahun tepat sebelum dan sesudah cutoff usia 80 tahun. “Jika mengambil seribu orang yang lahir dalam satu minggu dan seribu orang dari minggu berikutnya, rata-rata tidak ada perbedaan berarti di antara mereka,” ujar Geldsetzer.

Penurunan Demensia

Dalam pemantauan tujuh tahun, vaksin terbukti menurunkan kasus shingles sebesar 37%, sesuai data uji klinis. Lebih mencolok lagi, penerima vaksin menunjukkan penurunan 20% risiko demensia dibanding yang tidak divaksinasi. “Ini temuan yang sangat mencolok,” kata Geldsetzer. Temuan tersebut bertahan di berbagai metode analisis tambahan.

Para peneliti juga mencatat bahwa lansia yang sudah mengidap demensia menunjukkan perkembangan penyakit yang lebih lambat setelah menerima vaksin. Dari lebih dari 7.000 warga yang sudah mengidap demensia sebelum program dimulai, sekitar separuh meninggal akibat demensia dalam masa studi. Namun, di antara mereka yang menerima vaksin, hanya sekitar 30% yang meninggal karena penyebab tersebut.

Manfaat vaksin tampak lebih kuat pada perempuan, meskipun alasan biologisnya belum sepenuhnya dipahami.

Arah Penelitian Selanjutnya

Para ilmuwan menilai diperlukan uji klinis terkontrol secara acak untuk memastikan hubungan sebab-akibat. Geldsetzer menegaskan bahwa vaksin hidup-attenuated yang digunakan Wales aman dan hanya membutuhkan satu dosis. Ia berharap dukungan pendanaan filantropi dapat mempercepat uji coba tersebut. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya